alexametrics
Rabu, 23 September 2020
Rabu, 23 September 2020

Lalu Ahmad Ismail: Pertambangan dan Pariwisata Bisa Beriringan

GIRI MENANG-Langkah penertiban tambang emas tak berizin di wilayah Kecamatan Sekotong Lombok Barat (Lobar) mulai dilakukan. Menanggapi persoalan ini, anggota DPRD Provinsi NTB asal Sekotong Lalu Ahmad Ismail buka suara.

“Tambang emas rakyat itu harusnya tidak di tutup, tetapi ditertibkan,” kata dia.
Ia menjelaskan, persoalan tambang rakyat ini bukanlah masalah baru. Persoalan ini sudah muncul sejak tahun 2009. Ketika ia menjabat pada tahun 2009-2014 di DPRD Lobar, ia mengaku pernah membentuk Perda yang mengatur persoalan tambang di Sekotong.

“Saya duduk di komisi tiga yang membidangi masalah pertambangan. Kami sudah godok Perda Pertambangan,” jelasnya.

Dalam pembentukan Perda tersebut, telah disusun Rencana Tata Ruang Daerah (RTRD) di wilayah Sekotong. Dengan adanya RTRD tersebut, sudah jelas pembagian mana saja yang menjadi kawasan pertambangan dan menjadi kawasan pariwisata.

Di dalam tata ruang tersebut diatur jika wilayah pertambangan di Sekotong seluas 27.000 hektar. “Dari jumlah tersebut ada 700 hektare yang menjadi Wilayah

Pertambangan Rakyat (WPR),” jelasnya.
Itu yang kemudian dikelola oleh masyarakat melalui koperasi. Masing masing koperasi mendapatkan 10 hektare dari yang 700 hektar luas WPR. Sisanya, area pertambangan dikelola oleh perusahaan.
“Sehingga kawasan pertambangan di Sekotong menurut saya bisa berjalan beriringan dengan pariwisata. Karena ini kan sudah jelas pembagian kawasannya,” ungkapnya.

Ia meminta semua pihak melihat dampak sosial keberadaan tambang emas di Sekotong. Selama ini, tambang emas banyak memiliki dampak posistif untuk perekonomian masyarakat. “Dengan adanya tambang emas, warga yang tidak punya rumah sekarang sudah bisa bikin rumah,punya sepeda motor, dan lain-lain,” tegasnya.

Jika kemudian muncul kabar ada dampak negatif seperti isu pencemaran lingkungan, Lalu Ismail merasa perlu ada kajian medis yang menyeluruh. Tidak kemudian disebarluaskan sehingga berdampak negatif terhadap pariwisata.

Lalu Ismaio juga menegaskan jika pertambangan di wilayah Sekotong berbeda dengan wilayah lain. Misalnya di bukit Prabu Lombok Tengah. “Kalau di Prabu memang tambang ilegal, sementara kita di Sekotong sudah ada Perda dengan Wilayah Pertambangan Rakyat itu,” ucapnya menekankan.

Sehingga kehadiran pertambangan Sekotong tidak akan mengganggu sektor pariwisata. Justru tambang rakyat ini bisa menjadi jualan bagi wisatawan yang ingin melihat langsung proses pertambangan rakyat. Karena itu, pariwisata dan pertambangan di Sekotong menurutnya tidak bisa di pisah-pisahkan. “Keduanya (pariwisata dan pertambangan) merupakan sumber daya yang harus kita kembangkan,” tandasnya. (ton)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Dorong Pertumbuhan Ekonomi, NTB Promosikan Peluang Investasi

Ini merupakan kegiatan yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dan Bank Indonesia. ”Pasti ujungnya juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Kepala Perwakilan BI NTB Heru Saptaji.

Efek Pandemi, Transaksi Valas di NTB Melorot 90 Hingga Persen

”Hingga kini pandemi telah memukul telak seluruh kegiatan usaha penukaran valuta asing (kupva) di money changer hingga 90 persen,” kata Darda Subarda, pemilik Money Changer PT Tri Putra Darma Valuta, kepada Lombok Post, Selasa (22/9/2020).

Silky Pudding Drink Lombok, Minuman Kekinian Satu-satunya di Lombok

Minuman ini hadir dengan delapan varian rasa, yakni Red Island, Choco Dream, Magical Blue, dan Beauty Sunset. Juga Baby Queen, Sweet Choco, Deep Purple dan terakhir ada Snlight Choco. “Harganya hanya Rp 13.000 per cup,” kata Ramadarima, pemilik Silky Pudding Drink Lombok.

Sumbawa Gelar Simulasi KBM Tatap Muka

”Masing-masing kecamatan, ada perwakilan atau piloting, minimal dua sekolah yang kami tunjuk,” kata Sahril.

Disdik Kota Mataram Berharap Bantuan Kuota Dimanfaatkan Maksimal

”Kami belum tahu persis, makanya kami akan tunggu petunjuk berikutnya,” ujarnya, pada Lombok Post, Selasa (22/9/2020).

Saatnya Kota Mataram Dipimpin Arsitek

“Tidak bisa kita mengharapkan perubahan, kalau masih memberikan kepemimpinan pada orang yang sama,” kata Ketua Partai Gelora NTB HL Fahrurrozi.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Dua Terduga Pengedar Ekstasi Tertangkap di Karang Kediri

Dua terduga pengedar ekstasi berinsial PAW alias Patrick, 28 tahun, dan AZP alias Agli, 25 tahun, dibekuk tim Satnarkoba Polresta Mataram, Kamis (17/9) malam. ”Kita tangkap mereka di Lingkungan Karang Kediri, Cakranegara,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson, kemarin (18/9).

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks