alexametrics
Jumat, 12 Agustus 2022
Jumat, 12 Agustus 2022

KISAH INSPIRATIF : Perjuangan Yance Tonapa, Pasien RSUD NTB yang Berhasil Sembuh dari Korona

Dukungan Keluarga Sangat Membantu Penyembuhan

Setengah bulan di ruang isolasi bersama virus Korona di tubuhnya, perasaan Yance Tonapa campur aduk. Tapi akhirnya dia bisa bernapas lega. Fase-fase kritis berhasil dilalui. Dukungan orang-orang di sekitarnya sangat membantu proses penyembuhan.

SIRTUPILLAILI, Mataram

YANCE Tonapa, 46 tahun, tidak bisa menyembunyikan rasa cemas kala menyadari dirinya positif Covid-19. Sempat terpikir, mungkin ini akhir dari hidupnya.

”Sepintas muncul (pikiran itu), tapi saya juga punya harapan bahwa Tuhan pasti sembuhkan,” kata Yance, pada Lombok Post.

Yance menjadi pasien positif Covid-19 keempat di NTB. Tanggal 31 Maret, pemprov memastikan, dia dan LJ, 44 tahun, warga Rembiga positif terjangkit virus Korona. Dua kasus itu menjadi yang pertama di wilayah Kota Mataram.

Saat pengumuman, Yance tengah berjuang melawan virus di ruang isolasi RSUD NTB. Dia tidak diberi tahu secara gamblang hasil uji swab. Namun dari tindakan medis, dia menyadari dirinya sudah positif Covid-19. ”Namanya manusiawi agak sedikit cemas, anak dan istri saya pikirkan,” katanya.

Tapi buru-buru dia menghilangkan rasa khawatir itu. Dia tidak mau terpuruk oleh virus yang bersarang di tubuhnya itu. Sebagai pendeta, dia punya keyakinan Tuhan pasti menolong. ”Saya bisa mengelola rasa cemas dengan dukungan istri dan anak saya,” katanya.

Dukungan keluarga, baginya, sangat membantu. Istri dan anak justru selalu memberi semangat. Sehingga dia punya motivasi tinggi untuk sembuh. ”Dukungan keluarga sangat penting dalam hal ini, besar sekali pengaruhnya,” tuturnya.

Selain itu, petugas medis juga selalu memberikannya suntikan semangat. Tidak hanya sekadar memberikan tindakan medis, dokter dan perawat terus memberikan harapan untuk bisa sembuh. ”Mereka berjuang sangat keras membantu kami,” katanya.

Dia paham betapa berat perjuangan tim medis di ruangan itu. Jika pasien masih bisa berkomunikasi dengan keluarga, petugas yang mengenakan alat pelindung diri tidak bisa apa-apa. Mereka harus tetap mengenakan pakaian itu. ”Mereka selalu minta saya tetap semangat dan menanyakan bagaimana kabar,” tuturnya.

Baca Juga :  Polisi Tipu Bandar Sabu dengan Pura-pura Belanja Rp 100 Juta

Perlakuan ramah itu membuatnya senang. Meski dia menyadari dokter dan perawat berisiko tinggi tertular. Tapi di hadapan Yance, petugas selalu memberi semangat. ”Akhirnya saya bangkit dari kecemasan itu,” ujar pria yang sehari-hari bertugas sebagai pendeta itu.

Selain takdir Tuhan, dukungan keluarga dan tim medis membuatnya bangkit. Dia berusaha menenangkan pikiran dan yakin semua bisa dilalui.  ”Yang penting kita hilangkan rasa takut, stres, dan cemas itu,” sarannya.

Pria kelahiran Samarinda, 1974 ini menjalani perawatan di RSUD NTB dari tanggal 23 Maret sampai 8 April. Setelah dua kali tes negatif Korona, akhirnya dia pulang bertemu keluarga.   

Ketenangan pikiran, kata Yance, juga sangat menentukan. Dengan pikiran yang tenang dan motivasi kuat dari dalam diri, imun akan menjadi lebih bagus. ”Covid-19 bisa disembuhkan jika kita menjaga pikiran agar tidak stres,” katanya.

Setengah bulan berada di ruang isolasi, jauh dari keluarga, tanpa pembesuk bukan perkara mudah dilalui. ”Kadang rasa bosan dan jenuh,” katanya.

Karena itu, dia menghabiskan waktu dengan membaca buku, berdoa, dan olahraga. Ruang isolasi, baginya bukan tempat hukuman, tetapi menjadi tempat untuk lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. ”Bermeditasi dan merenungkan diri di sana,” kata pendeta ini.

Jika kangen sama keluarga, dia tetap bisa berkumunikasi melalui telepon dan WhatsApp. ”Jadi rasa rindu keluarga terobati,” katanya.

Dukungan fasilitas di ruang isolasi juga sangat menentukan. Dia dirawat dengan fasilitas memadai, sehingga tetap merasa nyaman. ”Makanan pun demikian, apa pun yang diberikan saya selalu terima supaya cepat sembuh,” tuturnya.

Baca Juga :  Jurus Jitu Perajin Mutiara Sekarbela Bertahan saat Pandemi Covid-19

Demikian juga ketika pulang ke rumahnya di Kekalik, perlakuan tetangga sangat bagus. Tidak ada tindakan diskriminatif. Lingkungan menerima dia dengan terbuka. ”Pak haji tetangga saya sangat baik,” katanya.

Meski berbeda keyakinan, tetangganya sangat senang dia bisa kembali pulang dengan selamat. ”Pak haji dan keluarganya sangat mensuport,” kata Yance.

Penerimaan lingkungan benar-benar membuatnya tenang. ”Covid-19 ini bukan aib, siapa sih yang mau terkena, tidak ada,” katanya.   

Karena itu, dia berharap, ketika ada tetangga yang terkena Covid-19, mereka jangan didiskriminasikan. Justru lingkungan harus memberikan dukungan agar cepat sembuh. ”Berikan kata-kata yang baik, itu sangat membantu,” kata Yance.

Kini Yance masih menjalani masa isolasi di rumahnya. Meski telah sembuh, dia harus tetap isolasi mandiri di rumah dan belum boleh keluar. Semua itu dijalani dengan sabar agar tetap sehat.

Pendeta Yance Tonapa merupakan pendeta GIPB yang bertugas sebagai musyawarah pelayanan (Mupel) Bali–NTB.

Sebelum dinyatakan Covid-19, dia tercatat melakukan perjalanan ke luar daerah.  Tanggal 25 Februari menghadiri kegiatan seminar gereja di Bogor, Jawa Barat. Kemudian 27 Februari kembali ke Lombok  melalui penerbangan Jakarta-Lombok.

Tanggal 6 Maret dia sempat ke Bali dan tanggal 7 Maret kembali ke Mataram. Dia tinggal di Kelurahan Kekalik Jaya, Kecamatan Sekarbela. Selama di Mataram dia sempat menjalani tugas sebagai pendeta.

Tanggal 18 Maret sempat memeriksakan kesehatan ke dokter THT di Kota Mataram. Sampai akhirnya, 23 Maret datang ke IGD RSUP NTB, dengan keluhan demam dan batuk. Suhu tubuhnya kala itu 37 derajat Celcius. Tanggal 31 Maret dinyatakan positif Covid–19. Kini dia sudah sembuh. (r6)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/