alexametrics
Selasa, 22 September 2020
Selasa, 22 September 2020

Rina Kurniyati, Satu-Satunya Perempuan Seniman Lukis Kaca di Indonesia

Mempelajari seni bisa dari siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Selagi ada kesempatan dan kemauan, tidak ada kata terlambat untuk berkarya. Prinsip ini dipegang Rina Kurniyati hingga mempertemukannya dengan seni lukis kaca.

FAIRIZA INSANI, Jogjakarta

======================

Rina Kurniyati barangkali menjadi perempuan seniman lukis kaca satu-satunya di Indonesia yang masih eksis.

Mulai menggeluti dunia seni lukis sekitar 1998, Rina tidak menyangka bisa menemukan potensi lain dalam dirinya. Memiliki seorang suami seorang seniman justru membawa ibu dua anak itu menyukai dunia lukis.

Padahal, Rina tidak lahir dari keluarga seniman. Begitu pula dengan latar pendidikannya. Jauh dari bidang seni. Namun karena kerap berkumpul bersama rekan-rekan suaminya, yang juga berprofesi sebagai seniman, Rina ketularan.

Mulanya Rina hanya ditawari untuk iseng-iseng mencoba ikut melukis. Tapi, dia tak yakin betul apakah dirinya mampu melukis. “1998 sampai 1999 itu saya anggap masa-masa saya belajar. Belum terpikirkan untuk ikut pameran,” ujarnya di rumahnya di Dusun Jetak 1, Sidokarto, Godean, Jumat (23/3).

Bidang kaca dipilih Rina karena teksturnya yang licin. Hal itu membuatnya jauh lebih nyaman saat menggoreskan cat di atasnya. Meski sempat mencoba melukis di atas kanvas, Rina merasa tidak terbiasa.

Selepas 1999, aktivitasnya melukis sempat terhenti. Sebab harus membagi fokus mengurus anak dan rumah. Perempuan kelahiran Magelang itu pun lantas mulai aktif kembali melukis sekitar 2010.

Beberapa lukisannya di atas kaca dibuat berdasarkan pesanan teman-teman atau kerabat yang ingin mengabadikan potret seseorang. Biasanya pesanan-pesanan tersebut dilukis dengan panduan foto. Lalu lambat laun Rina mulai mengeksplorasi banyak hal. Kesukaannya pada mobil-mobil antik misalnya, kerap kali menjadi ide untuk melukis.

Menariknya, karena dilukis di atas kaca, maka posisi melukis pun dilakukan secara terbalik. Sebab yang dilukis adalah bagian belakang kaca. Bukan permukaan luarnya. Berbagai ukuran kaca pun Rina coba. Tak tanggung-tanggung, dia bahkan pernah mencoba melukis di atas bekas kaca mobil.

Lambat laun, Rina kemudian memberanikan diri untuk menunjukkan hasil karyanya melalui pameran tunggal. Pameran tunggal pertama yakni pada 2013. Mengangkat tema Cinta Aksara, pameran tersebut diselenggarakan di Tirana Artspace.

Lalu pada 2015 di Jogja Gallery dengan tema Insting Bening. Serta 2016 di Visma Art Gallery Surabaya mengusung tema Lengkung Cahaya. Sedangkan untuk pameran bersama, sudah tak terhitung banyaknya.

Perempuan pencinta karya sastra ini berpendapat, melukis adalah kegiatan mengisi waktu luang yang paling sesuai dengannya. Sebagai seorang istri dan ibu dari dua putra, melukis di rumah membuatnya tetap mampu mengurus segala hal.

“Biasanya kalau sudah keasyikan melukis, saya sering lupa sama urusan rumah. Karena nggak kerasa waktunya berjalan,” ungkapnya semringah.

Oleh sebab itu, Rina lebih senang melukis di dapur. Kegiatan yang semula dilakukannya di luar rumah. Hal itu membuatnya tetap mengingat prioritasnya sebagai ibu rumah tangga. Seperti memasak, mencuci pakaian, dan lain sebagainya.

Kini Rina tengah menggarap proyek restorasi gambar wayang yang dipesan oleh seorang rekan. Dia harus mengembalikan warna serta tulisan aksara Jawa yang ada pada karya restorasi tersebut. Dia bahkan butuh waktu untuk memaknai aksara Jawa yang ada berdasarkan pengamatan seorang filologi.

Meski tak mudah diselesaikan dengan cepat, namun dia menikmati proses tersebut. Begitu pun dengan karya-karyanya yang lain. Menyelami sejarah atau bahkan mengenal lebih dalam sosok-sosok atau bentuk-bentuk yang dilukisnya, membuat dia semakin mudah melukis.

Bagi Rina, seorang perempuan tetap mampu mengeskpresikan diri tanpa meninggalkan karakteristik atau nalurinya. Oleh sebab itu dia berpesan agar perempuan bisa lebih berani mencoba banyak hal. Tak lupa, pentingnya dukungan keluarga dan anak-anak sehingga perempuan seniman bisa terus esksis. (din/JPG/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Sejak Pandemi, Omzet Pedagang Pasar Tradisional Turun 40 persen

”Penurunan omzet juga diikuti penurunan kapasitas pedagang di pasar sebesar 40 persen,” katanya saat ditemui di ruang kerja, Senin (21/9/2020).

Manfaatkan Simulasi KBM Tatap Muka untuk Pembiasaan Pola Hidup Sehat

”Kita lihat mana yang belum pakai masker sekaligus kita kampanye 3M itu, bersama guru-guru yang lain,” jelas Winarna.

Menag Positif Korona, UIN Mataram Langsung Instruksikan Pegawai WFH

”Pegawai UIN Mataram semaksimal mungkin, agar bekerja dari rumah menyelesaikan tugas masing-masing,” tegas dia.

Tagih Piutang Rp 3 Miliar PT GNE Libatkan Kejaksaan

Sekitar Rp 3 miliar uang PT Gerbang NTB Emas (GNE) tercatat sebagai piutang. Sejumlah perusahaan masih berhutang pada perusahaan daerah milik Pemprov NTB ini. “Makanya kita akan menggunakan JPN (jaksa pengacara negara) untuk menagih,” kata Direktur PT GNE Samsul Hadi, Jumat (18/9).

VIDEO : Buron ke Kalimantan, Pulang, Saen Diringkus di Lingsar

Pelarian anggota komplotan pencurian dengan pemberatan berinisial SR alias Saen, berakhir. Pria 31 tahun, asal Dusun Bagek Nunggal, Desa Peteluan Indah, Lingsar, Lombok Barat, itu dibekuk setelah setahun buron. ”Pelaku pulang karena rindu keluarga,” kata Kapolsek Lingsar AKP Dewi Komalasari, Sabtu (19/9).

WCD, Warga Lobar Bebaskan Pantai Cemara dari Sampah

Ribuan orang di Lombok Barat (Lobar) memperingati World Cleanup Day (WCD), akhir pekan kemarin. Kegiatan ini dipusatkan di Pantai Cemara. ”Semuanya terlibat. OPD, kecamatan, desa, bahkan masyarakat juga ramai ikut,” kata Bupati Lobar H Fauzan Khalid, Sabtu (19/9).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Dua Terduga Pengedar Ekstasi Tertangkap di Karang Kediri

Dua terduga pengedar ekstasi berinsial PAW alias Patrick, 28 tahun, dan AZP alias Agli, 25 tahun, dibekuk tim Satnarkoba Polresta Mataram, Kamis (17/9) malam. ”Kita tangkap mereka di Lingkungan Karang Kediri, Cakranegara,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson, kemarin (18/9).

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks