alexametrics
Jumat, 7 Agustus 2020
Jumat, 7 Agustus 2020

KISAH INSPIRATIF : Perjuangan Yance Tonapa, Pasien RSUD NTB yang Berhasil Sembuh dari Korona

Dukungan Keluarga Sangat Membantu Penyembuhan

Setengah bulan di ruang isolasi bersama virus Korona di tubuhnya, perasaan Yance Tonapa campur aduk. Tapi akhirnya dia bisa bernapas lega. Fase-fase kritis berhasil dilalui. Dukungan orang-orang di sekitarnya sangat membantu proses penyembuhan.

SIRTUPILLAILI, Mataram

YANCE Tonapa, 46 tahun, tidak bisa menyembunyikan rasa cemas kala menyadari dirinya positif Covid-19. Sempat terpikir, mungkin ini akhir dari hidupnya.

”Sepintas muncul (pikiran itu), tapi saya juga punya harapan bahwa Tuhan pasti sembuhkan,” kata Yance, pada Lombok Post.

Yance menjadi pasien positif Covid-19 keempat di NTB. Tanggal 31 Maret, pemprov memastikan, dia dan LJ, 44 tahun, warga Rembiga positif terjangkit virus Korona. Dua kasus itu menjadi yang pertama di wilayah Kota Mataram.

Saat pengumuman, Yance tengah berjuang melawan virus di ruang isolasi RSUD NTB. Dia tidak diberi tahu secara gamblang hasil uji swab. Namun dari tindakan medis, dia menyadari dirinya sudah positif Covid-19. ”Namanya manusiawi agak sedikit cemas, anak dan istri saya pikirkan,” katanya.

Tapi buru-buru dia menghilangkan rasa khawatir itu. Dia tidak mau terpuruk oleh virus yang bersarang di tubuhnya itu. Sebagai pendeta, dia punya keyakinan Tuhan pasti menolong. ”Saya bisa mengelola rasa cemas dengan dukungan istri dan anak saya,” katanya.

Dukungan keluarga, baginya, sangat membantu. Istri dan anak justru selalu memberi semangat. Sehingga dia punya motivasi tinggi untuk sembuh. ”Dukungan keluarga sangat penting dalam hal ini, besar sekali pengaruhnya,” tuturnya.

Selain itu, petugas medis juga selalu memberikannya suntikan semangat. Tidak hanya sekadar memberikan tindakan medis, dokter dan perawat terus memberikan harapan untuk bisa sembuh. ”Mereka berjuang sangat keras membantu kami,” katanya.

Dia paham betapa berat perjuangan tim medis di ruangan itu. Jika pasien masih bisa berkomunikasi dengan keluarga, petugas yang mengenakan alat pelindung diri tidak bisa apa-apa. Mereka harus tetap mengenakan pakaian itu. ”Mereka selalu minta saya tetap semangat dan menanyakan bagaimana kabar,” tuturnya.

Perlakuan ramah itu membuatnya senang. Meski dia menyadari dokter dan perawat berisiko tinggi tertular. Tapi di hadapan Yance, petugas selalu memberi semangat. ”Akhirnya saya bangkit dari kecemasan itu,” ujar pria yang sehari-hari bertugas sebagai pendeta itu.

Selain takdir Tuhan, dukungan keluarga dan tim medis membuatnya bangkit. Dia berusaha menenangkan pikiran dan yakin semua bisa dilalui.  ”Yang penting kita hilangkan rasa takut, stres, dan cemas itu,” sarannya.

Pria kelahiran Samarinda, 1974 ini menjalani perawatan di RSUD NTB dari tanggal 23 Maret sampai 8 April. Setelah dua kali tes negatif Korona, akhirnya dia pulang bertemu keluarga.   

Ketenangan pikiran, kata Yance, juga sangat menentukan. Dengan pikiran yang tenang dan motivasi kuat dari dalam diri, imun akan menjadi lebih bagus. ”Covid-19 bisa disembuhkan jika kita menjaga pikiran agar tidak stres,” katanya.

Setengah bulan berada di ruang isolasi, jauh dari keluarga, tanpa pembesuk bukan perkara mudah dilalui. ”Kadang rasa bosan dan jenuh,” katanya.

Karena itu, dia menghabiskan waktu dengan membaca buku, berdoa, dan olahraga. Ruang isolasi, baginya bukan tempat hukuman, tetapi menjadi tempat untuk lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. ”Bermeditasi dan merenungkan diri di sana,” kata pendeta ini.

Jika kangen sama keluarga, dia tetap bisa berkumunikasi melalui telepon dan WhatsApp. ”Jadi rasa rindu keluarga terobati,” katanya.

Dukungan fasilitas di ruang isolasi juga sangat menentukan. Dia dirawat dengan fasilitas memadai, sehingga tetap merasa nyaman. ”Makanan pun demikian, apa pun yang diberikan saya selalu terima supaya cepat sembuh,” tuturnya.

