alexametrics
Senin, 15 Agustus 2022
Senin, 15 Agustus 2022

Cerita Mahnan, Suami Calon PMI Korban Kapal Karam di Malaysia

Mahnan, warga Dusun Aik Dewa Selatan, Desa Aik Dewa, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, tak pernah mengizinkan istrinya bekerja ke Malaysia. Kepergian kali ini pun terjadi di luar sepengetahuannya.

——–

SUARA sirine mobil ambulans yang membawa peti jenazah Juminah disambut kerumunan warga Dusun Aik Dewa Selatan, Desa Aik Dewa, Kecamatan Pringgasela. Begitu mobil tiba di depan rumah duka, terdengar jerit tangis keluarga. Ada yang pingsan dan digotong masuk bersamaan dengan peti jenazah.

Tak jauh dari kerumunan itu, Mahnan, 58 tahun, suami almarhumah Juminah berdiri mematung. Ia tak mendekat. Tak juga mencoba untuk membuka peti dan melihat wajah almarhumah istrinya untuk kali terakhir. “Saya tidak kuat melihatnya. Biarkan peti itu tertutup,” kata Mahnan.

Baca Juga :  ADBMI Lotim Imbau Warga untuk Tidak Gegabah Jadi CPMI

Usia pernikahan Mahnan dan Juminah memasuki tahun ke-30. Mereka telah dikaruniai tiga orang anak. Dua putra, satu putri. Paling besar berusia 27 tahun, paling kecil saat ini tengah duduk di bangku kelas 6 SD. Meski isak tangis anak keduanya yang memekak di telinga, namun hatinya hancur melihat si bungsu yang terus menyebut nama ibunya.

Keberangkatan Juminah ke luar negeri bukan kali pertama. Puluhan tahun lalu, ia juga pernah merantau. Tapi tidak dengan cara ilegal. “Tapi waktu itu diam-diam. Saya dikabarkan setelah dia sudah di Malaysia,” tuturnya.

Kendati pergi tanpa izin, Mahnan memaafkan istrinya. Sebab tujuan dari keberangkatan itu adalah untuk memberikan kehidupan yang lebih layak pada anaknya. Setelah pulang, Mahnan tak lagi memberikan izin pada istrinya. Alasannya, sebab masih ada orang tua mereka yang mesti dijaga bersama.

Baca Juga :  Butet Kartaredjasa setelah Pulih dari Serangan Jantung saat Pentas

Kepergiannya kali ini yang berangkat secara ilegal juga diketahui oleh Mahnan. Saat pergi, almarhum meminta izin untuk pergi bekerja ke Kecamatan Selong. Sejak kepergiannya itu, beberapa hari kemudian, kabar duka tentang musibah kapal karam yang membawa para PMI ilegal itu pun tersiar.

“Baru dari sana saya tahu. Dan saya tak kuasa menahan kesedihan,” jelasnya.

Di lubuk hatinya yang terdalam, Mahnan telah mengikhlaskan dan meridhoi kepergian sang istri. Sedikit pun tak ada kemarahan. Kata Mahnan, ia berharap musibah yang menimpanya dapat dijadikan pelajaran yang berharga oleh ketiga anaknya. (fatih kudus jaelani/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/