alexametrics
Senin, 15 Agustus 2022
Senin, 15 Agustus 2022

Suherman, Tunatera Inspiratif dari Kalijaga, Aikmel

Berbekal keahlian memijat, Suherman menghidupi keluarga, ibu, dan empat anak yatim di rumahnya. Seorang diri, ia memenuhi kebutuhan tujuh orang dalam rumah kecilnya yang berdinding pagar.

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

============================

DALAM kehidupan ini, selain maut dan jodoh, rezeki juga merupakan satu hal yang misteri. Suherman mempercayai kebesaran Allah SWT yang maha mengatur rezeki manusia. Hal itu ia yakini sejak pertama kali menyadari kekurangan yang dimilikinya.

Malam itu, di sebuah rumah berdinding pagar, istri Suherman Bq Mahyani menunggu kedatangan sang Suami. Sementara anaknya Harwani bermain di halaman rumah yang kecil. Usianya tujuh tahun. Kata ibunya, sebentar lagi ia akan masuk sekolah dasar.

Si kecil Har, nama panggilan Harwani lahir dengan kekurangan yang sama seperti ayahnya. Tunanetra. “Har anak kedua saya. Anak pertama saya normal. Tapi meninggal dunia,” kata Mahyani sembari menerka-nerka apakah suara langkah kaki dari luar pagar rumah adalah milik suaminya.

Har yang tak bisa melihat sudah menghapal dengan baik kondisi rumahnya. Ia tak lagi harus dipandu sang ibu. Mahyani mengatakan, Suherman juga sudah mandiri. Mandi, berpakaian, dan melakukan hal-hal pribadi sudah bisa ia lakukan sendiri. Begitu juga jika berangkat ke sekitar rumah.

Tapi tak jarang Suherman pulang dengan dahi atau kaki yang lebam akibat kejedot dinding atau tersandung batu di jalan. Mahyani menghadapkan wajahnya ke tanah untuk menyembunyikan raut sedih mengingat suaminya tercinta.

Suherman adalah segalanya bagi Mahyani, Harwani, ibunya Sahrum, dan empat anak yatim yang ditampung. Kata Mahyani, ke empat anak yatim tersebut merupakan anak dari saudara-saudara Sahrum. Semuanya, harus ditanggung Suherman seorang diri.

Delapan orang dalam satu keluarga tinggal di satu rumah. Dengan satu tulang punggung yang adalah tunatera. Suherman. Rumah berukuran sekitar 7×5 meter itu disekat menjadi dua bagian. Per bagian memiliki dua kamar. Di bagian pertama tinggal Sahrum dan empat anak yatim. Di bagian kedua tinggal Suherman dengan istri dan seorang puteri.

“Kalau ditanya cukup, Alhmadulillah selalu ada saja rezeki kami untuk melanjutkan hidup,” terang Mahyani dengan rasa penuh syukur.

Baca Juga :  Hairimawan, Kaling Gegutu Barat yang Jago Bikin Ayam Geprek

Tapi Mahyani tak menggelengkan kepala ketika ditanya mengenai kekurangan. Delapan orang dengan penghasilan seorang tukang pijat. Saat itu, sosok Suherman yang penulis Koran ini tunggu-tunggu seperti cahaya yang dinanti-nanti di malam yang gelap. Kata Mahyani, bisa jadi ada Suherman sedang memijit orang.

Pijat dalam bahasa Sasak disebut berorah. Namun orang Kalijaga menyebutnya beperut. Saat membahas bahasa itu, akhirnya Suherman yang dinanti-nanti datang. Ia mengenakan sarung dan koko berwarna hijau lumut. Mahyani memberitahukannya tentang kedatangan seorang tamu. Ia pun segera mengganti pakaian untuk bersiap melakukan pekerjaan.

Penulis Koran ini yang tadinya ingin datang melakukan wawancara akhirnya tergoda untuk mencoba pijatannya. Baju pun dibuka. Dalam proses memijat itulah Suherman bercerita. Tapi pertanyaan dari penulis Koran ini tak bisa beruntun. Karena seringkali fokus hilang sebab betapa nikmat rasa tangan Suherman.

