Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menikmati Sensasi Pengobatan Bekam: Pegal Awalnya, Rileks Kemudian

Miq Ade • Rabu, 6 Desember 2023 | 07:11 WIB

 

Cangkir-cangkir bekam yang terpasang di sepanjang punggung, menyedot darah hitam yang menggumpal.
Cangkir-cangkir bekam yang terpasang di sepanjang punggung, menyedot darah hitam yang menggumpal.

Jika Anda merasa pegal, linu, pusing cobalah teknik pengobatan satu ini. Sebuah teknik pengobatan yang sudah ada sejak 1553 SM di masa Mesir Kuno: Bekam.

 

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

 

JURU bekam pertama-tama akan mengolesi bagian tubuh yang akan dibekam menggunakan minyak zaitun. Lalu kemudian memijat-mijat lembut yang mengudang sensasi rileks. Ngantuk.

“Kalau mau tetap duduk silakan, tapi kalau mau tengkurap juga tidak apa-apa,” kata Lalu Israfil, pria yang sering jadi tabib di kalangan Jamaah Tabligh, Masjid Raya, Kota Mataram.

Pria gayeng ini berasal dari Lombok Tengah. Tapi ia sering menghabiskan waktunya untuk khuruj di masjid Raya dan masjid lain di seputar Kota Mataram dan Lombok Barat.

Kegiatan bekamnya, lambat laun menjadi favorit di antara teman-temannya. Bukan cuma karena kemampuan bekam saja, tetapi pijatannya yang aduhai: melenakan sekali.

Setelah beberapa pijatan lembut dengan gerakan spiral, Rafil melanjutkannya dengan memasang cangkir khusus. “Ini waktu yang tepat untuk bekam,” ujarnya sambil menjelaskan waktu dimaksud antara jam 1 siang sampai 3 sore.

“Di waktu ini pembuluh darah sedang mengembang,” terangnya.

Pendapat ini didasari pendapat ahli kedokteran zaman dinasti Abbasiyah, Ibnu Sina. Sebaiknya bekam juga dilakukan saat perut masih kosong, bukan saat kekenyangan.

Sembilan cangkir khusus yang dipasangkan memusatkan darah di titik tertentu dengan cepat menghilangkan rasa kantuk tadi. Rasa rileks, berubah menjadi nyeri dan pegal di seputar cangkir yang menyedot kulit punggung.

Penyedotan itu berlangsung sekitar 15 menit. Sesuai ketentuan lamanya bekam untuk tahap pemusatan gumpalan darah kotor.

“Gimana enak kan?” celetuknya sembari tertawa kecil.

Seluruh perhatian terfokus pada rasa pegal dan nyeri di seputar cangkir. Punggung rasanya ditarik dengan tali-tali mengencang di ujung sebelahnya.

Kulit dan daging di punggung seakan mau terlepas dari tulang rangka. Untungnya itu cuma imajinasi liar penulis saja.  

Detak jarum detik jam, menuju 15 menit berikutnya, rasanya melambat. Saat itu melihat detik-detik jam menjadi sia-sia, karena semakin ditunggu, waktu semakin lama.

“Nikmati saja,” sarannya, sambil memijit sela-sela cangkir.

Betul. Pijatan lembut di sela-sela cangkir mengurangi rasa sakit.

Tapi itu, baru sepertiga perjalanan pengobatan bekam. Yang terasa nyeri dan perih berikutnya adalah saat membuka gundukan pori-pori kulit menghitam oleh gumpalan darah, menggunakan jarum berkali-kali.

Tusukan demi tusukan jarum menggunakan pulpen khusus itu memang tak sampai memancing keinginan menjerit. Tapi cukup membuat wajah berkerut, menyeringai, perih.

“Sekarang kita sedot darah-darah yang hitam ini, kalau kami istilahnya darah mati,” ujarnya.

Cangkir kembali dipasang. Kalau tadi rasanya pegal dan nyeri, sekarang bertambah rasa perih. Sesaat kemudian, ada sesuatu yang terasa merembes keluar dari punggung. Semakin banyak dan mengental.

“Bentuknya seperti jeli atau agar-agar, kenyal. Selain itu ada gumpalan darah hitam juga. Inilah yang menyumbat peredaran darah, sehingga tidak lancar. Biasanya ini yang memicu rasa pegal, kebas di tubuh,” terangnya.

Jika penyumbatan itu dibiarkan lama, maka akan mudah membuat seseorang terserang penyakit. Rafil mengatakan, apalagi bila seseorang jarang berolah raga. 

“Ini karena tidak pernah dibekam, makanya gumpalan darahnya sangat banyak. Kalau rutin bekam, jumlahnya tidak sebanyak ini,” ujarnya.

Gumpalan darah hitam dan darah berbentuk jeli, cukup banyak. Dikumpulkan dalam satu kantong plastik lalu dibuang di tempat yang aman.

Treathment terakhir adalah membersihkan punggung dari sisa darah. Kemudian, mengolesi sekujur punggung dengan minyak zaitun.

Lalu pijatan kembali dilakukan membantu peredaran darah yang terpusat bekas bekam. Pijatan nikmat inilah yang menghadirkan rasa kantuk tak bisa terelakan lagi.

 “Jangan langsung mandi, istirahat sejenak dua-tiga jam, baru mandi dengan ...,” suara Rafil tak lagi terdengar, tenggelam seiring kesadaran mulai hilang masuk ke alam tidur. (*)

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#Tabligh #pegal #jarum #darah #Pijatan #minyak zaitun #tubuh #bekam #punggung #Mataram #tabib #perih #cangkir