alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Sepenggal Kisah Dibalik Baju Adat Sasak yang Dikenakan Jokowi

Presiden Joko Widodo tak henti menghadirkan kejutan. Salah satunya saat Sidang Bersama DPD-DPR, pekan lalu. Di tengah pejabat yang berjas, Jokowi justru mengenakan busana adat Sasak. Memukau mereka yang hadir. Tak ada yang menyangka. Termasuk Ina Pariska, sosok di balik pakaian yang dikenakan Jokowi. 

WAHIDI AKBAR SIRINAWA, MATARAM

===============================

”Tunas nurga, tiang matur. Ini pakaian dari Sasak, Nusa Tenggara Barat. Dari Bumi Sasak. Berembe kabar pelungguhde, senamian,” kata Presiden Joko Widodo.

Sapaan berbahasa Sasak itu, dilontarkan sebelum melakukan pidato kenegaraan dalam Sidang Bersama DPD-DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jumat (16/8). Diucapkan setelah Jokowi menyampaikan salam dan menyapa seluruh pejabat yang hadir.

Dengan Bahasa Sasak, Jokowi menyampaikan apa yang dia kenakan saat itu merupakan pakaian adat suku Sasak. Menjawab rasa penasaran banyak orang atas busana adat yang dipakainya.

Busana adat Sasak yang dikenakan Jokowi tidak hadir dengan tiba-tiba. Bermula pada 9 Agustus lalu. Ina Pariska yang tengah menyetir mobilnya mendapat pesan di aplikasi WhatsAppnya. Isinya foto-foto baju adat miliknya. Pemberitahuan bahwa Presiden Jokowi hendak memakai baju adat tersebut untuk acara kenegaraan.

Kala itu, Ina tidak langsung membalas pesan. Meski si pengirim telah mengenalkan diri dari Sekretariat Presiden. Dia baru percaya saat pemilik nomor meneleponnya. Hingga tiga kali, telepon baru diangkatnya.

”Saya kaget. Masih tidak percaya. Langsung dibilang kalau Bapak (Jokowi) mau pakai baju itu,” kata Ina, Sabtu (17/8).

Hari itu juga, Ina diminta untuk terbang menuju Jakarta. Menuju Istana Bogor. Bertemu Jokowi. Permintaan itu sempat membuat Ina bimbang. Tak yakin bisa mengejar penerbangan di hari yang sama.

”Ternyata ada pesawat malam. Padahal biasanya tidak ada. Saya antara percaya dan tidak percaya,” tutur dia.

Ina langsung berkemas usai mendapat telepon dari Sekretariat Presiden. Mengajak serta ibunda tercinta. Juga membawa sekitar 40 setel pakaian adat Sasak. Sesuai pesanan istana.

Proses fitting dimulai pada 10 Agustus. Tepat pukul 10 WIB. Di Istana Bogor. Ina sempat shock karena bisa bertemu langsung dengan orang nomor satu di Indonesia. Meski begitu, dia berusaha profesional.

Bersama ibunda, Ina mengukur badan Presiden agar baju yang dikenakan pas. Tidak kebesaran. Juga kekecilan. Proses berjalan lancar. Cuma menghabiskan waktu satu jam.

”Bapak (Jokowi) sendiri yang memilih warna gold. Termasuk pilihan warna untuk songketnya (leang, Red),” ungkap dia.

Kala proses fitting, Ina sebenarnya ingin langsung mencoba kain yang dibawanya. Tapi, Jokowi menyerahkan pilihan tersebut kepada Ina. ”Pak Jokowi bilang ‘sudah saya percaya sama ibu. Ibu yang lebih mengerti, lebih tahu’,” katanya mengulang ucapan Jokowi. Ucapan Jokowi membuat Ina bangga karena dipercaya. ”Seperti tidak ingin mempersulit juga,” tambah dia.

