alexametrics
Selasa, 22 September 2020
Selasa, 22 September 2020

Nasib Porter Bandara di Tengah Bagasi Pesawat Berbayar dan Tiket Selangit

Beroperasi semenjak September 2011, baru kali ini para porter di Lombok International Airport merasakan musim paceklik. Bisa membawa pulang uang untuk anak istri, kini sungguh teramat sulit. Kebijakan bagasi berbayar yang ditambah harga tiket selangit menjadi musabab.

DEDI SHOPAN SHOPIAN, Lombok Tengah

==================================

HARI sudah sore. Penunjuk waktu berada pada angka 17.06 Wita. Sebentar lagi Magrib. Kamis (14/2) sore yang cerah itu, Lalu Puri masih berdiri masygul di area drop zone Lombok Internasional Airport. Parasnya lesu. Semangatnya hilang.

Masuk shif siang, sudah dari pukul 14.00 Wita, pria asal Desa Tanak Awu tersebut berada di bandara. Nyaris tiga jam berlalu, belum satupun penumpang yang menggunakan jasanya.

Tiap penumpang yang datang dengan cara serupa. Tak bawa barang yang banyak. Paling-paling hanya tas tentengan kecil. Cukup dibawa sendiri. Bahkan, banyak yang hanya bawa diri saja. Hanya membawa tas kecil tempat dompet dan telepon genggam.

Puri menelan ludah. Pahit rasanya. Dan dia tak sendiri. Teman-temannya sesama porter bandara yang masuk shif siang dengannya juga mengalami hal serupa. Memang masih ada waktu. Sebab, tugas mereka baru akan berakhir pada pukul 24.00 Wita. Itu berarti, enam jam lagi.

Tapi, sejumlah teman Puri tak tahan. Mereka mundur teratur. Memilih pulang. Sehingga, dari 21 orang yang masuk shif siang, yang tertinggal hanya empat orang porter saja.

“Sepi sekali. Sampai sekarang, tidak ada satu pun penumpang yang menggunakan jasa kami,” kata Puri pada Lombok Post, yang menemuinya di area drope zone bandara.

Rekannya, Jeman, menimpali hal serupa. “Benar-benar paceklik kita,” katanya.

Jeman, adalah porter senior di LIA. Pria asal Ampenan, Kota Mataram ini telah menjadi porter semenjak bandara masih di Rembiga, Kota Mataram. Pria kelahiran 1965 ini adalah potret porter bandara yang sukses. Dari pekerjaannya itu, seluruh anaknya bisa disekolahkan hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Karena porter senior, Jeman tahu persis. Bahwa, musim paceklik baru terjadi sekarang. Selama dia bekerja di Bandara Selaparang, kondisi begini tak pernah terjadi. Pun begitu, semenjak Bandara di Tanak Awu mulai beroperasi pada September 2011, musim-musim paceklik begini tak pernah terjadi.

“Dalam sehari, banyak di antara kami yang tidak bisa membawa pulang uang untuk anak istri,” kata Jeman. Itu berarti, tidak ada penumpang yang menggunakan jasa mereka.

Karena itu, janga heran kalau sekarang ini wajah-wajah lesu para porter LIA banyak ditemui. Rata-rata tidak bersemangat dan tidak bergairah.

Penurunan pendapatan mulai dirasakan semenjak gempa besar beruntun menimpa Lombok Agustus lalu. Namun, saat itu, rezeki bagi mereka tetap saja ada. Meski tak sebanyak pendapatan waktu normal. Di mana mereka bisa membawa pulang sedikitnya Rp 150 ribu dalam sehari.

Dan puncaknya terjadi pada awal 2019 ini. Semenjak itu, hidup bagi para porter ini begitu pahit. Maskapai berbiaya murah mulai memberlakukan tarif bagasi. Sementara di sisi lain, maskapai juga menaikkan harga tiket.

Alhasil, penumpang memilih berhemat. Tidak membawa barang banyak. Wisatawan yang datang melancong ke Lombok pun tak membeli oleh-oleh. Koper-koper besar yang lazim ditemui di bandara tidak ada lagi. Berganti menjadi koper-koper kecil, dan hanya tas jinjing.

