alexametrics
Jumat, 25 September 2020
Jumat, 25 September 2020

Sosok Baiq Aminatuh Shalihah, Pesepak Bola Wanita NTB, Pilar Timnas Senior

Butuh setengah abad bagi NTB untuk menempatkan pesepakbola di Tim Nasional Senior. Sejarah Junaedi Abdillah tahun 1970-an, kini baru bisa diulang oleh Bq Aminatuh Shalihah. Aminatuh kini dipanggil memperkuat Tim Garuda Putri untuk kualifikasi Olimpiade Tokyo tahun 2020. Siapa Aminatuh Shalihah?

SUHARLI, Mataram

===============

DARI jauh terlihat seperti laki-laki. Rambutnya pendek. Berpenampilan casual, cara berpakaiannya juga macam laki-laki kebanyakan.

Tapi, jika mendekat, akan ketahuan, yang sedang asyik menjugling bola di tengah GOR 17 Desember itu adalah seorang perempuan. Dialah Baiq Aminatuh Shalihah.

                Sore Rabu, 13 Februari itu, Ami, begitu Aminatuh karib disapa, sebetulnya sedang datang silaturahmi. Dia baru datang dari Malang, Jawa Timur. Pulang kampung. Lalu dia memutuskan ke GOR sorenya. Bertemu kawan-kawan karibnya yang sedang berlatih. Ada banyak atlet-atlet ternama NTB yang jadi temannya.

                Sudah lama Ami tak bertemu kawan-kawan seperjuangannya sesama atlet itu. Semenjak dia resmi bergabung dengan klub futsal profesional Banteng Muda Malang, Oktober 2018. Karena itu, dia datang untuk melepas kangen.

                Di GOR, dia juga bertemu dengan manajer Neo Angel Jaelan. Sebelum direkrut Banteng Muda Malang, Ami adalah pemain Neo Angel. Satu-satunya klub sepak bola wanita di Bumi Gora. Sambil ngobrol-ngobrol itu, Ami kemudian sesekali menjugling bola. Mendribling si kulit bundar.

                Siapa Ami? Dia adalah striker Tim Nasional (Timnas) sepak bola wanita. Perempuan kelahiran 16 Juli 1991 itu resmi dipanggil PSSI pekan lalu. Dia menjadi penyerang inti di Tim Garuda yang hendak memburu tiket Olimpiade Tokyo tahun depan.

”Saya sangat bersyukur bisa masuk di timnas,” kata perempuan yang akrab  disapa Ami Jambong ini.

Sepak bola adalah hidupnya. Bukan Cuma sekarang. Tapi, semenjak dulu saat dia masih duduk di bangku kelas satu Madrasah Ibtidaiyah. Perempuan asal Desa Loyok, Sikur, Lombok Timur ini mengenal sepak bola memang dari sekolah.

Dia senang mengejar bola yang ditendang bersama rekan-rekannya yang dominan laki-laki. ”Kalau ada orang bermain sepak bola di halaman sekolah saya selalu ingin ikut,” katanya.

Makanya, hasratnya bermain sepak bola sangat tinggi. Menggebu-gebu. Tiap sore dia selalu ikut teman-teman yang sekali lagi, semuanya laki-laki, bermain bola. ”Mainnya di sawah,” jelasnya. Biasanya habis musim panen. Saat sawah sedang kosong tak lagi ditanami.

Lalu, pada 2004, ada pertandingan sepak bola antarsekolah. Tak dinyana, Ami terpilih mewakili sekolahnya, MI Nahdlatul Wathan. Bukan pemain inti. Tapi sebagai pemain pengganti. Maklum, meski terpilih pelatih, Ami yang seorang perempuan membuat pelatihnya juga ragu-ragu.

Namun, pada saat babak semifinal, striker inti mengalami cedera. Ami pun menjadi tumpuan tim sekolahnya. Dia pun masuk ke lapangan. Saat itu, posisi timnya tertinggal dua gol.

Pertama kali masuk, Ami diremehkan. Banyak yang mencibir. Lagian, mana ada perempuan main bola. Di desa pula. Tapi begitulah. Jadilah Ami satu-satunya pemain wanita di antara para pemain laki-laki yang ambil bagian dalam kejuaraan itu.

Dan di situlah, pesepakbola yang kini berusia 29 tahun itu membuktikan tajinya. Kontribusinya cukup memuaskan. Di luar dugaan, dengan kecepatannya Ami menciptakan satu gol dan assist. Sehingga, timnya mampu menyamakan kedudukan.

”Tetapi kita kalah di adu penalti,” kenangnya. Toh dia tetap senang. Karena sudah berhasil membungkam orang-orang yang sempat meragukannya.

Di keluarga, Ami adalah anak ketiga. Dari ibu Hj Bq Zaitun dan ayah HL M Hasyim (almarhum), dia memiliki dua saudara perempuan dan satu laki-laki. ”Saudara perempuan saya semua feminin,” katanya.

Saat masuk SMP, ibu dan ayahnya sempat melarangnya bermain sepak bola. Tetapi, Ami pagah dengan pendiriannya. Dia disuruh berhenti bermain sepak bola. Sampai-sampai kakaknya disuruh menghasut saya supaya tidak lagi bermain bola.

