alexametrics
Sabtu, 20 Agustus 2022
Sabtu, 20 Agustus 2022

Kisah Warga Lombok Menjalani Isolasi di Kapal Pesiar (1) : Dapat Pelayanan Bintang Lima

Pandemi virus Korona membuat Dewa Putu Yudiantara terpisah belasan ribu kilometer dengan keluarga di Lombok. Ia harus menjalani isolasi di Symphony of the Seas. Kapal pesiar terbesar di dunia. Berikut kisahnya.

 

WAHIDI AKBAR SIRINAWA, Mataram

 

Tatapan mata Yudi menyapu laut lepas di perairan Miami, Florida, Amerika Serikat (AS). Tak ada hal menarik yang tertangkap matanya. Hanya birunya air laut dan langit yang terlihat dari balkon kamarnya. Diselingi dengan arak-arakan awan yang bergerak pelan ditiup angin.

Kemarin, 20 April, merupakan hari ke-23 Yudi menjalani karantina di dalam kamar. Pria yang bernama lengkap Dewa Putu Yudiantara ini tak bisa ke mana-mana. Setelah pemerintah Amerika Serikat melarang seluruh kru kapal untuk turun. Terutama mereka yang berlabuh di Miami.

”Disuruh isolasi di kamar saja,” kata Yudi via pesan WhatsApp, kemarin.

Pandemi virus Korona yang melanda Amerika membuat Yudi harus menjalani hari-harinya dari dalam kamar. Di sebuah kapal mewah bernama Symphony of the Seas. Kapal dengan panjang sekitar 352 meter. Tiga kali lebih panjang dari lapangan sepak bola. Dan, lima kali dari ukuran kapal legendaris Titanic.

Kapal ini membawa sekitar 2.200 kru. Dari jumlah tersebut, lebih dari 10 persen berasal dari Indonesia, yakni 251 orang.

Aturan pemerintah AS sangat ketat. Bukan saja tidak boleh meninggalkan kapal. Untuk sekadar keluar dari kamar pun sangat dilarang. Meski Yudi menyebut kondisinya sehat. Tidak pernah merasakan sakit ringan selama diisolasi.

”Ada CCTV sama sekuriti yang jaga di luar untuk memastikan semua kru aman di dalam kamar,” katanya.

Yudi mengatakan, sebelum keluar larangan dari pemerintah AS, seluruh penumpang kapal pesiar sudah lebih turun turun. Beberapa kru pun demikian. Terutama mereka yang sudah menyelesaikan masa kontraknya.

Baca Juga :  Kisah Riyan Pinasti, Mengubah Ikan Tongkol Jadi Sajian Mewah

”Ada dua orang dari Lombok, tinggal di Lombok Timur sama Ampenan, itu sudah pulang sebelum wabah Korona parah,” tutur pria yang sebelumnya bekerja sebagai Bar Leader di Hotel Golden Palace ini.

Minggu, 29 Maret, menjadi hari pertama Yudi menjalani isolasi di Symphony of the Seas. Pria 30 tahun ini tak menyangka wabah Korona berdampak luas. Sampai membuat ia tertahan di kapal. Tak bisa langsung pulang menemui keluarganya.

Beberapa minggu sebelum itu, masih di Bulan Maret, Yudi sebenarnya sudah mendapat informasi mengenai virus Korona. Tapi ia mencoba untuk tidak terlalu menghiraukannya. Agar tidak stres dan menghindari pekerjaannya berantakan.

”Gak nyangka. Saya kira cuma virus-virus biasa di Cina. Tapi akhirnya malah jadi masalah besar di seluruh dunia,” imbuhnya.

Symphony of the Seas merupakan kapal pesiar pertama yang menjadi tempatnya bekerja. Ia mencoba mengadu nasib sebagai asisten waiter untuk Restaurant Department. Yudi mulai berlayar pada 16 November 2019. Satu bulan sebelum virus Korona mencuat di Wuhan, Cina.

”Berangkat dari Lombok 15 November. Dari Lombok ke Bali, terus terbang ke Doha lanjut ke Miami. Tanggal 16 (November) sampai, langsung kerja,” jelas Yudi.

Kapal dengan tinggi badan 72,5 meter ini menjual paket wisata selama tujuh hari. Berlayar dari Miami menuju Saint Marteen, Cozumel di Meksiko. Kemudian dilanjutkan ke Saint Thomas dan pulau privat Cococay Bahamas. Seluruhnya berada di perairan karibia.

”Kalau dihitung, total saya sudah lima bulan di kapal ini,” ujarnya.

Isolasi di kamar membuat Yudi bosan. Tapi tak ada lagi yang bisa dilakukannya. Meski begitu, ia bersyukur perusahaan tempatnya bekerja menjamin seluruh hidup kru kapal selama menjalani isolasi.

Baca Juga :  Roah, Nyongkolan, Resepsi Tunda Dulu, Ini Imbauan Kapolri

Ia mendapat semua fasilitas, yang sebelumnya hanya bisa diperoleh tamu kapal. Mulai dari kamar, makan, wahana bermain, tempat hiburan hingga akses internet gratis.

Di kondisi pelayaran normal, kru kapal menempati kamar dengan fasilitas seadanya. Hanya ada satu lemari dengan ranjang susun. Kamar ini ditempati dua kru kapal.

Tipe kamar yang ditempati untuk isolasinya sangat jauh berbeda. Fasilitasnya serupa kamar hotel bintang lima. Ranjang empuk, sofa, televisi besar, kulkas, sampai balkon yang menghadap laut untuk bersantai. Luasnya sekitar 3×8 meter persegi.

Harganya juga tak main-main. Mencapai 1.300 dolar amerika untuk satu kali pelayaran. Nilainya bahkan bisa lebih tinggi di momen tahun baru dan natal.

Begitu juga untuk makanannya. Diberikan tiga kali sehari. Ditambah dengan air mineral empat botol, makanan, dan minuman ringan. Semuanya diberikan setiap hari. Diantarkan kru kapal yang menjadi relawan. Ke setiap kamar.

”Lengkap makanannya. Dari starter, maincourse, sampai dessert,” ungkap Yudi.

Kondisi kesehatan kru yang menjalani isolasi, juga diperhatikan perusahaan. Ada petugas khusus yang mengecek suhu tubuh kru kapal. ”Bahkan gaji dikasih sampai April ini, walaupun dalam masa isolasi. Tapi gak tahu untuk Mei, dikasih atau gak,” katanya terkekeh.

Meski berstatus kru kapal, ia bersyukur pelayanan dan fasilitas dari perusahaan sama seperti yang diberikan kepada tamu. Selalu ada hikmah di balik peristiwa yang dijalaninya, kata Yudi. Hanya saja, ia tak tahu harus sampai kapan menahan rindu untuk keluarganya yang berada di Lombok. (bersambung/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/