alexametrics
Senin, 21 September 2020
Senin, 21 September 2020

Korona Mewabah, Tiongkok dan Korea Mulai Panen Untung, Ekspor Masker dan Alat Uji Mengalir

’’Mesin pembuat masker adalah pencetak uang.’’ Kalimat itu terlontar dari mulut Shi Xinghui. Dia adalah manager penjualan di perusahaan mesin pembuat masker N95 di Provinsi Guangdong, Tiongkok. Belakangan ini perusahaannya mengalami lonjakan permintaan karena ribuan pabrik pembuat masker lahir di tengah wabah Covid-19.

——————————————-

PLATFORM data Tianyancha mengungkapkan bahwa selama dua bulan pertama tahun ini ada setidaknya 8.950 perusahaan baru di Tiongkok yang memproduksi masker. Perusahaan-perusahaan itu muncul untuk memenuhi kebutuhan karena wabah virus korona di negara tersebut.

Ketika perintah Tiongkok menerapkan lockdown di hampir seluruh wilayah Provinsi Hubei, wabah Covid-19 ini mulai terkendali. Kini penularan lokal bahkan kerap nol per harinya. Namun penurunan kasus bukan berarti permintaan masker ikut menurun. Sebab, kasus di luar Tiongkok kini justru melonjak tajam.

’’Mencetak 60 ribu-70 ribu masker per hari setara dengan mencetak uang,’’ ujar Shi seperti dikutip Agence France Presse.

Salah satu yang mengambil peluang menggiurkan itu adalah Guan Xunze. Awal Februari lalu pria yang dulunya bekerja di bidang farmasi itu membangun pabrik masker hanya dalam waktu 11 hari. Kini dia mengekspor masker N95 ke Italia.

Di Italia angka kematian akibat Covid-19 sudah melampaui Tiongkok. Platform Worldometers merilis bahwa secara global kini ada lebih dari 549 ribu orang sudah tertular virus yang kali pertama terdeteksi di Wuhan, Hubei, itu. Angka penularan terus meroket dan antivirus belum ditemukan. Artinya, prospek perusahaan yang berhubungan dengan masker masih menjanjikan.

Meski begitu bukan berarti tidak ada masalah. Kenaikan permintaan juga meroketkan harga bahan baku. Dari CNY 10 ribu (Rp 22,8 juta) per ton menjadi CNY 480 ribu (Rp1, 09 miliar). Membawa bahan baku ke tempat produksi juga sulit karena banyak jalan yang ditutup akibat lockdown. Pakar yang menguji alat pembuat masker juga naik 10 kali lipat biayanya. Meski begitu, karena permintaan yang menggila, mereka tetap untung.

Peluang serupa juga didapatkan oleh perusahaan pembuat alat uji Covid-19 di Korea Selatan (Korsel). Negara yang dipimpin oleh Presiden Moon Jae-in itu telah mengetes 300 ribu penduduknya dengan alat produksi dalam negeri. Istana Kepresidenan Korsel, Blue House, mengungkapkan bahwa ada permintaan ekspor alat uji tersebut ke Amerika Serikat (AS).

Permintaan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump dan Moon berbicara via telepon. Transaksi itu tidak hanya alat uji Covid-19, tapi juga peralatan medis lainnya. Misalnya saja alat bantu napas alias ventilator. ’’Kemampuan Kosel yang mampu menguji secara cepat dan masif menarik perhatian dunia,’’ bunyi ulasan di Korea Biomedical Review. Korsel mampu membuat alat uji Covid-19 dengan cepat karena ada kebijakan memangkas perizinan jika ada kejadian luar biasa.

Alat uji yang diproduksi Seegene mampu melakukan seribu tes secara terus-menerus dan hasilnya bisa dilihat kurang dari 4 jam. Sedangkan produksi Solgent mampu menunjukkan hasil kurang dari 2 jam.

Sementara itu lockdown membuat pasokan kebutuhan pangan terus menurun, sedangkan produksi berkurang. Karena itu Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc memutuskan untuk menghentikan sementara perjanjian eskpor beras baru hingga 28 Maret. Mereka menyetok berasnya untuk kebutuhan dalam negeri. Pada 15 Juni nanti diperkirakan ada 190 ribu ton simpanan beras. Selama ini Vietnam merupakan pengekspor beras terbesar ketiga setelah India dan Thailand.

