Kamis, 8 Juni 2023
Kamis, 8 Juni 2023

Warga Sumber Air Kehausan

GIRI MENANG-Warga Desa Sesaot dan Suranadi, Kecamatan Narmada mengeluh. Menjadi desa sumber mata air, ribuan warga di desa ini justru mengalami krisis air bersih.

Warga kesulitan mendapatkan akses air bersih dari sumber mata air di desanya sendiri. Karena sebagian besar air ini justru dinikmati masyarakat Kota Mataram dan Lombok Barat (Lobar) di wilayah lainnya.

“Kami tidak mengancam, tapi kalau masyarakat terus-terusan kehausan (tidak dapat air, Red), pastinya arahnya ke situ. Saya khawatir pipa besar PDAM yang melintas di dusun kami akan dirusak kalau tidak ada respons,” ungkap Ketua Pengurus Air Dusun Penangka, Desa Sesaot Muhrim Senin kemarin (4/3).

Ia membeberkan, saat ini warga memenuhi kebutuhan airnya dari mata air dari Toyang. Itu dihubungkan oleh pipa dengan panjang sekitar tujuh kilo meter ke bak penampungan air yang ada di Dusun Toyang.

Dari bak penampungan tersebut, kemudian dialirkan ke rumah-rumah warga di tiga desa. Mulai dari Dusun Penangka Desa Sesaot, Dusun Kalimanting Desa Suranadi, serta Dusun Karang Majdi Desa Buwun Sejati.

“Ada ribuan jiwa yang menikmati dari bak penampungan ini,” bebernya.

Sayangnya, seiring waktu, debit air yang masuk ke bak penampung yang memiliki volume 15 meter kubik tersebut mulai tak mencukupi untuk kebutuhan warga. Sehingga, pengurus air sejak 2018 lalu mengusulkan bantuan ke Balai Wilayah Sungai (BWS) agar mendapat bantuan pemasangan pipa baru.

Baca Juga :  Curhat MU Mantan Suami Mita (2) : Menikah dengan Mahar Rp 500 Ribu dan Air Zamzam

Sayangnya, usulan permohonan bantuan warga tak mendapat respons. Begitu juga ketika warga meminta kejelasan bantuan dari PDAM melalui pemerintah desa.

“Nggak ada kejelasan sama sekali. Sementara masyarakat banyak yang protes ingin demo bawa parang dan kayu. Karena kita ribut terus masalah air ini,” sesal Muhrim.

Warga mengaku merasa sangat kecewa kepada pemerintah. Karena sumber mata air yang ada di Sesaot justru banyak dinikmati masyarakat kota. Sedangkan warga yang ada di wilayah sumber mata air itu sendiri tak diperhatikan sama sekali. Baik oleh pemerintah kabupaten melalui PDAM Giri Menang, maupun oleh pemerintah provinsi dan pusat melalui BWS.

“Ya tidak menutup kemungkinan arahnya akan ke situ (merusak pipa PDAM, Red). Makanya ini yang kami antisipasi. Kami mohon diperhatikan dan direspons. Kami harus seperti apa baru bisa mendapat perhatian kalau kami di sini butuh air?” pasrahnya.

Sehingga permintaan warga saat ini sangat sederhana. Mereka butuh bantuan pemasangan pipa dari mata air Toyang menuju bak penampungan di Dusun Penangke, Desa Sesaot. Agar debit air yang bisa ditampung cukup untuk dinikmati ribuan warga.

Senada, Darmawan warga Dusun Kalimanting, Desa Suranadi membenarkan jika kesulitan akses air bersih dirasakannya dan warga lainnya. Kondisi ini tidak hanya dirasakan saat ini saja, tapi sudah bertahun-tahun.

“Masak kami harus beli lahan sumber mata air untuk bisa merasakan air bersih. Sementara sumber mata air kami dialirkan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat kota,” akunya.

Baca Juga :  Terseret Ombak di Sekotong, Agus Salim Ditemukan Tak Bernyawa

Alasannya, sumber mata air milik warga dikatakan tidak bisa mengalir ke pemukiman warga akibat elevasi. Ditambah, jika sumber mata air dari Desa Sesaot dan Suranadi digunakan oleh warga, aliran air yang menuju ke Kota Mataram atau wilayah Lobar yang ada di dataran lebih rendah kurang mengalir deras.

Direktur PDAM Giri Menang yang dikonfirmasi via ponselnya mengenai persoalan ini kemarin, belum memberikan respons. Namun sebelumnya ia menjelaskan pokok persoalannya masyarakat di Desa Sesaot yang masih belum menerima pelayanan air bersih disebabkan karena persoalan teknis. Lantaran pemukiman masyarakat lebih tinggi dibandingkan sumber mata air.

Namun, Zaini mengklaim persoalan ini sudah bisa diatasi masyarakat dengan sistem perpipaan yang dibangun secara swadaya. Dimana masyarakat mencari mata air yang lebih tinggi sebagai sumber mata airnya.

“Mereka mencari mata air yang lebih tinggi. Kalau kualitas mata air nanti kami akan lakukan bimbingan seperti di desa lain. Kami dorong untuk membentuk PAMDes,” ujar Zaini.

Nantinya, masyarakat akan membayar kepada pengelolaan yang dibentuk di PAMDes sama seperti sistem pengelolaan air minum di PDAM Giri Menang. “Tapi PAMDes ini juga nanti di bawah kontrol kami,” cetusnya Februari lalu. (ton/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Subscribe for notification