alexametrics
Jumat, 7 Agustus 2020
Jumat, 7 Agustus 2020

Wisata Dibuka, Sesaot Kembali Ramai Pengunjung

GIRI MENANG-Dibukanya sejumlah destinasi wisata yang ada di Lombok Barat (Lobar) membawa berkah bagi masyarakat. Aktifnya sektor pariwisata dirasakan warga menggeliatkan ekonomi masyarakat, terutama para pedagang yang berjualan di sekitar destinasi wisata.

“Sejak resmi kita buka, masyarakat pun sudah mulai datang berjualan,” terang salah seorang Pengelola Purekmas Desa Sesaot, Imam S.

Padahal sebelumnya, seluruh lapak pedagang makanan minuman nyaris tidak berani ambil risiko untuk berjualan. Lantaran wabah Korona yang beberapa bulan terakhir cukup meresahkan. Namun Sabtu (4/7) lalu, ada 13 lapak pedagang sudah mulai berjualan di sekitar destinasi wisata Sesaot.

Imam mengaku, pihaknya sendiri sudah bisa tersenyum dengan kondisi saat ini. Mengingat hampir empat bulan penuh, warga sekitar dibuat menganggur karena tempat ini ditutup. “Sekarang sudah lumayan. Rata-rata per hari kemarin bisa dapat antara lima sampai enam ratus ribu dari karcis masuk. Hari ini (Sabtu) insya Allah bisa dapat sejuta,” harap Imam.

Maklum, kunjungan di hari Sabtu Minggu biasanya cukup ramai. Wisatawan yang datang ke Sesaot tidak hanya dari Lobar, tetapi juga Mataram dan Lombok Tengah. Kondisi serupa juga terlihat di Taman Narmada. Pengunjung sudah mulai berdatangan sejak dibuka per tanggal 24 Juni lalu.

“Kita sudah mulai menerima pengunjung, meski masih sedikit. Kemarin malah cuma dua orang yang mandi,” tutur Manajer Operasional di Taman Narmada, Kamaruddin.

Kondisi saat ini, imbuhnya, belum sepenuhnya bisa normal seperti sedia kala. Ia mencontohkan para pedagang sate bulayak. “Dari enam belas, baru dua yang mulai berjualan. Bahkan pusat kuliner kita di pintu keluar kolam besar, masih kosong. Belum ada yang mau berjualan,” kata Kamaruddin.

Meski belum stabil, dengan dibukanya tempat wisata, geliat ekonomi mulai berangsur hidup lagi. “Masyarakat sekitar  berangsur kembali menjalankan usahanya,” terang Kepala Dinas Pariwisata Lobar H Saiful Ahkam.

Namun Ia mengingatkan, dibukanya tempat-tempat wisata jangan hanya demi urusan ekonomi dan melupakan protokoler Covid-19. Apalagi masih ada ditemukan kasus positif Covid 19.

“Dua hari ini kami hanya monitoring, tapi mulai Minggu depan kita akan supervisi. Kita tidak akan main-main dengan protokol. Jika tidak dijalankan, kita langsung tegur agar diketatkan lagi,” tegas Ahkam.

Khusus untuk tempat wisata yang jelas pengelolanya, pihaknya menerapkan standar evaluasi. Bahkan bila terlalu longgar, bisa saja ditutup lagi. (ton/r3)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Pasien Korona Keluyuran, NTB Siapkan Denda Rp 50 Juta atau Penjara

Pasien positif Covid-19 wajib menjalani isolasi secara ketat. Jika pasien positif Covid-19 tersebut terbukti keluyuran sebelum dinyatakan sembuh dipastikan akan dipidana. “Ketentuan pidana dalam Perda menyebut, dikenakan pidana kurungan paling lama enam bulan atau denda paling banyak Rp 50 juta,” kata Kepala Biro Hukum Setda NTB H Ruslan Abdul Gani, Kamis  (6/8).

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Sosialisasi dan Penilaian Lomba Kampung Sehat Sampai September

PAMATWIL Kabag Sumda Polres Bima AKP Arief Hamid menggelar asistensi dan pemantauan kesiapan desa-desa di Kecamatan Palibelo, Bima, untuk mengikuti Lomba Kampung Sehat.

Kisah Serbat Jahe Desa Langko Lobar yang Bikin Kepincut Ibu Negara

Di tengah pandemi Korona sekarang ini, stamina dan imunitas tubuh harus tetap terjaga. Nah, minuman tradisional dari Desa Langko, Lombok Barat ini patut dicoba. Bentuknya Serbat Jahe. Ibu Negara Iriana Joko Widodo saja mencobanya.

Potensi Kebakaran Hutan di NTB Tinggi, DLHK Intensifkan Pengawasan

”Petugas KPH kami sekarang patroli 24 jam di lokasi yang selama ini sering terjadi kebakaran hutan,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, kemarin (6/8/2020).

Idola Baru Wisatawan, Bukit Pal Jepang Terapkan Sistem Booking Online

Begitu dibuka, Bukit Pal Jepang Desa Sapit, Kecamatan Suela, jadi incaran wisatawan. Dalam sebulan, bukit dengan ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut itu sudah didaki 3.550 wisatawan. Ibarat tengah berpuasa, inilah waktunya berbuka, setelah selama pandemi Covid-19 menahan dahaga akan sepinya wisatawan.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Peredaran Gelap Tramadol di Gomong Mataram, Lima Orang Ditangkap

Tim Satnarkoba Polresta Mataram menggerebek rumah pengedar obat-obatan daftar G di Gomong, Mataram, Rabu (5/8). Sebanyak lima orang ditangkap. ”Dua pembeli, satu perempuan sebagai  penyedia, dan dua penjual,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson usai penggerebekan.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Viral Pengunjung “Disko” Pendakian Savana Propok Rinjani Ditutup

Pengelola bukit Savana Propok, Pokdarwis Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba menindaklanjuti video joget para pendaki yang viral di media sosial. “Untuk mengevaluasi hal tersebut, kami akan menutup bukit mulai 8 Agustus,”  kata Ketua Pokdarwis Bebidas Chandra Susanto pada Lombok Post, kemarin (4/8).

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).
Enable Notifications.    Ok No thanks