alexametrics
Jumat, 7 Agustus 2020
Jumat, 7 Agustus 2020

Kisah Warga Lombok Menjalani Isolasi di Kapal Pesiar (1) : Dapat Pelayanan Bintang Lima

Pandemi virus Korona membuat Dewa Putu Yudiantara terpisah belasan ribu kilometer dengan keluarga di Lombok. Ia harus menjalani isolasi di Symphony of the Seas. Kapal pesiar terbesar di dunia. Berikut kisahnya.

 

WAHIDI AKBAR SIRINAWA, Mataram

 

Tatapan mata Yudi menyapu laut lepas di perairan Miami, Florida, Amerika Serikat (AS). Tak ada hal menarik yang tertangkap matanya. Hanya birunya air laut dan langit yang terlihat dari balkon kamarnya. Diselingi dengan arak-arakan awan yang bergerak pelan ditiup angin.

Kemarin, 20 April, merupakan hari ke-23 Yudi menjalani karantina di dalam kamar. Pria yang bernama lengkap Dewa Putu Yudiantara ini tak bisa ke mana-mana. Setelah pemerintah Amerika Serikat melarang seluruh kru kapal untuk turun. Terutama mereka yang berlabuh di Miami.

”Disuruh isolasi di kamar saja,” kata Yudi via pesan WhatsApp, kemarin.

Pandemi virus Korona yang melanda Amerika membuat Yudi harus menjalani hari-harinya dari dalam kamar. Di sebuah kapal mewah bernama Symphony of the Seas. Kapal dengan panjang sekitar 352 meter. Tiga kali lebih panjang dari lapangan sepak bola. Dan, lima kali dari ukuran kapal legendaris Titanic.

Kapal ini membawa sekitar 2.200 kru. Dari jumlah tersebut, lebih dari 10 persen berasal dari Indonesia, yakni 251 orang.

Aturan pemerintah AS sangat ketat. Bukan saja tidak boleh meninggalkan kapal. Untuk sekadar keluar dari kamar pun sangat dilarang. Meski Yudi menyebut kondisinya sehat. Tidak pernah merasakan sakit ringan selama diisolasi.

”Ada CCTV sama sekuriti yang jaga di luar untuk memastikan semua kru aman di dalam kamar,” katanya.

Yudi mengatakan, sebelum keluar larangan dari pemerintah AS, seluruh penumpang kapal pesiar sudah lebih turun turun. Beberapa kru pun demikian. Terutama mereka yang sudah menyelesaikan masa kontraknya.

”Ada dua orang dari Lombok, tinggal di Lombok Timur sama Ampenan, itu sudah pulang sebelum wabah Korona parah,” tutur pria yang sebelumnya bekerja sebagai Bar Leader di Hotel Golden Palace ini.

Minggu, 29 Maret, menjadi hari pertama Yudi menjalani isolasi di Symphony of the Seas. Pria 30 tahun ini tak menyangka wabah Korona berdampak luas. Sampai membuat ia tertahan di kapal. Tak bisa langsung pulang menemui keluarganya.

Beberapa minggu sebelum itu, masih di Bulan Maret, Yudi sebenarnya sudah mendapat informasi mengenai virus Korona. Tapi ia mencoba untuk tidak terlalu menghiraukannya. Agar tidak stres dan menghindari pekerjaannya berantakan.

”Gak nyangka. Saya kira cuma virus-virus biasa di Cina. Tapi akhirnya malah jadi masalah besar di seluruh dunia,” imbuhnya.

Symphony of the Seas merupakan kapal pesiar pertama yang menjadi tempatnya bekerja. Ia mencoba mengadu nasib sebagai asisten waiter untuk Restaurant Department. Yudi mulai berlayar pada 16 November 2019. Satu bulan sebelum virus Korona mencuat di Wuhan, Cina.

”Berangkat dari Lombok 15 November. Dari Lombok ke Bali, terus terbang ke Doha lanjut ke Miami. Tanggal 16 (November) sampai, langsung kerja,” jelas Yudi.

Kapal dengan tinggi badan 72,5 meter ini menjual paket wisata selama tujuh hari. Berlayar dari Miami menuju Saint Marteen, Cozumel di Meksiko. Kemudian dilanjutkan ke Saint Thomas dan pulau privat Cococay Bahamas. Seluruhnya berada di perairan karibia.

”Kalau dihitung, total saya sudah lima bulan di kapal ini,” ujarnya.

Isolasi di kamar membuat Yudi bosan. Tapi tak ada lagi yang bisa dilakukannya. Meski begitu, ia bersyukur perusahaan tempatnya bekerja menjamin seluruh hidup kru kapal selama menjalani isolasi.

