LombokPost - Ramadan di balik jendela Warsawa, tak ada azan, hanya hujan dan sisa salju yang menemani berbuka. Dua belas jam menjemput cahaya di Warsawa di mana saat rindu iktikaf terhalang bekunya langit Eropa. Membawa doa dari Mataram ke jantung Polandia dengan iman yang tak membeku.
Di bawah langit abu-abu Warsawa yang dingin, Ramadan menyapa bukan dengan riuh takjil atau gema azan, melainkan lewat heningnya salju yang turun di antara menara-menara kota Eropa Tengah. Bagi Mega Nisfa Makhroja, berpuasa di negeri minoritas adalah tentang menemukan kemurnian niat di tengah rutinitas yang tak berubah, di mana rindu pada pelecing kangkung dan syahdunya iktikaf di masjid harus diredam oleh jarak serta doa yang melangit.
Di sinilah iman diuji dalam kesunyian, membuktikan bahwa hangatnya ibadah tak pernah ditentukan oleh suhu udara, melainkan oleh keteguhan hati yang merawat rindu pada kampung halaman.
Mega mengatakan kalau di Lombok, Ramadan adalah orkestra keramaian. Suara anak-anak berburu takjil, kepulan asap sate yang menggoda selera, hingga gema selawat yang tak putus dari corong masjid.
Namun, di Warsawa, ibu kota Polandia, Ramadan datang dalam sunyi yang anggun. Di sini, bulan suci tidak mengubah ritme kota; trem tetap meluncur di atas rel yang beku, dan orang-orang berjalan terburu-buru menembus rintik hujan serta sisa salju musim dingin yang belum beranjak.
Tahun ini adalah Ramadan ketiga bagi Mega di jantung Eropa Tengah. Menjadi minoritas di negeri orang memberikan rasa yang unik: tidak ada tekanan, tidak ada euforia, yang ada hanyalah dialog personal antara hamba dan Penciptanya. Karena segalanya berjalan normal seperti hari biasa, rasa lapar dan lelah seolah teralihkan oleh rutinitas yang tetap berdetak kencang.
Dua Belas Jam dalam Dekapan Musim Dingin
Ramadan kali ini jatuh saat transisi musim yang dingin. Mega ini memulai langkah ibadah dengan durasi yang cukup bersahabat, sekitar 12 jam. Imsak menyapa pada pukul lima pagi, dan secara kebetulan, magrib pun tiba pada pukul lima sore.
Meski durasinya terasa lebih pendek dibanding musim panas Eropa yang ekstrem, tantangannya adalah cuaca. Langit Warsawa sering kali berubah muram perpaduan antara salju yang turun tipis dan hujan yang membasahi aspal. Kondisi ini membuat perjalanan 35 menit menuju masjid terdekat menjadi perjuangan tersendiri.
"Alhasil, tarawih berjamaah di masjid biasanya hanya kami jalani saat akhir pekan. Selebihnya, ruang tamu apartemen kami sulap menjadi musala kecil tempat kami bersujud dalam keheningan malam Polandia," imbuhnya.
Menu "Darurat" dan Rindu yang Tak Terbeli
Jika di Mataram meja makan akan penuh dengan pelecing, urap, hingga sate, di Warsawa ia harus realistis. Tak ada penjual takjil di pinggir jalan. Takjil bersifat "darurat" menyesuaikan dengan apa yang ada di rak supermarket lokal. Roti, salad, dan buah-buahan menjadi teman berbuka yang setia.
Tentu saja, lidah Sasak tak bisa berbohong. Ada ruang hampa yang merindukan pedasnya pelecing kangkung, gurihnya urap, atau legitnya sate kambing. "Untuk mengobati rindu, kami sesekali memasak menu nusantara dengan bumbu seadanya," terangnya.
Namun, suasana hangat bukber (buka bersama) tetap menjadi barang mewah. Teman-teman sesama warga Lombok di sini mulai berkurang; ada yang sudah pulang, ada yang pindah negara. Komunitas Indonesia memang masih mengadakan pengajian rutin, namun tetap saja, riuh rendah suasana Lombok tak pernah bisa terwakili sepenuhnya.
Kerinduan pada Iktikaf
Satu hal yang paling menyesakkan dada Mega adalah kerinduan untuk iktikaf di masjid. Di Warsawa, demi alasan keamanan dan cuaca yang ekstrem, masjid-masjid tidak dibuka 24 jam penuh. "Kami kehilangan momen-momen syahdu berdiam diri di rumah Allah saat sepertiga malam terakhir," jelasnya.
Di sini, ia belajar menghargai setiap detik kebersamaan. Meski berbagi takjil di masjid bersama saudara muslim dari Uzbekistan, Kirgistan, hingga Turki, bayangan takbiran di kampung halaman tetap menjadi memori yang paling ingin dirinya "import" ke Polandia.
Pesan dari Seberang Benua
Di tengah suhu dingin dan jauh dari suara azan yang menggema, Mega sekeluarga tetap berusaha menjaga nyala iman. "Mohon maaf atas segala khilaf. Semoga Ramadan ini menjadikan kita pribadi yang lebih baik, meski jarak ribuan kilometer memisahkan raga kita," pesannya. (Nurul Hidayati, Kota Mataram/r3)
Editor : Kimda Farida