alexametrics
Kamis, 18 Agustus 2022
Kamis, 18 Agustus 2022

SF ITB Edukasi Pedagang Asongan dan Kader Kesehatan

GIRI MENANG–Sekolah Farmasi (SF) ITB menggelar pelatihan bagi petugas kebersihan dan pedang asongan di Kota Mataram dan 20 kader kesehatan yang merupakan perwakilan dari masing-masing puskesmas di Lobar. Selama dua hari (29-30/7), para peserta dilatih untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas kader kesehatan terkait obat dan bahan makanan.

Dalam kegiatan ini, SF ITB bekerja sama dengan Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Mataram dan Dinas Kesehatan Lombok Barat. Mereka mendapatkan dukungan Hibah PKM ITB 2022 dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ITB.

“Untuk pelaksanaan kegiatan, di daerah sekitar Mataram dan UPT BLUD Puskesmas Eyat Mayang,” terang Sophi Damayanti, ketua tim pelaksana sekaligus anggota KK Farmakokimia SF ITB.

Tim pelaksana kegiatan beranggotakan para dosen SF ITB, Muhammad Azhari, Dwi Larasati Setyaningrum, Bhekti Pratiwi, Sri Indah Ihsani dan Agung Dwi Juniarsyah. Ada juga Annisa Nurfathonah dan Ghania Sakira Saiful  yang merupakan mahasiswa MBKM SF ITB. Eskarani Tri Pratiwi, dan Iman Surya Pratama yang juga merupakan Dosen di Prodi Farmasi FK UNRAM.

Baca Juga :  Antisipasi Penyakit Pascabanjir di Lobar, Dokter Diminta Siaga

Di hari pertama, kegiatan diawali dengan pembagian paket protokol kesehatan kepada masyarakat sekitar Lobar. Materi yang disampaikan ada dua, Penggunaan Obat dan Keamanan Pangan dan Pengolahan Makanan yang Aman dan Bahan Tambahan Pangan.

“Pelatihan ini sudah berjalan selama 5 tahun di Jawa Barat, alhamdulillah pada kesempatan kali ini bisa terselenggara di Kabupaten Lombok Barat, mudah-mudahan bisa bermanfaat,” katanya.

Kepala Puskesmas Eyat Mayang Akmal Rosamali mengapresiasi SF ITB karena sudah bersedia melaksanakan kegiatan di daerahnya. “Materi mengenai penggunaan obat dan keamanan pangan ini sangat penting, terlebih banyak kasus penyakit muncul karena ketidaktahuan masyarakat dan kurang baiknya dalam pengawasan sekitar,” katanya.

Diharapkan setelah para kader mengetahui apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan, dapat memberikan informasi kepada masyarakat sekitar. “Semoga kasus keracunan dan penyakit disini dapat diminimalisir, masyarakat juga dapat memanfaatkan jenis tanaman untuk dijadikan pengobatan pertolongan pertama yang tidak kalah dengan obat konvensional yang ada,” tambahnya seraya berharap kedepan bisa kembali berkegiatan di Lobar.

Baca Juga :  Lombok Indah tanpa Sampah

Dosen Program Studi Farmasi FK Universitas Mataram Iman Surya Pratama mengatakan, prinsip penggunaan obat itu simple. Yaitu Dagusibu, yang artinya dapatkan, gunakan, simpan dan buang.

“Penggunaan obat itu harus berdasarkan diagnosa terlebih dahulu, barulah kemudian jenis apa yang diberikan, dan berapa dosis yang sesuai,”, tambahnya.

Sementara materia kedua soal keamanan pangan disampaikan Sophi Damayanti yang juga dosen KK Farmakokimia SF ITB.

Menurutnya, keracunan pangan adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh masuknya sumber penyakit ke dalam tubuh karena disebabkan oleh makanan, kasus terbanyak karena mikroba (kuman). “Semua bahan memiliki sifat racun, tidak ada bahan tanpa sifat racun, jumlahlah yang menjadikan suatu bahan tidak beracun,” pungkasnya.

Setelah pemaparan materi selesai, para kader juga diberikan workshop terkait penggunaan obat dan keamanan pangan, dengan membagi beberapa kelompok dalam sesi diskusi. Acara ditutup dengan menari tarian tradisional bersama para kader dan juga seluruh panitia. (ton/adv)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/