alexametrics
Kamis, 6 Agustus 2020
Kamis, 6 Agustus 2020

Kisah Warga Lombok Menjalani Isolasi di Kapal Pesiar (2) : Rutinitas Membosankan, Isi Waktu dengan Video Call

Yang paling berat adalah menahan rindu. Juga menjaga agar pikiran tetap waras, selama menjalani hari-hari membosankan saat isolasi.

 

WAHIDI AKBAR SIRINAWA, Mataram

 

Meski tinggal di kamar dengan fasilitas lengkap di kapal pesiar, yang sedang dijalani Dewa Putu Yudiantara bukan dalam rangka pelesiran. Ia terdampar. Mendadak menjalani isolasi, atas perintah pemerintah Amerika Serikat, akibat pandemi virus Korona.

”Ada kabar yang saya dengar, bakalan dicharterkan pesawat untuk kru Indonesia,” kata Yudi, sapaan karibnya, mengenai peluang kepulangannya ke Indonesia.

Realisasi kabar itu yang sekarang dinanti Yudi. Sudah genap tiga minggu ia menjalani isolasi di kapal pesiar. Di deck 9, kapal Symphony of the Seas.

Rutinitas membosankan dijalaninya selama 24 hari terakhir. Setelah bangun tidur, Yudi melakukan olahraga ringan. Untuk menjaga kondisi tubuhnya. Kemudian lanjut dengan sarapan yang diantarkan relawan dari kru kapal Symphony of the Seas.

Beranjak siang, aktivitasnya dilanjutkan dengan menonton televisi. Bosan di dalam kamar, Yudi berpindah ke balkon yang menghadap laut. Nongkrong berjam-jam untuk merokok, sambil sesekali mengontak keluarga di Lombok.

”Makan, tidur, mandi, nongkrong di balkon, bersih-bersih kamar pakai oxivir sanitizer. Begitu terus setiap hari,” katanya terkekeh.

Komunikasi dengan keluarga menjadi alternatif Yudi. Untuk semangat dan menghibur dirinya selama menjalani isolasi. Apalagi jika mengetahui kabar orang tua, anak, dan istrinya dalam kondisi sehat di rumah.

Sebelum pandemi Korona melanda seluruh dunia, aktivitas komunikasi dengan istri dan anaknya sangat terbatas. Hanya rutin dilakukan setiap pekan sekali. Di hari Minggu. Itu juga harus berbayar dengan paket internet. Harganya lima dolar Amerika Serikat, hanya untuk 60 menit.

Setelah menjalani isolasi, perusahaan kemudian menggratiskan internet untuk seluruh kru. Kondisi tersebut disyukuri Yudi. Artinya, ia bisa lebih sering berkomunikasi dengan keluarga. Melihat wajah lucu anaknya lewat video call.

”Lebih sering. Apalagi gak ada kerjaan begini kan,” tutur pria 30 tahun ini.

Meski membosankan, dari informasi yang diperolehnya di internet, cara memutus mata rantai penyebaran virus korona adalah dengan melakukan physical dan social distancing. Salah satu caranya tentu dengan mengisolasi diri.

Dengan begitu, kata Yudi, kru Symphony of the Seas justru tetap merasa aman. Menjalani isolasi agar mencegah meluasnya penyebaran virus Korona.

Apalagi perusahaan tetap memperhatikan kebutuhan mereka. Walaupun tak semuanya gratis. Seperti rokok, bir, maupun minuman beralkohol lainnya. ”Kita tinggal telepon saja, nanti dibawakan ke kamar. Yang berbayar, nanti dipotong di sea pass kita,” jelas Yudi.

Terlepas dari semua kenyamanan yang diberikan, ayah satu anak ini tetap berharap bisa segera pulang. Tapi, lagi-lagi ia tak bisa memastikan kapan keinginannya bisa terwujud. ”Belum berani jawab pastinya kapan. Tergantung izin dari Amerika. Jadi sekarang cuma nunggu saja,” katanya.

Hal yang sama dilakukan Ni Made Sri Purwanti. Istri dari Yudi. Dia kini menunggu kabar baik terkait dengan kepulangan suaminya. ”Sedih pasti. Apalagi perginya sudah lama, dari tahun lalu,” kata perempuan yang karib disapa Ade ini.

