alexametrics
Jumat, 10 Juli 2020
Jumat, 10 Juli 2020

Curhat MU Mantan Suami Mita (2) : Menikah dengan Mahar Rp 500 Ribu dan Air Zamzam

MU (inisial) warga Desa Gelogor, Kecamatan Kediri, Lobar  kini hanya bisa menyesal. Karena “wanita” yang dinikahinya dengan mahar Rp 500 ribu dan Air Zamzam itu, bukan wanita. Tapi seorang pria.

 

HAMDANI WATHONI, Giri Menang

 

Tak hanya MU yang merasa tertipu oleh  Su alias Mita. Kepala Dusun Gelogor Selatan hingga Kepala Desa Gelogor Arman Iswara pun malu atas apa yang menimpa warganya. Lantaran, berbagai macam interpretasi dari masyarakat luas diarahkan pada mereka.

Semenjak kasus penikahan sejenis yang dialami MU mencuat di media sosial, beragam komentar netizen bermunculan. Ada yang mencela, mencaci, maki hingga memandang hina MU yang justru merasa sebagai korban penipuan.

“Saya dapat info dari teman-teman, banyak yang mencemooh di media social Facebook. Namun ketika saya cek, sudah dihapus. Tapi sudah ada screenshot-nya,” beber MU kepada Lombok Post.

Ia tak kuasa menahan malu. Begitu juga keluarga khususnya ibunya yang trauma. Belum lagi warga kampung tempatnya tinggal. MU tak tahu harus berkata apa. Menjelaskan musibah yang dialaminya di luar kehendaknya.

 

Baca Juga Pengakuan Mita : Pengakuan Mita Sebelum Nikah Suami Tahu Dirinya Lelaki

Ia tak menyangka pernikahan yang diimpikannya berakhir menjadi petaka. Padahal, sejak awal ia mengira Mita alias Su yang ternyata laki-laki adalah perempuan salihah. Mita rajin membangunkannya setiap pagi. Pakaian Mita yang dibalut cadar saat pertama kali bertemu semakin membuatnya terpesona. Belum lagi bahasa dan ucapan lembut Mita lewat pesan singkat maupun telepon. MU benar-benar tertipu.

“Saya berharap persoalan ini bisa selesai. Saya mohon orang yang sudah mengetahui kejadian ini tidak salah persepsi. Saya merasa malu,” ungkap MU meneteskan air mata tak kuasa menahan kesedihan.

Kepala Dusun Gelogor Selatan Hamdani mewakili keluarga korban juga merasa terpukul. Lantaran, ia juga menjadi saksi hidup ketika akad nikah antara MU dengan Mita berlangsung. Ia tidak menyangka sedikit pun jika Mita yang saat itu menggunakan cadar ternyata seorang laki-laki.

Baca Juga : Curhat MU Mantan Suami Mita (1) : Kencan Pertama di Udayana, Terpedaya Hingga Malam Pertama

Apa yang disampaikan di media sosial dan beredar dengan berbagai interpretasi dikatakannya tidak sesuai dengan fakta. “Itu nanti akan kami tindaklanjuti. Saya ikut menyaksikan pernikahan itu dan tidak ada kecurigaan kalau dia laki-laki. Sehingga saya sebagai kepala dusun berharap pelaku bisa dikenakan sanksi sesuai dengan hukum yang berlaku,” harapnya.

Kepala Desa Gelogor Selatan Arman Iswara juga merasakan hal yang sama. Menurutnya bukan hanya MU yang merasa malu dengan kejadian ini. Tapi penipuan yang dilakukan Mita alias Su telah membuat nama baik Desa Gelogor tercemar. “Terasa sekali dampaknya bagi pemerintah desa,” ujarnya.

Ia tidak menyangka persoalan ini akan menjadi buah bibir di masyarakat sejak terungkap di media sosial. Karena ia juga sempat mengira Mita perempuan utuh. Terlebih, saat akad nikah, Mita meminta maskawin atau mahar yang tidak terlalu banyak.

“Uang Rp 500 ribu dan air zam-zam. Sudah dibayarkan dan diterima oleh pelaku langsung,” jelas Kades.

Namun setelah kedok Mita terkuak, pengakuan yang memalukan justru ia ungkapkan. Apa yang disampaikan Mita kepada pihak kepolisian jauh berbeda dengan keterangan yang diberikan oleh MU. Sehingga informasi yang diterima masyarakat akhirnya simpang siur.

Untuk itu, pemerintah desa pun sudah mengklarifikasi persoalan ini kepada pihak Kepala Lingkungan di Kelurahan Pejarakan Karya Kecamatan Ampenan tempat tinggal Mita. Sehingga identitas asli Mita sebagai seorang laki-laki akhirnya terbongkar.

“Terjadi pembohongan publik. Biarkan fakta hukum yang membuktikan, sah-sah saja pelaku membela diri. Jika ada statemen palsu yang merugikan kami, maka kami juga akan mengambil langkah hukum pencemaran nama baik,” tegasnya.

Ia juga berharap masyarakat bisa berpikir jernih dan tidak menghakimi musibah yang dialami MU. Khususnya di media sosial.