Pelan namun pasti, para porter itu pun lebih banyak menganggur. Penumpang-penumpang yang dihampiri tidak memiliki sesuatu yang bisa ditawarkan kepada mereka.

“Kembalikan seperti semula. Gratiskan bagasi seperti semula,” kata Jeman.

Sebab kata dia, ongkos barang sekarang, jauh lebih besar dibanding ongkos badan. Akibatnya, banyak para penumpang hanya terbang membawa badannya sendiri saja.

Ada 42 Porter

Di LIA saat ini, terdapat 42 orang porter. Mereka bekerja dua shif secara terpisah. Masing-masing shif 21 orang. Mereka tidak saja dari warga Loteng. Tapi dari Lombok Barat dan Kota Mataram.

Shif pertama dimulai usai Salat Subuh, atau sebelum memasuki penerbangan pertama. Saat itu, sudah stand by 21 orang yang sudah memegang trolley. Jumlahnya, ada 500 trolley.

Begitu pukul 14.00 Wita, yang 21 orang porter tadi pulang ke rumahnya masing-masing. Kemudian, digantikan 21 orang porter lagi hingga penerbangan terakhir pukul 24.00 Wita. Begitu seterusnya, setiap hari.

Sedangkan untuk trolleyman, ada 15 orang. Ada yang bertugas di drop zone. Ada juga di areal pengambilan bagasi barang di terminal kedatangan bandara.

Penghasilan para porter memang tidak menentu. Namun, saat kondisi normal, mereka bisa membawa pulang uang antara Rp 100 ribu- Rp 150 ribu per hari. Uang itu diperoleh dari penumpang yang membayar jasa mereka. Ada yang Rp 5 ribu per trolley, ada Rp 10 ribu per trolley, bahkan kalau rezeki nomplok Rp 50 ribu per trolley. Kapasitas per trolley mencapai 250 kilogram.

 Jadi, kalau di rata-rata perbulan, mereka bisa membawa pulang antara Rp 3 juta-Rp 4 juta. Uang sebesar itu tidak dibawa pulang semua. Sebab, para porter harus membayar pajak dan jasa penggunaan trolley. Nilainya Rp 650 ribu per bulan.

Uang itu wajib disetor di koperasi dimana mereka bernaung. Koperasi itu bukan di PT Angkasa Pura I.

Banyak Utang

Lalu bagaimana kalau kondisi sekarang dimana pendapatan tidak pasti? Kalau dirata-ratakan per bulan, Puri mengaku kadang bisa membawa pulang uang Rp 500 ribu. Bahkan teramat sering pendapatannya hanya Rp 200 ribu sebulan. Jumlah yang untuk bayar sewa trolley saja tak cukup.

Kalau sudah begitu, tak ada pilihan. Pembayaran sewa trolley yang Rp 650 ribu sebulan diutang dulu. Saat ini kata Puri, banyak temannya yang sudah menunggak kewajiban itu satu bulan, dua bulan. Bahkan ada yang sudah empat bulan.

“Syukurnya koperasi memaklumi,” kata dia.

Sementara untuk menghidupi keluarga, mereka juga terpaksa berhutang. Baik di tetangga rumah, koperasi desa, hingga bank rontok. “Mau bagaimana lagi,” katanya.

Bagi mereka, yang penting anak-anak mereka tetap melanjutkan pendidikanya. Jangan sampai terputus. Lalu, dapur juga tetap ngepul.

Itu sebabnya, poerter seperti Jeman tak ingin pekerjaan sebagai trolleyman diwarisi anak-anaknya. Bersyukurnya dia, anak-anaknya bisa disekolahkan tinggi. Hingga lulus perguruan tinggi.

Jika kondisi sepi seperti ini bertahan, pelan-pelan, bandara akan ditinggalkan para porter. “Semua terdampak gara-gara itu (bagasi dan tiket mahal,” kata Jeman.

