alexametrics
Jumat, 12 Agustus 2022
Jumat, 12 Agustus 2022

Butuh Komitmen Bersama, Libur Dua Pekan Agar Korona Tidak Semakin Menyebar

Pemerintah memutuskan untuk meliburkan kegiatan anak didik di sekolah. Imbas dari status siaga darurat bencana non alam. Tapi ini bukan libur untuk pelesiran. Ada tanggung jawab sosial di dalamnya. Menjaga agar tidak terjadi penularan virus Korona secara masif.

WAHIDI AKBAR SIRINAWA, Mataram

********************************

Minggu malam, 15 Maret, pasca penetapan status darurat bencana non alam dan rapat pimpinan di Kantor Gubernur NTB, sebagian masyarakat bersikap reaktif. Mendatangi sejumlah pusat perbelanjaan. Salah satunya di Ruby.

Mereka membeli sejumlah barang. Dalam jumlah banyak. ”Yang paling banyak diborong itu mie instan. Setelah kita keluarkan dan taruh di rak, itu selalu habis. Langsung kosong,” kata Manajer Personalia Ruby Made Suryani, kemarin.

Ruby memang selalu ramai pembeli. Keramaian biasa terjadi di awal bulan. Setelah gajian. Tapi keramaian yang sama justru terjadi di pertengahan bulan ini. Bahkan hingga terjadi antrean cukup panjang, saat melakukan pembayaran ke kasir.

Sampai sekarang, belum ada kebijakan dari pemerintah untuk membatasi pembelian dalam jumlah tertentu. Namun ada hal yang jauh lebih penting, selain mengenai pembatasan pembelian. Yakni social distancing.

Social distancing atau jaga jarak sosial berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang meliburkan kegiatan pendidikan. Selama 14 hari.

Menurut Psikologi Pujiarohman, social distancing merupakan kondisi di mana setiap orang, secara pribadi, memiliki kesadaran untuk membuat jarak sosial dengan orang lain. Jarak ini tentunya berfungsi untuk mengurangi penyebaran virus.

Baca Juga :  Stok Vaksin Covid 19 di Dikes Mataram Menipis

”Dengan membuat jarak secara sosial, ini mengurangi risiko penyakit yang saat ini sedang mewabah,” kata Puji.

Social distancing membutuhkan kesadaran setiap pribadi. Bagaimana untuk menumbuhkan tanggung jawab dan kepedulian atas kesehatan diri sendiri dan orang lain. Kata Puji, sebagai pribadi kita perlu bertanggungjawab terhadap kesehatan diri sendiri. Setiap orang tentu tak ingin dirinya tertular virus Korona.

Kemudian, ini berkaitan juga dengan kesehatan orang lain. Misalnya, lanjut Puji, ketika terindikasi terkena sakit, perlu memunculkan kesadaran untuk tidak menularkannya ke orang lain. Bila perlu, melakukan karantina secara pribadi.

”Kurangi kegiatan sosial. Untuk diri sendiri dan orang lain. Ini tanggung jawab kita bersama,” tuturnya.

Sebagai makhluk sosial, social distancing tentu menjadi tantangan baru. Budaya ketimuran membuat masyarakat lebih senang untuk berkumpul. Menghabiskan waktu dengan teman sebaya, sahabat, atau keluarga di tempat-tempat terbuka.

Kemudian muncullah virus Korona. Yang penyebarannya sungguh di luar dugaan. Adanya social distancing bisa menjadi penghambat.

Secara sederhana, social distancing membuat seseorang harus membatasi interaksi sosial mereka. Ini menjadi tindakan non medis untuk memperlambat atau bahkan menghentikan penyebaran virus Korona.

Lalu kenapa harus libur 14 hari? Secara medis, ketika ada seseorang mengalami kontak dengan apapun yang bisa menginfeksinya, setidaknya harus menunggu selama 14 hari. Untuk melihat gejala yang timbul akibat virus korona. Seperti sakit tenggorokan, demam, sakit kepala, hingga batuk-batuk.

Baca Juga :  Bersiaplah, Wabah Korona Bakal Picu Krisis Ekonomi Parah

Karena itu, libur selama 14 hari ini untuk memotong rantai penularan. Tentunya dengan syarat mereka menggunakan waktu liburnya dengan berdiam diri di rumah. Bukan jalan-jalan ke mal atau pusat keramaian lainnya.

Kabid Pelayanan Medis RSUD Kota Mataram dr. Emirald Isfihan mengatakan, dari aspek kesehatan, dengan libur 14 hari, pelajar meminimalisasi kontak dengan siswa lainnya. ”Sekolah bisa jadi sumber penularan yang cepat, seandainya di sana ada yang terinfeksi. Jadi ini langkah yang tepat,” kata Emirald.

Dengan membatasi diri dari orang lain, kemungkinan untuk tertular akan semakin kecil. Namun, ini harus pula diimbangi dengan melakukan pola hidup bersih dan sehat. Termasuk mengkonsumsi makanan bergizi hingga istirahat yang cukup.

”Aktivitas fisik dan olahraga bisa tetap dilakukan,” tuturnya.

Yang kemudian perlu diperhatikan, kata Emirald, social distancing ini harus dijalankan dengan benar. Tidak disalahgunakan untuk pergi rekreasi ke tempat umum. Atau mengadakan acara yang melibatkan banyak orang.

”Prinsipnya mengurangi kontak dengan orang. Terutama kerumunan orang banyak. Kita tidak pernah tahu apakah orang tersebut terinfeksi atau tidak. Jadi harus ada upaya meminimalisasi risiko,” kata Emirald. (*/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/