Demikian juga ketika pulang ke rumahnya di Kekalik, perlakuan tetangga sangat bagus. Tidak ada tindakan diskriminatif. Lingkungan menerima dia dengan terbuka. ”Pak haji tetangga saya sangat baik,” katanya.

Meski berbeda keyakinan, tetangganya sangat senang dia bisa kembali pulang dengan selamat. ”Pak haji dan keluarganya sangat mensuport,” kata Yance.

Penerimaan lingkungan benar-benar membuatnya tenang. ”Covid-19 ini bukan aib, siapa sih yang mau terkena, tidak ada,” katanya.   

Karena itu, dia berharap, ketika ada tetangga yang terkena Covid-19, mereka jangan didiskriminasikan. Justru lingkungan harus memberikan dukungan agar cepat sembuh. ”Berikan kata-kata yang baik, itu sangat membantu,” kata Yance.

Kini Yance masih menjalani masa isolasi di rumahnya. Meski telah sembuh, dia harus tetap isolasi mandiri di rumah dan belum boleh keluar. Semua itu dijalani dengan sabar agar tetap sehat.

Pendeta Yance Tonapa merupakan pendeta GIPB yang bertugas sebagai musyawarah pelayanan (Mupel) Bali–NTB.

Sebelum dinyatakan Covid-19, dia tercatat melakukan perjalanan ke luar daerah.  Tanggal 25 Februari menghadiri kegiatan seminar gereja di Bogor, Jawa Barat. Kemudian 27 Februari kembali ke Lombok  melalui penerbangan Jakarta-Lombok.

Tanggal 6 Maret dia sempat ke Bali dan tanggal 7 Maret kembali ke Mataram. Dia tinggal di Kelurahan Kekalik Jaya, Kecamatan Sekarbela. Selama di Mataram dia sempat menjalani tugas sebagai pendeta.

Tanggal 18 Maret sempat memeriksakan kesehatan ke dokter THT di Kota Mataram. Sampai akhirnya, 23 Maret datang ke IGD RSUP NTB, dengan keluhan demam dan batuk. Suhu tubuhnya kala itu 37 derajat Celcius. Tanggal 31 Maret dinyatakan positif Covid–19. Kini dia sudah sembuh. (r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Novi dan Dinasti Politik Zulkieflimansyah di Sumbawa

Dewi Noviany membantah keluarganya tengah membangun dinasti politik di NTB. Adik kandung  Gubernur NTB H Zulkieflimansyah itu mengklaim proses pencalonannya telah melalui mekanisme penjaringan parpol yang adil.

Partai Berkarya Terbelah, SK Dukungan di NTB Terancam Sia-sia

Goncangan politik hebat terjadi di tengah perburuan Surat Keputusan (SK) partai oleh para Bakal Calon Kepala Daerah (Bacakada). Goncangan itu muncul dari Partai Berkarya. Partai Berkarya versi Muhdi Pr ternyata yang direstui Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

Gak Pakai Masker, PNS Bakal Didenda Rp 200 Ribu

Aturan wajib menggunakan masker diberlakukan di Kota Bima. Pemerintah Kota (Pemkot) Bima menegaskan sanksi bagi pelanggar akan mengikuti aturan yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi (Pemrov) NTB.

Tiga Dokter dan Delapan Perawat RSUD Dompu Diisolasi

Sebanyak 11 orang Tenaga Kesehatan (Nakes) RSUD Dompu yang sempat kontak dengan HM, pasien positif Covid-19 meninggal dunia menjalani isolasi. Masing-masing tiga dokter dan delapan perawat.

Lamaran Ditolak, Dosen di Bima Tikam Pacar Hingga Tewas

Naas menimpa  Intan Mulyati, 25 tahun warga Kelurahan Kumbe, Kecamatan Rasanae Timur, Kota Bima. Dia merenggang nyawa ditangan pacarnya sendiri Arif Satriadi, 31 tahun, yang merupakan seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bima, Rabu (5/8).

Kasus Pengadaan ABBM Poltekes Mataram Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pengadaan alat bantu belajar mengajar (ABBM) Poltekkes Mataram tahun 2016 segera rampung. “Progres cukup bagus. Sebentar lagi naik penyidikan,” kata Kasubdit III Ditreskrimsus Polda NTB Kompol Haris Dinzah, Rabu (5/8).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Viral Pengunjung “Disko” Pendakian Savana Propok Rinjani Ditutup

Pengelola bukit Savana Propok, Pokdarwis Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba menindaklanjuti video joget para pendaki yang viral di media sosial. “Untuk mengevaluasi hal tersebut, kami akan menutup bukit mulai 8 Agustus,”  kata Ketua Pokdarwis Bebidas Chandra Susanto pada Lombok Post, kemarin (4/8).
Enable Notifications.    Ok No thanks