alexametrics
Senin, 15 Agustus 2022
Senin, 15 Agustus 2022

Nasib Porter Bandara di Tengah Bagasi Pesawat Berbayar dan Tiket Selangit

Beroperasi semenjak September 2011, baru kali ini para porter di Lombok International Airport merasakan musim paceklik. Bisa membawa pulang uang untuk anak istri, kini sungguh teramat sulit. Kebijakan bagasi berbayar yang ditambah harga tiket selangit menjadi musabab.

DEDI SHOPAN SHOPIAN, Lombok Tengah

==================================

HARI sudah sore. Penunjuk waktu berada pada angka 17.06 Wita. Sebentar lagi Magrib. Kamis (14/2) sore yang cerah itu, Lalu Puri masih berdiri masygul di area drop zone Lombok Internasional Airport. Parasnya lesu. Semangatnya hilang.

Masuk shif siang, sudah dari pukul 14.00 Wita, pria asal Desa Tanak Awu tersebut berada di bandara. Nyaris tiga jam berlalu, belum satupun penumpang yang menggunakan jasanya.

Tiap penumpang yang datang dengan cara serupa. Tak bawa barang yang banyak. Paling-paling hanya tas tentengan kecil. Cukup dibawa sendiri. Bahkan, banyak yang hanya bawa diri saja. Hanya membawa tas kecil tempat dompet dan telepon genggam.

Puri menelan ludah. Pahit rasanya. Dan dia tak sendiri. Teman-temannya sesama porter bandara yang masuk shif siang dengannya juga mengalami hal serupa. Memang masih ada waktu. Sebab, tugas mereka baru akan berakhir pada pukul 24.00 Wita. Itu berarti, enam jam lagi.

Tapi, sejumlah teman Puri tak tahan. Mereka mundur teratur. Memilih pulang. Sehingga, dari 21 orang yang masuk shif siang, yang tertinggal hanya empat orang porter saja.

“Sepi sekali. Sampai sekarang, tidak ada satu pun penumpang yang menggunakan jasa kami,” kata Puri pada Lombok Post, yang menemuinya di area drope zone bandara.

Rekannya, Jeman, menimpali hal serupa. “Benar-benar paceklik kita,” katanya.

Jeman, adalah porter senior di LIA. Pria asal Ampenan, Kota Mataram ini telah menjadi porter semenjak bandara masih di Rembiga, Kota Mataram. Pria kelahiran 1965 ini adalah potret porter bandara yang sukses. Dari pekerjaannya itu, seluruh anaknya bisa disekolahkan hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Karena porter senior, Jeman tahu persis. Bahwa, musim paceklik baru terjadi sekarang. Selama dia bekerja di Bandara Selaparang, kondisi begini tak pernah terjadi. Pun begitu, semenjak Bandara di Tanak Awu mulai beroperasi pada September 2011, musim-musim paceklik begini tak pernah terjadi.

“Dalam sehari, banyak di antara kami yang tidak bisa membawa pulang uang untuk anak istri,” kata Jeman. Itu berarti, tidak ada penumpang yang menggunakan jasa mereka.

Baca Juga :  Menelusuri Penyebaran Islam di Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (1)

Karena itu, janga heran kalau sekarang ini wajah-wajah lesu para porter LIA banyak ditemui. Rata-rata tidak bersemangat dan tidak bergairah.

Penurunan pendapatan mulai dirasakan semenjak gempa besar beruntun menimpa Lombok Agustus lalu. Namun, saat itu, rezeki bagi mereka tetap saja ada. Meski tak sebanyak pendapatan waktu normal. Di mana mereka bisa membawa pulang sedikitnya Rp 150 ribu dalam sehari.

Dan puncaknya terjadi pada awal 2019 ini. Semenjak itu, hidup bagi para porter ini begitu pahit. Maskapai berbiaya murah mulai memberlakukan tarif bagasi. Sementara di sisi lain, maskapai juga menaikkan harga tiket.

Alhasil, penumpang memilih berhemat. Tidak membawa barang banyak. Wisatawan yang datang melancong ke Lombok pun tak membeli oleh-oleh. Koper-koper besar yang lazim ditemui di bandara tidak ada lagi. Berganti menjadi koper-koper kecil, dan hanya tas jinjing.

Pelan namun pasti, para porter itu pun lebih banyak menganggur. Penumpang-penumpang yang dihampiri tidak memiliki sesuatu yang bisa ditawarkan kepada mereka.

“Kembalikan seperti semula. Gratiskan bagasi seperti semula,” kata Jeman.

Sebab kata dia, ongkos barang sekarang, jauh lebih besar dibanding ongkos badan. Akibatnya, banyak para penumpang hanya terbang membawa badannya sendiri saja.

