alexametrics
Jumat, 12 Agustus 2022
Jumat, 12 Agustus 2022

Proyek Penataan Senggigi Longsor, Dewan Pertanyakan Kualitas Bangunan

GIRI MENANG—Dua proyek penataan kawasan Senggigi senilai Rp 4,2 miliar luluh lantak akibat longsor. Jarak peristiwa tersebut pun cukup berdekatan.

Tebing sekitar Hotel Sheraton di Senggigi yang masuk dalam proyek dengan nilai Rp 2,6 miliar tergerus longsor, Minggu (31/1/2021). Kemudian tebing sekitar Kafe Alberto bernilai Rp 1,6 miliar longsor pada Sabtu (6/2/2021).

DPRD Provinsi NTB Dapil Lobar-KLU Hasbullah Muis meminta pihak terkait bertanggung jawab. “Pemkab Lobar dan Pemprov NTB harus segera duduk bersama mendiskusikan penanganan dan antisipasinya,” kata Hasbullah Muis saat mengecek langsung longsor tersebut, Sabtu (6/2/2021).

Tebing sekitar Hotel Sheraton longsor sedalam 10 meter dengan panjang 30 meter. Sedangkan tebing sekitar Kafe Alberto longsor sedalam 11 meter dengan panjang 45 meter.

Salah satu faktor hujan dengan intensitas cukup tinggi yang terjadi terus menerus berpengaruh terhadap kondisi alam di Senggigi. Selain itu, perlu ada kajian teknis lagi apakah ada pengaruh dari konstruksi yang baru dibangun atau kondisi tekstur tanah yang ada di lokasi.

“Kemudian perlu dikaji dari sisi kualitas bangunan dan hasil proyek baru yang dilakukan. Apakah berdampak atau tidak?” ujarnya.

Baca Juga :  Tim Ahli Mundur di Kasus Longsor Senggigi, Ketua Gapensi: Ini Aneh!

Dijelaskan, dua infrastruktur yang longsor tersebut merupakan akses vital menuju kawasan Senggigi yang merupakan daerah pariwisata NTB. Jadi ini perlu penanganan yang cepat.

“Saya mengkhawatirkan, kalau ini tidak segera ditangani, maka bisa bertambah lebar karena kultur tanah di bawah itu sangat rawan dan berpasir,” imbuh anggota Komisi IV Bidang Pembangunan DPRD Provinsi NTB.

Balai Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (BP2JN) NTB sendiri, saat ini akan melakukan penyelidikan tanah. Kemudian menentukan desain penanganan yang dapat diambil. “Struktur tanah di kawasan itu, lengkung dan berpasir,” kata Perencanaan BP2JN NTB Gaguk Supriatno saat mengecek lokasi longsor di tebing Kafe Alberto.

Diduga longsor terjadi selain karena faktor cuaca, penataan trotoar yang baru ada di atas tebing tanpa melalui pertimbangan kemampuan tebing menahan beban besi pengaman. Seharusnya ini dicek dulu. Kemudian diperkuat konstruksi bagian bawahnya. Termasuk yang mengalami longsor di tebing Senggigi View.

“Jadi, kita harus melakukan kajian menyeluruh cara pengamanan dan solusi perbaikan. Kami akan melakukan evaluasi dan melakukan pengawasan di semua titik tebing yang ada di kawasan Senggigi,” imbuhnya.

Baca Juga :  Polisi Pastikan Penyelidikan Longsor Senggigi Jalan Terus

Kepala Dinas Pariwisata Lobar H Saepul Akhkam belum memberikan tanggapan. Ia meminta untuk informasi tentang terjadinya longsor tersebut langsung ditanyakan ke Dinas PUTR Lobar. Alasannya, ini masalah teknis.

“Teman-teman bisa minta info ke Kadis PUTR. Tadi kami sepakat PUTR yang bisa menjelaskan karena sangat teknis,” jelasnya.

Tidak hanya bencana longsor yang terjadi di Lobar bagian utara pekan ini. Pada Jumat (5/2/2021) malam hari juga terjadi puting beliung di Lobar bagia selatan. Puting beliung ini memporak porandakan rumah warga dan menumbangkan pohon-pohon.

“Puting beliung terjadi Jumat (5/2) pukul 18.00 Wita yang terdampak Desa Labuan Tereng,” kata Camat Lembar Hasanudin.

Ia menjelaskan akibat puting beliung itu merusakkan  rumah warga. Rumah rusak berat 10 rumah dan rusak ringan 30 rumah. Berbagai bantuan juga telah diberikan kepada warga terdampak baik dari Pemkab Lobar dan Forum Wartawan (Forta) Lobar.

“Warga terdampak Dusun Gerepek 78 Kepala Keluarga dan Dusun Embung Kolah 10 Kepala Keluarga,” ujarnya. (nur/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/