Kondisi Eropa

Di lain pihak, jika pasien Covid-19 terus mengalir dalam dua hari ke depan, semua rumah sakit di Paris tidak akan mampu lagi menampung. Di Strasbourg, dokter yang sudah tertular pun harus tetap bekerja akibat minimnya tenaga medis.

Itu belum bicara Alsace, wilayah yang paling parah terdampak pandemi global itu. Di sana, seperti dilaporkan The Guardian, pasien berusia di atas 80 tahun bahkan sudah tidak lagi didukung ventilator atau alat bantu napas. Hanya diberi obat penenang dan obat tidur. Semacam perawatan paliatif.

’’Rumah sakit di Alsace terpaksa menggunakan perawatan triase. Artinya, beberapa pasien diprioritaskan karena terbatasnya jumlah ventilator,’’ ujar Brigitte Klinkert, presiden Departemen Haut-Rhin.

Prancis cuma secuil contoh betapa pandemi Covid-19 tidak menunjukkan tren menurun di Eropa. Tetangga mereka, Inggris, tidak lebih baik. Pemerintah setempat memutuskan untuk meliburkan sekolah mulai kemarin sore (27/3) hingga waktu yang belum bisa ditentukan.

Sebanyak 14.579 orang positif tertular dan 759 orang meninggal akibat Covid-19 di Inggris. Bahkan, Perdana Menteri Boris Johnson dan Menteri Kesehatan Matt Hancock masuk dalam daftar sudah positif tertular.

Mereka berdua mengalami gejala ringan sebelum akhirnya dites. Keduanya mengisolasi diri di rumah. Johnson menegaskan, dirinya akan tetap bekerja via video conference. ’’Kita akan mengalahkan virus ini bersama,’’ katanya.

Sebelumnya, Johnson terkesan meremehkan virus yang sudah merenggut puluhan ribu nyawa tersebut. Pada 3 Maret lalu, ketika memaparkan rencana penanganan Covid-19, mantan jurnalis The Daily Telegraph itu mengatakan bahwa dirinya tetap berjabat tangan. Juga ketika dia berkunjung ke Kettering General Hospital di Northamptonshire. Padahal, sehari sebelumnya ada pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit tersebut.

’’Saya berjabat tangan dengan semua orang,’’ ujarnya seperti dikutip The Guardian.

Johnson merasa tidak perlu khawatir karena Inggris memiliki Sistem Kesehatan Nasional (NHS), sistem pengetesan dan pengamatan persebaran penyakit yang luar biasa.

’’Saya ingin menekankan kepada sebagian besar penduduk di negara ini, kita harus bekerja seperti biasanya,’’ terangnya.

Kini bisa dipastikan tak ada lagi yang mau bersalaman dengan Johnson. Belum diketahui apakah Ratu Elizabeth II juga tertular. Sebab, dia bertemu dengan pria berambut pirang itu kali terakhir pada 11 Maret lalu.

Menyeberang Atlantik, Amerika Serikat (AS) malah sudah mengungguli Tiongkok. Angka penularan Covid-19 di sana kemarin (27/3) sudah mencapai 85.749 kasus.

AS kini menjadi negara dengan kasus penularan tertinggi di dunia. Ada 85.749 kasus. Disusul Tiongkok dengan 81.340 kasus dan Italia 80.589 kasus. ’’Peningkatan itu terjadi karena banyaknya tes yang kami lakukan,’’ ujar Presiden AS Donald Trump pada Kamis petang (26/3) waktu setempat.

Wakil Presiden AS Mike Pence mengungkapkan, uji Covid-19 sudah ada di 50 negara bagian. Saat ini lebih dari 552 ribu orang di berbagai penjuru AS sudah dites.

Meski kasus positif Covid-19 di AS meroket, angka kematiannya masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan Italia, Spanyol, dan Tiongkok. Penduduk tiga negara tersebut yang kehilangan nyawa akibat virus korona yang jadi penyebab penyakit Covid-19 berturut-turut berjumlah 8.215, 4.858, dan 3.292 orang.

Di AS, korban jiwa mencapai 1.304 orang. Meski begitu, AS tak bisa santai. Para peneliti memperkirakan bahwa kematian akibat Covid-19 di AS bisa mencapai 80 ribu orang dalam empat bulan kedepan.

Direktur Harvard Global Health Institute Dr Ashish Jha mengungkapkan, situasi 12–18 hari ke depan bakal tidak menentu. Jika pemerintah menangani dengan agresif dan melakukan pengetesan masal, situasi bisa segera membaik dan sebagian besar tempat bisa normal kembali.