Ada 42 Porter

Di LIA saat ini, terdapat 42 orang porter. Mereka bekerja dua shif secara terpisah. Masing-masing shif 21 orang. Mereka tidak saja dari warga Loteng. Tapi dari Lombok Barat dan Kota Mataram.

Shif pertama dimulai usai Salat Subuh, atau sebelum memasuki penerbangan pertama. Saat itu, sudah stand by 21 orang yang sudah memegang trolley. Jumlahnya, ada 500 trolley.

Begitu pukul 14.00 Wita, yang 21 orang porter tadi pulang ke rumahnya masing-masing. Kemudian, digantikan 21 orang porter lagi hingga penerbangan terakhir pukul 24.00 Wita. Begitu seterusnya, setiap hari.

Sedangkan untuk trolleyman, ada 15 orang. Ada yang bertugas di drop zone. Ada juga di areal pengambilan bagasi barang di terminal kedatangan bandara.

Penghasilan para porter memang tidak menentu. Namun, saat kondisi normal, mereka bisa membawa pulang uang antara Rp 100 ribu- Rp 150 ribu per hari. Uang itu diperoleh dari penumpang yang membayar jasa mereka. Ada yang Rp 5 ribu per trolley, ada Rp 10 ribu per trolley, bahkan kalau rezeki nomplok Rp 50 ribu per trolley. Kapasitas per trolley mencapai 250 kilogram.

Baca Juga :  Kekecewaan Mereka karena Audisi Djarum Beasiswa Harus Berhenti Tahun Depan

 Jadi, kalau di rata-rata perbulan, mereka bisa membawa pulang antara Rp 3 juta-Rp 4 juta. Uang sebesar itu tidak dibawa pulang semua. Sebab, para porter harus membayar pajak dan jasa penggunaan trolley. Nilainya Rp 650 ribu per bulan.

Uang itu wajib disetor di koperasi dimana mereka bernaung. Koperasi itu bukan di PT Angkasa Pura I.

Banyak Utang

Lalu bagaimana kalau kondisi sekarang dimana pendapatan tidak pasti? Kalau dirata-ratakan per bulan, Puri mengaku kadang bisa membawa pulang uang Rp 500 ribu. Bahkan teramat sering pendapatannya hanya Rp 200 ribu sebulan. Jumlah yang untuk bayar sewa trolley saja tak cukup.

Kalau sudah begitu, tak ada pilihan. Pembayaran sewa trolley yang Rp 650 ribu sebulan diutang dulu. Saat ini kata Puri, banyak temannya yang sudah menunggak kewajiban itu satu bulan, dua bulan. Bahkan ada yang sudah empat bulan.

“Syukurnya koperasi memaklumi,” kata dia.

Sementara untuk menghidupi keluarga, mereka juga terpaksa berhutang. Baik di tetangga rumah, koperasi desa, hingga bank rontok. “Mau bagaimana lagi,” katanya.

Bagi mereka, yang penting anak-anak mereka tetap melanjutkan pendidikanya. Jangan sampai terputus. Lalu, dapur juga tetap ngepul.

Itu sebabnya, poerter seperti Jeman tak ingin pekerjaan sebagai trolleyman diwarisi anak-anaknya. Bersyukurnya dia, anak-anaknya bisa disekolahkan tinggi. Hingga lulus perguruan tinggi.

Jika kondisi sepi seperti ini bertahan, pelan-pelan, bandara akan ditinggalkan para porter. “Semua terdampak gara-gara itu (bagasi dan tiket mahal,” kata Jeman.

Di sisi lain, dalam tiga hari awal pekan ini, jumlah kargo di bandara domestik maupun internasional memang hanya 66,595 ton. Jauh dari angka normalnya yang biasanya mencapai 100 ton sehari.

Sedangkan, pergerakan pesawat sebanyak 200 kali. Sebanyak 102 kali di antaranya penerbangan kedatangan dan 98 penerbangan keberangkatan. Padahal, normalnya 110 penerbangan per hari.

“Turunnya, jauh sekali,” kata General Affair and Communication PT AP LIA Nyoman Siang.

Kendati demikian, sebagai otoritas bandara, pelayanan dan operasional tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada yang dikurangi. Yang ada ditambah dan dilengkapi. Dengan harapan, para penumpang aman dan nyaman.

Agar kondisi penerbangan kembali normal, Nyoman Siang berharap kegiatan-kegiatan berbau pariwisata kembali diperbanyak di Lombok. Kemudian dibarengi dengan promosi secara besar-besaran. Yang tidak kalah pentingnya evaluasi tarif kargo pesawat. (*/r8)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/