Sedangkan kuasa hukum MU Aan Ramadan menegaskan pihaknya tengah menyiapkan langkah hukum ke pihak kelurahan. Lantaran, mereka dianggap turut andil dalam kasus penipuan yang dilakukan Su alias Mita. Karena telah mengeluarkan dokumen rekomendasi pernikahan.

“Langkah hukum yang sedang berjalan kami ikuti, tidak menutup kemungkinan kami akan ambil sikap hukum terhadap aparat lingkungan yang mengeluarkan rekomendasi pernikahan. Kelurahan Pejarakan Karya (Kecamatan Ampenan) kan dia yang mengeluarkan rekomendasi pernikahan atas nama Mita,” ujar Aan, sapaannya.

Baik KTP dengan idetintas Mita, jenis kelamin perempuan, dan domisili Pejarakan Karya disebutnya dikeluarkan pihak kelurahan. “Tidak mungkin KTP itu bisa hadir sendiri,” tandasnya. (*/r3-HABIS)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Mataram Bisa Tiru Depok, Tak Pakai Masker Denda Rp 200 Ribu

Pemkot Mataram merespons kritikan Wakil Gubernur NTB. Kemarin, tim gabungan yang terdiri dari Satpol PP, TNI, dan Polri melakukan penertiban di pagi buta. Sasarannya, para pedagang di Pasar Kebon Roek, Ampenan.

Kuliah ke Luar Daerah, Warga Mataram Harus Bebas Korona

Warga Kota Mataram yang kuliah di luar daerah cukup banyak. Kemarin kata dia, sekitar 50 mahasiswa mengajukan permintaan melakukan rapid test. Dari jumlah tersebut tidak ada yang hasilnya reaktif.

12 Karyawan Bank di Cilinaya Mataram Positif Korona

Di Kelurahan Cilinaya misalnya. Di sini tercatat ada 12 karyawan salah satu bank terpapar virus Korona. “Sebenarnya hanya satu. Namun setelah kita tracing, menjadi 12 orang yang positif,” kata Lurah Cilinaya I Gusti Agung Nugrahini, Kamis (9/7)

Di Kediri Lobar, Ibu Rumah Tangga Diduga Jual Narkoba

WM, 28 tahun, warga asal Kediri Selatan ditangkap Satres Narkoba Polres Lobar. Ia bersama kedua rekannya MA dan MU diduga menjadi penjual dan penyalahguna narkotika jenis sabu. Bahkan, WM alias Dewi ini diketahui sebagai penjual obat penenang tanpa izin pihak instansi kesehatan.

Pariwisata Lesu, Pengusaha Travel Lombok Bertahan lewat Promo

Agen travel perjalanan wisata terus berupaya bertahan dalam ketidakpastian Pandemi Korona. Sektor ini menjadi salah satu yang paling terdampak akibat turunnya kunjungan wisatawan. ”Kami upayakan tetap bangkit seiring dengan penerapan new normal yang sedang digaungkan,” kata Kukuh Laro, pemilik Duta Lombok Transport.

Berdayakan UMKM Lokal, Bappeda NTB Tunggu Pergub

Pergub Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) hingga kini belum rampung. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB masih menunggu kelanjutan masukan dan revisi dari gubernur. ”Sampai hari ini (kemarin,Red) kita belum terima. Jika sudah ada, akan langsung kita jadikan landasan dalam memberdayakan UKM/IKM,” kata Kepala Bappeda NTB Amry Rakhman, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/7/2020).

Paling Sering Dibaca

Jika Masih Tak Patuh, Seluruh Pasar di Mataram Bakal Ditutup Paksa

akil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah mengancam akan menutup pasar yang mengabaikan protokol kesehatan. Ancaman tersebut disampaikan Wagub saat menggelar inspeksi mendadak di Pasar Mandalika, kemarin (8/7). Dia mendapati langsung banyak pedagang dan pembeli tidak mengenakan masker.

Zona Merah Korona, Wagub NTB : Mana Pol PP Mataram, Kenapa Sembunyi?

Pemkot Mataram dinilai lemah dalam merespon dan menangani Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun begitu geregetan. Meski zona merah dengan kasus positif dan kematian tiap hari, penerapan protokol kesehatan di ibu kota justru sangat longgar. Tak lagi ada pengawasan macam sedang tidak terjadi apa-apa.

Istri Model Suami Youtuber, Bantah Cari Sensasi “Mahar Sandal Jepit”

Pernikahan dengan mahar sandal jepit Iwan Firman Wahyudi dan Helmi Susanti bukan bermaksud mencari  sensasi di media sosial. Menurut mereka ikatan mereka tulus beralas kasih sayang.

Pilbup Loteng, Lale Prayatni Mulai Goyang Posisi Pathul Bahri

Lobi politik tersaji di DPP Partai Gerindra. Dari informasi yang dihimpun Lombok Post, diam-diam SK Gerindra dibidik Prayatni melalui ‘lorong’ Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo.

Turun dari Rinjani, Warga Lombok Tengah Tewas Jatuh ke Jurang

Pendakian di Gunung Rinjani kembali memakan korban jiwa. Sahli, 36 tahun, warga Desa Tampak Siring, Lombok Tengah meninggal setelah terjatuh ke jurang di kawasan Gunung Rinjani, Senin (6/7).
Enable Notifications.    Ok No thanks