Ia mendapat semua fasilitas, yang sebelumnya hanya bisa diperoleh tamu kapal. Mulai dari kamar, makan, wahana bermain, tempat hiburan hingga akses internet gratis.

Di kondisi pelayaran normal, kru kapal menempati kamar dengan fasilitas seadanya. Hanya ada satu lemari dengan ranjang susun. Kamar ini ditempati dua kru kapal.

Tipe kamar yang ditempati untuk isolasinya sangat jauh berbeda. Fasilitasnya serupa kamar hotel bintang lima. Ranjang empuk, sofa, televisi besar, kulkas, sampai balkon yang menghadap laut untuk bersantai. Luasnya sekitar 3×8 meter persegi.

Harganya juga tak main-main. Mencapai 1.300 dolar amerika untuk satu kali pelayaran. Nilainya bahkan bisa lebih tinggi di momen tahun baru dan natal.

Begitu juga untuk makanannya. Diberikan tiga kali sehari. Ditambah dengan air mineral empat botol, makanan, dan minuman ringan. Semuanya diberikan setiap hari. Diantarkan kru kapal yang menjadi relawan. Ke setiap kamar.

”Lengkap makanannya. Dari starter, maincourse, sampai dessert,” ungkap Yudi.

Kondisi kesehatan kru yang menjalani isolasi, juga diperhatikan perusahaan. Ada petugas khusus yang mengecek suhu tubuh kru kapal. ”Bahkan gaji dikasih sampai April ini, walaupun dalam masa isolasi. Tapi gak tahu untuk Mei, dikasih atau gak,” katanya terkekeh.

Meski berstatus kru kapal, ia bersyukur pelayanan dan fasilitas dari perusahaan sama seperti yang diberikan kepada tamu. Selalu ada hikmah di balik peristiwa yang dijalaninya, kata Yudi. Hanya saja, ia tak tahu harus sampai kapan menahan rindu untuk keluarganya yang berada di Lombok. (bersambung/r3)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Novi dan Dinasti Politik Zulkieflimansyah di Sumbawa

Dewi Noviany membantah keluarganya tengah membangun dinasti politik di NTB. Adik kandung  Gubernur NTB H Zulkieflimansyah itu mengklaim proses pencalonannya telah melalui mekanisme penjaringan parpol yang adil.

Partai Berkarya Terbelah, SK Dukungan di NTB Terancam Sia-sia

Goncangan politik hebat terjadi di tengah perburuan Surat Keputusan (SK) partai oleh para Bakal Calon Kepala Daerah (Bacakada). Goncangan itu muncul dari Partai Berkarya. Partai Berkarya versi Muhdi Pr ternyata yang direstui Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

Gak Pakai Masker, PNS Bakal Didenda Rp 200 Ribu

Aturan wajib menggunakan masker diberlakukan di Kota Bima. Pemerintah Kota (Pemkot) Bima menegaskan sanksi bagi pelanggar akan mengikuti aturan yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi (Pemrov) NTB.

Tiga Dokter dan Delapan Perawat RSUD Dompu Diisolasi

Sebanyak 11 orang Tenaga Kesehatan (Nakes) RSUD Dompu yang sempat kontak dengan HM, pasien positif Covid-19 meninggal dunia menjalani isolasi. Masing-masing tiga dokter dan delapan perawat.

Lamaran Ditolak, Dosen di Bima Tikam Pacar Hingga Tewas

Naas menimpa  Intan Mulyati, 25 tahun warga Kelurahan Kumbe, Kecamatan Rasanae Timur, Kota Bima. Dia merenggang nyawa ditangan pacarnya sendiri Arif Satriadi, 31 tahun, yang merupakan seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bima, Rabu (5/8).

Kasus Pengadaan ABBM Poltekes Mataram Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pengadaan alat bantu belajar mengajar (ABBM) Poltekkes Mataram tahun 2016 segera rampung. “Progres cukup bagus. Sebentar lagi naik penyidikan,” kata Kasubdit III Ditreskrimsus Polda NTB Kompol Haris Dinzah, Rabu (5/8).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Viral Pengunjung “Disko” Pendakian Savana Propok Rinjani Ditutup

Pengelola bukit Savana Propok, Pokdarwis Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba menindaklanjuti video joget para pendaki yang viral di media sosial. “Untuk mengevaluasi hal tersebut, kami akan menutup bukit mulai 8 Agustus,”  kata Ketua Pokdarwis Bebidas Chandra Susanto pada Lombok Post, kemarin (4/8).
Enable Notifications.    Ok No thanks