alexametrics
Rabu, 23 September 2020
Rabu, 23 September 2020

Dinas Kesehatan Lobar Salahkan Orang Tua Anak Penderita Gizi Buruk

GIRI MENANG-Suci Istiqomah, 3 tahun, balita penderita gizi buruk dari Desa Sesela, Kecamatan Gunungsari kini sudah dirawat di RSUD Kota Mataram ruang Irna 3A. Ia didampingi seorang diri oleh ibunya Ida Yanti dibantu pihak Lombok’s Charity.

“Ada yang datang jengukinh dari tadi pagi. Dari Baznas Provinsi NTB, Kapolres Mataram dan pihak dokter gizi Puskesmas Gunungsari,” tutur Ida Yanti kepada Lombok Post, tadi malam (7/11).

Ketika wartawan Lombok Post datang, Suci Istiqomah terlihat sedang makan. Ia mengambil sendiri makanannya sambil terbaring. Butir demi butir nasi diangkatnya menggunakan tangannya yang terlihat sangat kurus. Tinggal tulang belulang karena dilapisi daging yang sangat tipis. “Dia nggak mau disuapin. Makanya makan sendiri,” tutur Ida Yanti.

Diceritakannya, kondisi anak ketiganya tersebut sudah kurus seperti ini sekitar tiga bulan terakhir. Akibat balita ini tidak mau makan sama sekali. Tubuhnya yang kurus membuat orang tuanya sempat membawanya ke Puskesmas Gunungsari. Oleh pihak Puskesmas, ia diminta untuk dirujuk ke RSUD Tripat Gerung.

“Tapi nggak ada biaya makanya saya minta bawa pulang. Disuruh daftar BPJS Kesehatan, saya dan suami tidak tahu caranya,” akunya.

Akibatnya, kondisi Suci terpaksa dirawat di rumah dengan kondisi seadanya. Sehingga ia pun mengidap gizi buruk seperti saat ini. Ida Yanti mengaku dari kemarin ia sendiri menjaga anaknya. Tidak ada keluarga yang datang termasuk suaminya. “Semua lagi ngurus anaknya. Suami saya juga sibuk perbaiki TV di rumah. Itu pekerjaannya,” akunya.

Beruntung, ia dibantu oleh seorang anggota Lombok’s Charity yang peduli terhadpa persoalan seperti ini.

Sementara menurut Kepala Dinas Kesehatan Lobar H Rachman Sahnan Putra, kondisi Suci sudah terpantau jauh sebelum ia mengalami kondisi seperti saat ini. Petugas kesehatan dilaporkan telah mengunjungi rumah kedua orang tua Suci September lalu. Petugas menemukan balita kelahiran 22 Juni 2016 ini dalam keadaan sakit batuk sesak dan terdapat luka decubitus pada bagian pantat.

Saat itu, petugas langsung merujuknya ke puskesmas. Namun orang tuanya menolak anaknya dirawat inap di puskesmas. Sehingga dokter hanya memberikan obat dan memberikan F75 kepada balita tersebut.

“Obatnya diantarkan setiap hari ke rumahnya,” jelas Rachman melalui laporan tertulis kepada Lombok Post, kemarin (6/11).

Namun setelah diadakan pemantauan oleh petugas, ternyata F75 tidak diberikan secara teratur oleh orang tua. Sehingga pada tanggal 14 september 2019 petugas menjemput balita ke rumahnya untuk mendapatkan perawatan rawat inap.

Suci kemudian didiagnosa menderita infeksi bacterial dan gizi buruk. Sayangnya, orang tuanya menolak anaknya dirujuk kerumah sakit.

Oktober lalu balita mengikuti kelas gizi namun ibu balita jarang membawa anaknya ke kegiatan tersebut dan petugas selalu menjemput Suci ke rumahnya. Sehingga kesimpulan yang didapati Dinas Kesehatan, gizi buruk terjadi akibat pola asuh orang tua yang kurang baik.

Orang tua dinilai tidak teratur memberikan makan kepada anaknya. Bahkan hanya satu kali sehari. Orang tua Suci juga dianggap kurang respons dan tidak mau anaknya dirujuk untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik.

“Orang tuanya tidak mau bekerja sama dengan tenaga kesehatan. Ia selalu menolak ketika anak akan dirawat dan dirujuk,” jelasnya.

Terkait balita yang tidak memiliki BPJS Kesehatan, petugas sudah mendiskusikan dengan pihak desa melalui Sekdes dan Kades. Namun diakui pihak dinas kesehatan, belum ada realisasi dari upaya membantu kepesertaan bocah malang tersebut. (ton/r3)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Dorong Pertumbuhan Ekonomi, NTB Promosikan Peluang Investasi

Ini merupakan kegiatan yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dan Bank Indonesia. ”Pasti ujungnya juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Kepala Perwakilan BI NTB Heru Saptaji.

Efek Pandemi, Transaksi Valas di NTB Melorot 90 Hingga Persen

”Hingga kini pandemi telah memukul telak seluruh kegiatan usaha penukaran valuta asing (kupva) di money changer hingga 90 persen,” kata Darda Subarda, pemilik Money Changer PT Tri Putra Darma Valuta, kepada Lombok Post, Selasa (22/9/2020).

Silky Pudding Drink Lombok, Minuman Kekinian Satu-satunya di Lombok

Minuman ini hadir dengan delapan varian rasa, yakni Red Island, Choco Dream, Magical Blue, dan Beauty Sunset. Juga Baby Queen, Sweet Choco, Deep Purple dan terakhir ada Snlight Choco. “Harganya hanya Rp 13.000 per cup,” kata Ramadarima, pemilik Silky Pudding Drink Lombok.

Sumbawa Gelar Simulasi KBM Tatap Muka

”Masing-masing kecamatan, ada perwakilan atau piloting, minimal dua sekolah yang kami tunjuk,” kata Sahril.

Disdik Kota Mataram Berharap Bantuan Kuota Dimanfaatkan Maksimal

”Kami belum tahu persis, makanya kami akan tunggu petunjuk berikutnya,” ujarnya, pada Lombok Post, Selasa (22/9/2020).

Saatnya Kota Mataram Dipimpin Arsitek

“Tidak bisa kita mengharapkan perubahan, kalau masih memberikan kepemimpinan pada orang yang sama,” kata Ketua Partai Gelora NTB HL Fahrurrozi.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Dua Terduga Pengedar Ekstasi Tertangkap di Karang Kediri

Dua terduga pengedar ekstasi berinsial PAW alias Patrick, 28 tahun, dan AZP alias Agli, 25 tahun, dibekuk tim Satnarkoba Polresta Mataram, Kamis (17/9) malam. ”Kita tangkap mereka di Lingkungan Karang Kediri, Cakranegara,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson, kemarin (18/9).

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks