alexametrics
Jumat, 12 Agustus 2022
Jumat, 12 Agustus 2022

Kisah Riyan Pinasti, Mengubah Ikan Tongkol Jadi Sajian Mewah

Peluang usaha terbuka lebar. Asalkan kreatif dan mau memanfaatkan peluang. Ituilah yang dilakukan Riyan Pinasti Rahajeng. Wanita milenial ini mengubah ikan tongkol dari makanan biasa-biasa saja menjadi luar biasa.

NATHEA CITRA SURI, Mataram

***************************

IKAN tongkol berbau khas itu berubah tampilan. Lebih mewah. Hal itu membuatnya, digandrungi kaula muda dan wisatawan asing.

Di tangan Riyan Pinasti Rahajeng, ikan tongkol itu berubah menjadi produk unik. “Namanya Abon Nipah,” kata wanita yang akrab disapa Pipin itu saat ditemui Lombok Post, kemarin (12/3).

Pipin bercerita, produknya ini penuh dengan history (cerita). Jika biasanya, kebanyakan pengusaha melibatkan karyawan handal dalam memproduksi makanan olahan, beda halnya dengan bisnis yang dilakoni perempuan berhijab tersebut.

Baca Juga :  Upaya Hasan Suyat Menjaga Bahasa Jawa di Malaysia dari Kepunahan

“Saya libatkan nelayan, terutama nelayan-nelayan terdampak gempa 2018 di sekitaran Pantai Nipah, Kabupaten Lombok Utara,” tuturnya.

Jika dilihat, olahan abon milik Pipin memang beda dari produk abon kebanyakan. “Produk abon buatan saya pakai kemasan packing, biar unik dan beda deh,” jelasnya sembari tersenyum.

Selain berbentuk unik dari segi kemasan, olahan hasil ikan yang dihasilkan Pipin pun memiliki nilai jual dan pangsa pasar menengah ke atas. “Alhamdulillah, pasarnya besar banget. Saya gak nyangka, niat membantu nelayan, berbuah manis,” ucapnya.

Kini, olahan abon ikan tongkol bergaya mewah ini menjadi favorit para wisatawan domestik. Maupun mancanegara. Mulai dari China, Dubai, Malaysia, hingga Belanda.

Baca Juga :  Cerita Harmaen Mengelola SMK Ondak Jaya di Kaki Gunung Rinjani

“Kalau skala nasional, ada Jakarta, Surabaya, Mojokerto, Riau, Kalimantan, Malang, dan masih banyak lagi,” kata perempuan 29 tahun tersebut.

Tak hanya peduli pada nelayan di Nipah, masyarakat terdampak gempa di Lombok Utara juga dilibatkannya dalam proses pembuatan abon tongkol. “Ini murni untuk mengembalikan kondisi ekonomi masyarakat dan nelayan, yang sempat terpuruk pascagempa 2018 lalu,” ceritanya.

Dari segi harga, produk abon tongkol miliknya dibanderol mulai dari Rp 25 ribu per bungkus. “Alhamdulillah, untuk urusan omzet. Bisa di atas Rp 10 jutaan,” tutupnya. (*/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/