---------------------------------
Salah satu pemilik MM Biliards and Cafe Charlie Kurniawan menerangkan membuka usaha biliar membutuhkan modal yang tidak sedikit. Ia tidak bersedia memberikan secara utuh modal yang dibutuhkan, namun memberikan gambaran harga meja biliar, stik, dan bola. Begitu juga dengan biaya lainnya berupa tempat, dekorasi cahaya, ruangan, dan sistem waktu.
Di MM Biliards, harga meja di kelas VIP dengan merek Xingjoe berkisar di antara Rp 40 sampai Rp 60 juta per buah. Jika 20 meja, maka modal yang dibutuhkan untuk mendatangkan meja saja Rp 1,2 miliar. Belum lagi steak, bola, dan dekorasi lampu.
“Intinya tidak sedikit. Jadi memang saat ini persaingan bisnis ini sedang ketat-ketatnya,” terangnya.
Untuk beberapa pemain, kualitas meja sangat dilihat. Salah seorang pemain biliar di MM Billiard Darma Indrajaya menerangkan, untuk pemain yang biasa di meja biliar, mereka pasti memilih tempat yang kualitas mejanya bagus. Begitu juga dengan fokus pencahayaannya.
“Tentu itu sangat mempengaruhi. Beda rasanya kalau mejanya nggak standar. Kalau stik, kebanyakan yang biasa main akan bawa sendiri. Harga stik bervariasi, ini saya Rp 3 juta. Yang lebih mahal banyak. Bahkan sampai ratusan juta,” terang Jaya.
Di Pocket Billiard, Made juga menuturkan hal yang sama. Butuh miliaran rupiah untuk hanya mendatangkan meja. Belum lagi peralatan lainnya, biaya perawatan, dan kebutuhan lainnya.
Itulah mengapa sangat wajar jika terjadi persaingan bisnis di tengah meningkatkan popularitas biliar di kalangan masyarakat Kota Mataram. Salah satu cara mereka untuk menarik minat tamu adalah dengan menyediakan promo di jam-jam tertentu.
“Ya, banyak promo, banyak kegiatan seperti lomba, dan tentu kita menjaga kualitas pelayanan,” jelas Made.
Pengamat Ekonomi NTB Dr M Firmansyah menilai menjamurnya tempat bermain biliar menjadi bisnis yang digandrungi pengusaha karena pesatnya permintaan pasar. Dalam skala tertentu, hal itu menjadi tren positif terhadap pertumbuhan ekonomi lokal.
“Dalam persfektif ekonomi, tentu perkembangan tempat bermain biliar ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Karena secara nyata, selain dapat menyediakan lapangan pekerjaan, ada turunan bisnis lainnya yang juga turut berkembang dari berkembangnya bisnis biliar ini,” terang Firmansyah.
Tentu tidak bisa dikatakan sebagai penyokong pertumbuhan ekonomi skala besar yang sudah mapan, namun dalam tren tertentu, kehadirannya memperlihatkan adanya pertumbuhan ekonomi lokal. Salah satunya dari permintaan pasar yang meningkat.
“Ini juga menggambarkan perkembangan ekonomi masyarakat yang misalnya kini budayanya sudah beralih ke biliar,” tambahnya.
Sampai kapan bisnis itu bertahan? Firmansyah menerangkan dalam ekonomi permintaan yang berkurang atau mengalami penurunan pasti terjadi. Hal itu ditentukan oleh sampai kapan tren ini bertahan. Apalagi jika target pasar dari bisnis biliar adalah komunitas.
“Saya kira pelaku usaha sudah pasti membaca hal ini. Saat ini permintaan sedang tinggi-tingginya,” jelasnya. (tih/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post