Suherman kini berusia sekitar 35 tahun. Ia mengatakan kebutaan yang dialaminya tidak berasal sejak lahir. Melainkan dari sejak kelas 6 SD. Kebutaannya berawal dari penyakit di leher yang menyebabkan syaraf penglihatannya terputus.

Tidak begitu jelas jenis penyakit yang dijelaskan dengan begitu singkat dan cepat oleh Suherman. Tapi yang jelas, Suherman sebelumnya pernah menikmati keindahan ciptaan Tuhan dengan kedua matanya.

Itulah sebabanya ketika ditanya mengenai penglihatan, ia menjelaskan penglihatannya tidak sepenuhnya hitam. “Tapi seperti klise poto,” kata Suherman.

Kembali ke pekerjaannya, Suherman menjelaskan menjadi tukang pijat selama puluhan tahun. Tak hanya di Kecamatan Aikmel, katanya, ia sering ke Selong dan sekitarnya. Terkadang satu komplek menjadi langganannya. “Kalau upahnya tak menentu. Tergantung rezeki orang. Kadang seadanya, kadang banyak,” terangnya.

Suherman tak pernah melihat upah. Bukan hanya karena ia tak bisa melihat uang dengan jelas, akan tetapi, ia juga lebih percaya jika membantu orang menjadi sehat adalah ibadah.

Sampai di sini, penulis Koran ini merasa cara memijat Suherman benar-benar tak biasa. Ini bukan pijat tradisional saja, tapi juga sudah masuk refleksi. Suherman memahami dengan baik syaraf manusia.

Baca Juga :  Kartinian di Desa Kelahiran Kartini, di Tengah Impitan Pemilu dan Ujian Sekolah

Kata Suherman, semasih bujang atau sekitar delapan tahun silam, ia diajak mijat sampai ke luar daerah. Katanya, satu tahun di Waingapu, Sumba (NTT) dan beberapa bulan di Bali. Dari perjalanan itulah ia mendapatkan banyak teknik baru. Hal itu terus ia dalami. Sembari memperbanyak jam terbang memperbaiki tubuh pasiennya.

Ia menerangkan telah beberapa kali membantu menterapi orang stroke. Menurutnya, stroke bisa diobati. Tapi tidak bisa sekali. Butuh setiap hari. “Itu sebabnya saya ingin sekali mempunyai tempat sendiri. Agar bisa membantu banyak orang. Karena kalau di rumah ini, terlalu kecil,” katanya penuh harap.

Impian Suherman adalah memiliki semacam tempat praktik pijat. Sebuah ruangan khusus yang bisa didatangi pasiennya. Pertama, ia tak perlu datang ke sana ke mari. Kedua, ia bisa membantu mereka yang stroke untuk melakukan terapi rutin. “Saya memiliki trauma ke sana ke mari,” terangnya.

Keinginan Suherman sangat beralasan. Karena ia dibutuhkan sebagai tulang punggung menghidupi tujuh orang di rumahnya. Ia menerangkan, jika ada rezeki, maka ia selalu membagikan semampunya untuk ke empat anak yatim yang tinggal serumah dengannya. Belum lagi kebutuhan putrinya Harwani yang sebentar lagi akan masuk sekolah dasar.

“Anak saya bisa melihat. Tapi sedikit sekali. Kata dokter, kebutaannya tidak bisa lagi diobati,” kata Suherman.

Sementara ayahnya bekerja, si kecil Harwani sibuk bermain dengan buku gambarnya. Ia mendekatkan mata ke buku. Mencoba melihat dari jarak paling dekat. Kata Suherman, katanya, jika didekatkan, ia bisa melihat. Hanya dengan itu.

Bersyukur, Suherman mendapatkan istri yang bisa melihat. Bq Mahyani begitu menyayangi suaminya. Baginya, Suherman bukan lelaki biasa. Tapi luar biasa. Ia menginspirasi. Juga patut dijadikan contoh bagi siapapun yang belum dibuka hatinya untuk bersyukur. Bahwa betapa besar karunia Tuhan atas nikmat melihat yang diberikannya.

Suherman tak mengatakan sepatah kata harapan untuk dibantu mewujudkan harapan memiliki tempat praktik pijat sendiri. Tapi siapa yang tahu, dalam hatinya ia selalu berdoa.  (*/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/