Kata Ina, mulanya baju adat Sasak hendak digunakan untuk peringatan detik-detik proklamasi, 17 Agustus. Tapi ada perubahan rencana. Baju tersebut bakal dipakai saat pidato kenegaraan di Kompleks Parlemen, Senayan, pada 16 Agustus.

Praktis, hanya tersedia waktu sekitar lima hari. Ina diminta untuk kembali lagi ke Jakarta, satu hari sebelum acara, yakni di 15 Agustus. Waktu yang mepet membuat Ina bergerak cepat. Apalagi Jokowi meminta baju tersebut dijahit ulang. Sesuai dengan ukuran badannya.

Baju adat milik Jokowi pun bisa diselesaikan Ina bersama tim pada 14 Agustus. Dia lalu melaporkannya kepada Sekretariat Presiden. Ternyata hasilnya belum memuaskan. Kain slewoq, lapisan dari kain leang, yang berada di bagian bawah, tak disetujui Jokowi.

”Waktu itu warnanya merah. Terus diminta ganti. Mintanya warna yang senada dengan baju, gold dan hitam,” ucapnya.

Ina sempat khawatir tak bisa menyanggupi permintaan tersebut. Apalagi waktunya sangat mepet dengan keberangkatannya ke Jakarta. Tapi, dengan usahanya, kemudahan datang. Malam hari, Ina mendapat kain yang warnanya sesuai dengan permintaan  Jokowi.

”Kita hunting (kain) lagi. Ke sana sini. Tanya-tanya pengrajin tenun. Mungkin itu rezeki saya ya, malamnya itu diantarkan kain. Persis dengan keinginan Bapak,” terang Ina.

Jokowi nampaknya hendak memberikan kejutan dalam sidang bersama DPD-DPR. Kata Ina, tak banyak orang yang tahu rencana Jokowi yang akan menggunakan busana adat Sasak. Ketika tiba di Gedung Parlemen, proses ganti baju dilakukan di satu ruangan khusus yang telah disiapkan. Dilakukan selama 10 menit saja.

Setelah proses itu, Ina juga menjelaskan makna dibalik baju adat. Misalnya kain slewoq yang menjulur ke bawah. Agar selalu mengingatkan manusia bahwa mereka akan kembali ke tanah.

Adapun sapuk, ikat kepala, melambangkan penyerahan diri ke Allah SWT. Simbol itu terlihat pada huruf Lam Jalalah. Terdiri dari huruf alif, dua lam, dan ha, dalam huruf Hijaiyah.

”Dari sana Pak Jokowi terlihat senang. Begitu ke luar dari ruangan, auranya benar-benar kelihatan,” ungkapnya.

Hati Ina semakin berbunga-bunga. Setelah baju selesai terpasang, Jokowi mengucapkan rasa terima kasihnya langsung kepada Ina. ”Itu benar-benar speechles rasanya,” kata Ina berbinar.

Menurut dia, baju yang dipakai Jokowi mampu memukau semua orang di Gedung Parlemen. Terkesan simpel. Disesuaikan dengan kepribadian Jokowi. Warna yang dipilihnya juga tidak terlalu ramai. Hanya tiga. Emas, hitam, dan cokelat.

Meski simpel, Jokowi terlihat gagah. Ditambah lagi dengan selepan, senjata tajam, yang diselipkan di kain leang. Di depan dada Presiden.

”Kita surprise dan bangga. Pakaian adat Sasak, dipakai Jokowi di acara kenegaraan,” ucap dia.

Baju adat Sasak memang menarik perhatian banyak orang. Ina mengatakan, setelah sidang usai, Jokowi dikerubuti pejabat lain. Diminta untuk foto bersama. Ina juga didatangi Arzeti Bilbina. Yang terpukau dengan kain leang yang dikenakan Jokowi.

”Rasanya seperti mimpi. Itu baju kita buatkan juga untuk Ibu (Iriana). Ibu mintanya baju lambung. Warnanya senada dengan baju Bapak,” pungkas Ina. (*/r3)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.
Enable Notifications    Ok No thanks