Di sisi lain, dalam tiga hari awal pekan ini, jumlah kargo di bandara domestik maupun internasional memang hanya 66,595 ton. Jauh dari angka normalnya yang biasanya mencapai 100 ton sehari.

Sedangkan, pergerakan pesawat sebanyak 200 kali. Sebanyak 102 kali di antaranya penerbangan kedatangan dan 98 penerbangan keberangkatan. Padahal, normalnya 110 penerbangan per hari.

“Turunnya, jauh sekali,” kata General Affair and Communication PT AP LIA Nyoman Siang.

Kendati demikian, sebagai otoritas bandara, pelayanan dan operasional tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada yang dikurangi. Yang ada ditambah dan dilengkapi. Dengan harapan, para penumpang aman dan nyaman.

Agar kondisi penerbangan kembali normal, Nyoman Siang berharap kegiatan-kegiatan berbau pariwisata kembali diperbanyak di Lombok. Kemudian dibarengi dengan promosi secara besar-besaran. Yang tidak kalah pentingnya evaluasi tarif kargo pesawat. (*/r8)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Tagih Piutang Rp 3 Miliar PT GNE Libatkan Kejaksaan

Sekitar Rp 3 miliar uang PT Gerbang NTB Emas (GNE) tercatat sebagai piutang. Sejumlah perusahaan masih berhutang pada perusahaan daerah milik Pemprov NTB ini. “Makanya kita akan menggunakan JPN (jaksa pengacara negara) untuk menagih,” kata Direktur PT GNE Samsul Hadi, Jumat (18/9).

VIDEO : Buron ke Kalimantan, Pulang, Saen Diringkus di Lingsar

Pelarian anggota komplotan pencurian dengan pemberatan berinisial SR alias Saen, berakhir. Pria 31 tahun, asal Dusun Bagek Nunggal, Desa Peteluan Indah, Lingsar, Lombok Barat, itu dibekuk setelah setahun buron. ”Pelaku pulang karena rindu keluarga,” kata Kapolsek Lingsar AKP Dewi Komalasari, Sabtu (19/9).

WCD, Warga Lobar Bebaskan Pantai Cemara dari Sampah

Ribuan orang di Lombok Barat (Lobar) memperingati World Cleanup Day (WCD), akhir pekan kemarin. Kegiatan ini dipusatkan di Pantai Cemara. ”Semuanya terlibat. OPD, kecamatan, desa, bahkan masyarakat juga ramai ikut,” kata Bupati Lobar H Fauzan Khalid, Sabtu (19/9).

Bawaslu Dorong Pendaftaran Sengketa Online

Penetapan pasangan calon Pilkada 2020 akan dilakukan pada lusa mendatang (23/9) di Kantor KPU masing-masing daerah. Bawaslu kini mulai mempersiapkan diri menghadapi sengketa pencalonan. Sebab diperkirakan, bapaslon yang dinyatakan tidak memenuhi syarat akan membawa kekecewaannya ke Bawaslu.

Ada Apa dengan Pulau-pulau Kecil?

SAYA diundang oleh Ketua LPPM Unram, Dr. Muhammad Ali dalam diskusi untuk merevisi Rencana Induk Penelitian Universitas Mataram lima tahun ke depan. Salah satu bagian yang cukup alot diskusinya adalah ketika mendiskusikan fokus penelitian di Unram. Mengapa harus ada fokus?

Penyuntikan Vaksin Korona Untuk Warga Dimulai Januari 2021

Pemerintah telah bekerja sama dengan Uni Emirat Arab dan mendapatkan vaksin untuk Covid-19 sebanyak 20 juta dosis. Rencananya, vaksin mulai didistribusikan pada Desember.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Film MOHAN, Ini Dia Official Teasernya

Rumah Produksi Warna tengah merampungkan pembuatan film MOHAN. Film bergenre drama remaja tersebut tengah memasuki fase shooting. Namun demikian sebagai bocoran Warna telah meluncurkan cuplikan Official Teaser nya.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.
Enable Notifications    Ok No thanks