LombokPost - Raymond Indra yang kalem mengaku kalau sebenarnya lebih nyaman bermain tanpa psywar, sedangkan Nikolaus Joaquin justru menyebut kalau ketengilan itu alat membuka diri. Chemistry keduanya terbangun sejak jadi rekan sekamar sekitar setahun, bahkan sebelum resmi berpasangan.
TAK hanya smes, netting, dan dropshot yang mewarnai duel perempat final Indonesia Masters 2026 antara dua pasangan Pelatnas Cipayung, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin melawan senior mereka Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri. Tapi, juga psywar antarkedua ganda putra tersebut.
Joaquin, misalnya, pura-pura memukul bola yang sudah pasti keluar dalam duel di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (23/1) lalu itu. Fajar kemudian dengan tiba-tiba berlari ke net, padahal shuttlecok sudah jelas gagal dijangkau Raymond. Macam-macam.
Wasit sampai mengeluarkan kartu kuning untuk Fajar. Perwakilan BWF juga ikut turun tangan “mendamaikan”. Saking panasnya atmosfer.
Kemunculan Raymond/Joaquin pun langsung mengingatkan banyak orang pada awal meroketnya duet Minions: Marcus Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo. Sama-sama muda, energik, dan tengil. Kalau Raymond adalah Marcus yang lebih kalem, Joaquin adalah Kevin dengan segala tingkahnya.
Ketengilan pasangan juara Australia Terbuka di pengujung 2025 tersebut tidak datang dengan tiba-tiba. Melainkan dibentuk, dirawat, dan perlahan menjadi identitas.
Awalnya, ketika keduanya kali pertama dipasangkan pada awal 2025, pelatih mereka, Chafidz Yusuf, tidak hanya mengajarkan teknik. Tapi, juga mengarahkan ketengilan mereka menjadi energi positif.
“Mas Chafidz menyampaikan, kalau mau tengil, tengil aja,” ucap Joaquin.
Hasilnya, setelah juara di Australia Terbuka pada November 2025, mereka menembus final Indonesia Masters 2026 setelah menyingkirkan Fajar/Fikri di perempat final dan Sabar Karyaman Gutama/M.
Reza Pahlevi Isfahani di semifinal. Sayang, di partai puncak (25/1) mereka takluk dari duet Malaysia Goh Sze Fei/Nur Izzuddin Rumsani.
Tapi, untuk pasangan yang baru setahun dipasangkan dan mampu menggapai dua final Super 500 dalam rentang sekitar dua bulan salah satunya bahkan berujung gelar jelas itu menjadi modal berharga. Mereka pun kini jadi harapan baru Indonesia di ganda putra.
Bukan soal Gaya
Bagi Joaquin, tengil bukan soal gaya. Itu alat untuk membuka diri. Dengan sedikit psywar, rasa percaya dirinya naik. Permainan pun mengalir lebih lepas, lebih berani mengambil risiko.
Namun sejak awal, ada pagar yang dipasang. Chafidz menekankan satu hal: jangan berlebihan. Tengil boleh, asal tetap sewajarnya. Tetap hormat kepada lawan. Tetap fokus pada permainan.
Tapi, menurut Raymond, ekspresi di lapangan bukan sesuatu yang direncanakan. Secara personal, dia mengaku justru lebih nyaman bermain tanpa banyak ekspresi. Fokusnya lebih terjaga ketika ia tidak terlalu larut dalam gestur atau psywar.
“Kalau saya sendiri lebih bisa fokus atau menenangkan diri sendiri kalau ya enggak tengil,” ujarnya.
Namun, dia juga tidak menampik, ada momen-momen tertentu ketika emosi pertandingan mengambil alih. Tekanan, atmosfer, dan situasi di lapangan membuat refleks muncul dengan sendirinya.
Ketengilan mereka juga sering muncul dalam bentuk balas-balasan. Joaquin memulai psywar, lawan merespons, Raymond ikut menyela dengan caranya sendiri. Rantai kecil yang terus berulang. Dan, tanpa disadari, kepercayaan diri mereka ikut terangkat.
Bagi mereka, psywar bukan tujuan akhir. Ia hanya sarana agar permainan keluar maksimal. “Sekali lagi, ini buat menambah kepercayaan diri kita aja,” tegas Joaquin.
Sekamar Hampir Setahun
Joaquin lahir di Jakarta pada 14 September 20 tahun silam. Didikan PB Djarum itu masuk ke pelatnas tahun lalu. Sebelum berpasangan dengan Raymond, Joaquin pernah berpartner dengan Muhammad Al Farizi hingga Verrel Yustin Mulia.
Sedangkan Raymond setahun lebih tua dari Joaquin. Pebulutangkis kelahiran Bandung itu juga didikan PB Djarum. Berbeda dengan Joaquin yang sudah menjajal berpasangan dengan atlet lain, Raymond tidak memiliki pasangan tetap sebelum Joaquin.
Mereka membangun chemistry lewat hal-hal sederhana. Kebetulan, sebelum resmi berpasangan, Raymond dan Joaquin sudah pernah sekamar hampir setahun. Makan bareng, menghabiskan waktu bersama setelah latihan, serta mengerjakan hal-hal kecil bersama.
“Sekarang sih sudah enggak mau sekamar, bosan,” canda Joaquin.
Tapi, kebersamaan itu meninggalkan bekas. Di lapangan, komunikasi mereka mengalir tanpa jarak. Jika satu melakukan kesalahan, yang lain langsung mengingatkan. Tidak ada gengsi. Tidak ada emosi berlebihan.
Kekalahan di final Indonesia Masters memang menyisakan evaluasi. Namun, bagi Raymond/Joaquin, perjalanan hingga partai puncak tetap menjadi pijakan penting. “Baik secara teknis, mental, maupun dalam pembentukan karakter kami,” kata Joaquin. (TAUFIQ ARDYANSYAH, Jakarta/ttg/JPG/r3)
Editor : Pujo Nugroho