Tetapi, bermain sepak bola adalah hobi. Tiap sore, Ami bermain sepak bola dengan teman-temannya yang laki-laki semua. Dan kalau sudah bermain sepak bola, Ami suka lupa waktu. Pulangnya selalu menjelang salat Magrib.

Kondisi itu membuat orang tuanya semakin marah. Terkadang dipukuli ayahnya. ”Kalau telat pulang selalu dipukulin,” kenangnya.

Tapi, kerasnya orang tua memarahinya juga tak mempan. Ami selalu tetap latihan. Pulang juga waktu jelang Magrib. ”Saking bosannya mengajari saya,  lama-kelamaan orang tuanya mengerti,” kata dia.

Ami diizinkan bermain sepak bola. Dengan catatan jangan pulang menjelang Magrib. Karena harus belajar mengaji.

Ujian Datang

Lalu ujian datang. Itu terjadi saat Ami kelas 2 SMP. Sang ayah sakit. Dia tidak tahu penyebab penyakit ayahnya. Beberapa kali harus dibawa ke rumah sakit. Hingga akhirnya, ayahnya dipanggil Yang Kuasa. ”Saya sedih,” kenangnya.

Dia selalu mengingat orang tuanya. Bagaimana ayahnya sabar menghadapinya. “Saya bandel dan kurang mau mendengarkan perintahnya. Padahal saya, disuruh berhenti bermain sepak bola, tetapi saya melawan perintahnya,” cerita Ami.

Ayahnya tidak pernah menitipkan wasiat melarangnya bermain sepak bola menjelang meninggal. Tapi dia tahu, ayahnya menginginkan dirinya menjadi wanita pada umumnya. Yang feminim dan kutu buku. “Tetapi, karakter saya seperti ini. Tomboy,” kata dia.

Karena itu, dia memutuskan  tidak lagi bermain bola. Sejak saat itu dirinya fokus belajar dan membantu ibunya berjualan.

Namun, pada saat duduk di bangku SMA, Ami tergoda bermain basket. Pada 2009, dia bahkan memperkuat tim sekolahnya SMAN 1 Sikur di ajang Honda DBL West Nusa Tenggara Series.

Kontibusi Ami sangat positif kala itu. Kecepatan Ami mendribel bola menjadi kekuatan timnya. Dia membawa timnya juara. ”Saya juga masuk di first team dan dikirim ke Surabaya waktu itu,” ceritanya.

Berbeda dengan sang ayah, ibunya tidak pernah melarangnya melakukan kegiatan apapun. Termasuk bermain sepak bola. ”Saya dipersilakan mengerjakan apapun. Yang terpenting, kegiatan yang dilakukan positif dan tidak membahayakan,” ujarnya.

Sejak ibunya membebaskannya memilih, hasrat bermain sepak bola Ami membuncah. Lalu dia memulai dengan main futsal. Itu tahun 2010. ”Saat itu sedang booming futsal,” ujarnya.

Dia lalu bergabung dengan tim futsal wanita Rinjani Lombok Timur. Dari situ dia mendapatkan pembinaan bermain sepak bola yang cukup bagus. ”Saya semakin semangat bermain sepak bola,” ujarnya. Saat itu, dia masih duduk di bangku SMA kelas XII.

Menjelang mengikuti Ujian Akhir Nasional (UAN), Ami pun sibuk berlatih. Kala itu, timnya sedang mempersiapkan diri mengikuti kejuaraan nasional futsal wanita di Jogjakarta. ”Saya sampai lupa belajar. Fokus latihan. Pagi dan sore,” terangnya.

Berangkat ke Jogja menambah spiritnya. Dia menyumbangkan empat gol di kejuaraan itu. Tetapi gagal membawa tim Rinjani juara.

Lulus SMA, Ami langsung mendaftar di IKIP Mataram. Mengambil jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan.

Pun di bangku kuliah. Dia tidak pernah lupa dengan sepak bola. Kali ini, dia bergabung dengan tim futsal wanita IKIP Mataram. Salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa di kampusnya.

Saking asyiknya mengejar karir sepak bolanya, Ami tak kunjung menyelesaikan kuliahnya. Sampai hari ini, dia berstatus sebagai mahasiswa IKIP Mataram. “Sekarang sudah terhitung semester 16,” akunya.

Di sisi lain, tim futsal wanita IKIP Mataram tak juga berkembang. Karena, kompetisi yang minim. Satu per satu pemain berpindah ke tim Neo Angel. Tim tersebut membina sepak bola usia dini di Kota Mataram.

Diajak rekannya, Ami pun tak menolak. Dengan senang hati dia menerima tawaran bergabung pula ke tim Neo Angel.

Inilah jalan untuk Ami. Di Neo Angel, dia bertemu banyak teman baru. Pada 2018, tim tersebut intens menjalankan program latihan. Karena, ingin mengikuti kejuaraan internasional di Bali.

”Sepekan berlatih empat kali. Latihan fisik dan passing terus diasah,” ujarnya.