Yang membuat kesedihannya berlipat adalah pandemi Korona. Sehingga membuat suaminya harus menjalani isolasi dari dalam kamar di Symphony of the Seas.

Kekhawatiran Ade ditujukan untuk kondisi mental Yudi. Dia bisa membayangkan bagaimana beratnya menjalani karantina. Berdiam diri di dalam kamar. Tidak bisa melakukan aktivitas lain, misalnya mengelilingi kapal Symphony of the Seas, untuk mengusir penat.

”Di sana karantina sudah berminggu-minggu, kepikiran juga ke psikisnya,” ujarnya.

Karena itu, setiap melakukan komunikasi dengan Yudi, Ade selalu memberi semangat. Meminta suaminya untuk terus berpikir positif dan berdoa. Agar pandemi Korona berakhir dan mereka bisa kembali berkumpul.

”Berdoa, itu yang paling penting. Saya kasih tahu juga untuk cari kegiatan yang positif, mengisi waktu, supaya tidak bosan dan stres,” kata Ade.

Untuk urusan rindu kepada suami, Ade pandai mengaturnya. Tapi tidak dengan Dyla, anak mereka berdua. Hingga dua minggu pertama, buah hati Ade dan Yudi, selalu menanyakan keadaan ayahnya.

Setiap ditanya, Ade selalu memberi pengertian, kalau ayahnya sedang bekerja. Di Amerika. ”Anaknya cuma bilang, kalau ajiknya (panggilan kepada Yudi), kerja jauh supaya bisa beliin Dyla mainan. Terenyuh juga dengarnya,” ungkapnya.

”Tapi kita bersyukur, perusahaan kasih wifi gratis, jadi bisa video call setiap saat. Sebagai obat rindu, media Dyla ketemu dengan ajiknya,” tandas Ade. (*/r3-HABIS)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Gak Pakai Masker, PNS Bakal Didenda Rp 200 Ribu

Aturan wajib menggunakan masker diberlakukan di Kota Bima. Pemerintah Kota (Pemkot) Bima menegaskan sanksi bagi pelanggar akan mengikuti aturan yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi (Pemrov) NTB.

Tiga Dokter dan Delapan Perawat RSUD Dompu Diisolasi

Sebanyak 11 orang Tenaga Kesehatan (Nakes) RSUD Dompu yang sempat kontak dengan HM, pasien positif Covid-19 meninggal dunia menjalani isolasi. Masing-masing tiga dokter dan delapan perawat.

Lamaran Ditolak, Dosen di Bima Tikam Pacar Hingga Tewas

Naas menimpa  Intan Mulyati, 25 tahun warga Kelurahan Kumbe, Kecamatan Rasanae Timur, Kota Bima. Dia merenggang nyawa ditangan pacarnya sendiri Arif Satriadi, 31 tahun, yang merupakan seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bima, Rabu (5/8).

Kasus Pengadaan ABBM Poltekes Mataram Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pengadaan alat bantu belajar mengajar (ABBM) Poltekkes Mataram tahun 2016 segera rampung. “Progres cukup bagus. Sebentar lagi naik penyidikan,” kata Kasubdit III Ditreskrimsus Polda NTB Kompol Haris Dinzah, Rabu (5/8).

Peredaran Gelap Tramadol di Gomong Mataram, Lima Orang Ditangkap

Tim Satnarkoba Polresta Mataram menggerebek rumah pengedar obat-obatan daftar G di Gomong, Mataram, Rabu (5/8). Sebanyak lima orang ditangkap. ”Dua pembeli, satu perempuan sebagai  penyedia, dan dua penjual,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson usai penggerebekan.

Masuk Destinasi Wisata Terpopuler Asia 2020, Lombok Siap Mendunia

”Kalau masuk di ranking dunia artinya kita adalah destinasi yang memang layak untuk dikunjungi,” kata Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) NTB Awanadi Aswinabawa, Rabu (5/8/2020).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Viral Pengunjung “Disko” Pendakian Savana Propok Rinjani Ditutup

Pengelola bukit Savana Propok, Pokdarwis Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba menindaklanjuti video joget para pendaki yang viral di media sosial. “Untuk mengevaluasi hal tersebut, kami akan menutup bukit mulai 8 Agustus,”  kata Ketua Pokdarwis Bebidas Chandra Susanto pada Lombok Post, kemarin (4/8).
Enable Notifications.    Ok No thanks