alexametrics
Senin, 15 Agustus 2022
Senin, 15 Agustus 2022

Dokter Resna Hermawati, Konsultan Hematologi Pertama di NTB

Sebelum dr Resna menjadi spesialis patologi klinik dan konsultan hematologi, pelayanan medis instalasi laboratorium klinik RSUD Selong berjalan seadanya. Kini, laboratorium klinik yang dinakhodainya melaju pesat. Bahkan berpotensi besar menjadi yang termaju di NTB.

—-

Ruang kerja dr Resna Hermawati, Sp.PK (K) nampak dipenuhi tumpukan berkas laporan. Di atas meja, terdapat sebuah mikroskop. Ia menyebut alat itu sebagai senjata utama yang tak boleh jauh darinya. “Di rumah juga ada. Kalau tidak tuntas di sini, pekerjaan saya bawa ke rumah,” kata dr Resna di tengah wawancara dengan penulis koran ini.

Dokter Resna saat ini merupakan kepala Instalasi Laboratorium Klinik RSUD dr Raden Soedjono Selong. Dokter yang dari gaya bicaranya lues dan periang ini menduduki posisi itu sejak memiliki gelar spesialis patologi klinik pada 2013 lalu.

Sudah tentu dan seharusnya begitu. Karena sebuah instalasi laboratorium klinik harus dinakhodai dokter yang memiliki kemampuan dan pengetahuan lebih di bidang tersebut.

Baca Juga :  Kisah Warga Lombok Menjalani Isolasi di Kapal Pesiar (2) : Rutinitas Membosankan, Isi Waktu dengan Video Call

Sedikit ke belakang, dr Resna datang ke Lotim pada tahun 2003. Saat itu, sebagai dokter muda lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, perempuan kelahiran Jakarta, 1977 itu memilih NTB saat mengikuti program pegawai tidak tetap (PTT) Kemenkes.

Pada 2005 ia lulus sebagai pegawai negeri dan ditugaskan di RSUD Selong. Empat tahun kemudian, pada 2009 ia menempuh pendidikan spesialis di Universitas Airlangga Surabaya. Spesialisasi yang diambil patologi klinik. Saat itu instalasi laboratorium patologi klinik RSUD Selong masih dikepalai oleh dokter umum.

Dalam dunia medis, patologi berperan untuk membantu dokter spesialis lainnya untuk mendiagnosis suatu penyakit. Dengan nada bicara yang sedikit ditekan, dr Resna menerangkan, saat itu kualitas pelayanan kesehatan di bidang patologi masih sangat kurang. Untuk mendiagnosis pasien penyakit leukimia, talasemia, dan penyakit kelainan darah lainnya saja, mereka harus dirujuk ke rumah sakit Provinsi. Kalau tidak bisa di RSUD NTB, ujung-ujungnya ke rumah sakit Sanglah, Bali.

Baca Juga :  Potret Pendidikan di Lereng Gunung Tambora (2-habis)

“Itu baru untuk mendiagnosis saja. Hanya untuk mengetahui apakah kita terkena leukimia, talasemia, dan lainnya. Sayang sekali. Dari sanalah saya berpikir, saya harus sekolah lagi,” tuturnya.

Dalam hal ini, ia menjelaskan, kemampuan rumah sakit membeli alat yang dibutuhkan laboratorium klinik bukanlah persoalaan sebenarnya. Tapi yang dibutuhkan adalah sumber daya yang mampu menggunakan alat tersebut.  Atau dalam istilah barat sering disebut ‘Man behind the gun’. Itulah mengapa, dengan yakin ia memilih spesialisasi patologi klinik.

Ibu dua anak ini merupakan dokter keenam yang namanya dibuntuti gelar Sp.PK di NTB. Untuk diketahui, di tahun 2009, NTB belum memiliki satu pun spesialis patologi klinik. Itulah mengapa, ia juga sangat termotivasi untuk segera dapat menyelesaikan pendidikan secepat mungkin. Pendidikan spesialisasi itu pun ia tempuh dalam waktu tercepat. Tiga setengah tahun. (fatih/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/