Tapi, di satu sisi, pelatih tidak bisa mengukur kemampuan tim. Karena, tidak  ada lawan uji coba. Sebab, tidak ada tim wanita selain Neo Angel di NTB.

Sehingga, pelatih memutuskan menjalankan uji coba dengan tim putra. Bagi Ami itu hal biasa. Karena, sejak kecil sudah terbiasa bermain sepak bola dengna pria. “Teman yang lain sempat bimbang. Karena, takut benturan dengan pria,” ujarnya.

Tim bermain hati-hati. Selama lima kali uji coba, pada Agustus 2018, tim Neo Angel terbang ke Bali. Mereka mengikuti kejuaraan internasional yang diikuti lima negara. Yakni, Indonesia, Malaysia, Australia, Singapura, dan Filipina. Total ada 32 tim dari lima negara yang ikut andil di kejuaraan tersebut.

”Kita gagal meraih juara,”  ujarnya.

Kita hanya menjadi tim ter fair play pada kejuaraan itu. Ami berhasil mencetak dua gol pada pertandingan itu.

Namun, secara keseluruhan, penampilan Ami di kejuaraan itu cukup gemilang. Dari situ, Ami dipantau kemampuannya. Dan sudah terdata masuk dalam seleksi pemain.

Selain itu, penampilan Ami juga membuat salah satu Manajemen Banteng Muda Malang kepincut merekrutnya untuk bermain di Profesional Futsal Leageu (PFL). Dia pun resmi menjadi pemain Banteng Muda Malang Oktober 2018. Sejak saat itu, kemampuan Ami semakin terasah.

”Di Banteng Muda saya mendapatkan program mengolah bola yang benar. Saya semakin percaya diri bermain sepak bola,” ujarnya.

Saat memperkuat tim Banteng Muda, Ami di posisi flank, semacam pemain sayap kalau di sepak bola. Dia berhasil mencetak lima gol sejak mulai bertanding Desember 2018. PFL 2019 saat ini suda separo musim.

Namun, dia tidak bisa melanjutkan bermain dengan Banteng Muda karena mendapatkan panggilan menjadi pemain timnas sepak bola wanita tahun ini. Timnas mempersiapkan diri menghadapi kualifikasi olimpiade.

”Saya berharap, ini menjad awal karir saya bermain di level profesional. Mudahan bisa mengangkat prestasi sepak bola wanita Indonesia,” tutupnya. (*/r8)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

LPPOM MUI NTB Target Sertifikasi Halal 125 Usaha Rampung Tahun Ini

”Rinciannya, dari Dinas Perindustrian NTB dan pusat sebanyak 75 usaha, serta Dinas Koperasi Lombok Barat sebanyak 50 usaha,” katanya, kepada Lombok Post, Rabu (23/9/2020).

Solusi BDR Daring, Sekolah Diminta Maksimalkan Peran Guru BK

Jika terkendala akses dan jaringan internet, layanan dilaksanakan dengan pola guru kunjung atau home visit. ”Di sanalah mereka akan bertemu dengan siswa, orang tua, keluarga. Apa permasalahan yang dihadapi, kemudiann dibantu memecahkan masalah,” pungkas Sugeng.

Subsidi Kuota Internet, Daerah Blank Spot di NTB Pertanyakan Manfaat

”Kalau jangkauan towernya luas, tentu ini sangat menunjang sekaligus mendukung pemanfaatan kebijakan pusat,” tandasnya.

Anugerah Pewarta Astra 2020 Kembali Digelar

Astra mengajak setiap anak bangsa untuk menebar inspirasi dengan mengikuti Anugerah Pewarta Astra 2020. ”Di NTB sendiri kami membina warga Kelurahan Dasan Cermen yang merupakan wilayah Kampung Berseri Astra. Harapannya, masyarakat dapat menggambarkan dukungan Astra untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih optimis demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa,” ujar Gusti Ayu.

Pilwali Mataram, HARUM satu SALAM dua MUDA tiga BARU empat

Pengundian nomor Pasangan Calon (Paslon) Wali Kota Mataram dan Wakil Wali Kota Mataram berjalan di bawah protokol Pandemi Covid-19 dengan ketat, pukul 19.00 wita-selesai semalam.

Catat, Kampanye Undang Massa Bisa Dipidana

Seluruh calon kepala daerah yang akan berlaga dalam Pilkada serentak di tujuh kabupaten/kota di NTB telah ditetapkan, kemarin (23/6). Hari ini, para calon kepala daerah tersebut akan melakukan pengundian nomor urut. Kampanye akan dimulai pada 26 September. Seluruh kandidat harus hati-hati berkampanye di masa pandemi. Sebab, mengundang massa dalam kampanye bisa dikenakan pidana.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Tertular Korona di Luar Daerah, Bupati Lotim Sempat Drop

Bupati Lombok Timur HM Sukiman Azmy menjadi kepala daerah pertama di NTB yang positif terinfeksi Covid-19. Pemimpin Gumi Patuh Karya dua periode tersebut menjalani uji usap (swab) pada Senin (21/9) di RSUD dr Raden Soedjono Selong.
Enable Notifications    Ok No thanks