’’Tapi, itu jika kita siap dan kita sama sekali tidak siap sekarang,’’ ujarnya seperti dikutip CNN.

Sementara itu, Tiongkok yang tidak ingin mengalami penularan gelombang kedua langsung menutup pintunya untuk orang asing. Saat ini penularan lokal di Tiongkok hanya 1–2 orang. Beberapa kali bahkan nol. Kasus baru di negara tersebut berasal dari luar.

Kamis petang, pemerintah Tiongkok menegaskan bahwa mulai 28 Maret, mereka untuk sementara waktu tidak menerima kedatangan warga negara asing yang memegang visa dan izin tinggal. Tidak disebutkan dengan pasti hingga kapan kebijakan tersebut berlaku.

Sementara itu, lockdown membuat pasokan kebutuhan pangan terus menurun, sedangkan produksi berkurang. Karena itu, Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc memutuskan untuk menghentikan sementara perjanjian eskpor beras baru hingga 28 Maret.

Mereka memilih menyetok berasnya untuk kebutuhan dalam negeri. Pada 15 Juni nanti, diperkirakan ada 190 ribu ton simpanan beras. Selama ini Vietnam merupakan pengekspor beras terbesar ketiga setelah India dan Thailand.

Malaysia adalah salah satu yang terdampak penghentian eskpor beras Vietnam. Namun, Kementerian Agrikultura dan Industri Pangan menegaskan bahwa stok mereka masih cukup untuk 2,5 bulan ke depan. Malaysia mengimpor sekitar 30–40 persen dari total kebutuhan.

’’Langkah selanjutnya adalah membeli beras dari negara lain, termasuk Pakistan, India, Myanmar, dan Thailand,’’ bunyi pernyataan pihak kementerian. (sha/c7/ttg/JPG/r8)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

HARUM Goda Pemilih Millenial Lewat Lomba Film Pendek dan E-Sport

Bakal Calon Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mencoba menggoda pemilih milenial. Caranya, dengan menggelar film pendek dan e-sport. "Orang yang menggeluti dunia film tidak banyak. Bagi sebagian orang ini ekslusif. Prosesnya panjang," kata Mohan Sabtu malam (19/9) lalu.

Cerita Shaina Babheer saat Memerankan Sosok Kikin dalam film MOHAN

Shaina Azizah Putri dipilih untuk memerankan sosok Kikin Roliskana dalam film pendek berjudul "Mohan". Ini menjadi tantangan baru bagi dara yang sudah membintangi beberapa sinetron dan FTV nasional ini.

“Menara Eiffel”di Desa Seruni Mumbul Lombok Timur Ramai Pengunjung

Pengelola wisata Denda Seruni, Desa Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya tak ingin puas dengan keberhasilannya menyedot wisatawan. Realisasi target PADes Rp 30 juta per bulan harus dapat bertambah.

Bale Mediasi Lotim Damaikan Delapan Perselisihan

SELONG-Permohonan mediasi terus berdatangan ke Bale Mediasi Lotim. “Sudah ada 36 permohonan yang masuk,” kata Koordinator Administrasi Bale Mediasi Lotim Lalu Dhodik Martha Sumarna pada Lombok Post, kemarin (18/9).

Korem 162/WB Gelar Bakti Sosial di KEK Mandalika

Sejumlah kegiatan bakti sosial di gelar Korem 162/WB dalam rangka menyambut HUT TNI ke-75 di Loteng. “Terima kasih TNI karena menggelar salah satu rangkaian HUT-nya, di daerah kami tercinta,” ujar Asisten II Setda Loteng H Nasrun, kemarin (18/9).

Dugaan Korupsi Pembangunan RS Pratama Dompu Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pembangunan Rumah Sakit (RS) Pratama Manggelewa, Dompu, tahun 2017 sebentar lagi rampung. ”Kira-kira dua minggu lagi kita naikkan ke penyidikan,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda NTB Kombes Pol I Gusti Putu Gede Ekawana Putra, kemarin (18/9).

Paling Sering Dibaca

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Hasil Uji Diragukan, Dua Merek Alat Rapid Test asal China Dipakai di NTB

MATARAM-Dua dari tiga merek alat rapid test yang diragukan akurasinya dipakai di NTB. Yakni VivaDiag dan Wondfo. ”Itu kami dapat bantuan dari pusat, silahkan...
Enable Notifications    Ok No thanks