alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Tak Terurus, Hotel Santosa Senggigi Mirip Rumah Hantu

GIRI MENANG-Pariwisata Senggigi benar-benar terancam. Satu per satu hotel tutup. Karena tak lagi mampu menutupi biaya operasionalnya.

Salah satu hotel yang tumbang itu adalah Hotel Santosa. Salah satu hotel terbesar di Senggigi itu kini terlihat seperti rumah hantu. Kolam renangnya yang dulu sempat jadi favorit wisatawan, kini berubah jadi sarang nyamuk.

Anggota Komunitas Lombok Ocean Care pun angkat suara melihat kondisi ini. Ketuanya, Sakinah mengaku kecewa melihat Senggigi tak terurus lagi. “Persoalan sampah, dermaga yang tak tuntas, pantai yang dipadati perahu nelayan, hingga masalah eks Hotel Santosa yang kumuh menjadi fakta yang tak terbantahkan.

Hal itu, menurutnya sangat mengganggu wisatawan. “Sejak tahun lalu bangunan Hotel Santosa tidak terurus. Ketika musim hujan, air menggenang dan menjadi sarang nyamuk,” kata Sakinah kepada Lombok Post, kemarin (11/2).

Bangunan eks hotel tersebut dikatakannya layaknya eks bangunan lokasi perang. Sangat mengganggu pemadangan Senggigi yang menjadi ikon pariwisata Lobar.

Beberapa wisatawan asing yang datang mengeluhkan kondisi bangunan tersebut. Kondisinya yang tak terurus dan terkesan kumuh membuat Senggigi seperti bukan destinasi wisata.

“Sering sekali keluhan dari wisatawan kami terima. Setiap tamu hotel yang ada di sana pasti akan melintas karena bangunan itu berada di area utama Pantai Senggigi,” ungkap perempuan yang juga pengelola E-One Tour and Travel tersebut.

Ia bersama sejumlah anggota komunitas pencinta lingkungan beberapa kali melakukan aksi bersih pantai di Senggigi. Sayang, upaya ini terkesan tidak mendapat dukungan dari pemerintah daerah.

Padahal ia berharap pemerintah punya inisiatif bergerak. Tidak membiarkan kondisi Senggigi seperti ini. “Memang bangun hotel itu milik pribadi. Dia (pemilik Hotel) di Jakarta tapi kita yang merasakan dampaknya. Kami berharap Pemda Lobar menegur dan bersurat kepada mereka,” pintanya.

Minimal keberadaan eks bangunan hotel tersebut tidak merusak pemandangan Senggigi. Terlebih memberi dampak yang kurang baik terhadap kesehatan masyarakat. “Coba turun cek ke sana, bangunanannya kumuh kolamnya dipenuhi sampah dan jadi sarang nyamuk,” bebernya.

Ia merasa, jika Pemda Lobar terus diam seperti saat ini, maka Senggigi bukan tidak mungkin akan ditinggalkan. Seiring dengan keberadaan KEK Mandalika di Lombok Tengah.

Senada dengan itu, Kepala UPT Dermaga Senggigi Noor Fazli juga mengaku jika kolam eks Hotel Santosa memang sudah lama dipenuhi sampah dan menjadi sarang nyamuk. Hanya saja pihaknya tidak memiliki kewenangan masuk ke kolam maupun area eks Hotel Santosa.

“Meski kantor kami dekat, tapi tidak ada kewenangan kami ke sana,” ucapnya.

Sedangkan Pemerintah Desa Senggigi melalui Sekdes mengaku belum menerima laporan jika kolam eks Hotel Santosa menjadi sarang nyamuk. Masyarakat memang dikatakannya dilarang masuk karena area ini merupakan milik pribadi.

Namun ia berjanji setelah mendapat informasi ini akan turun bersama Bhabinkamtibas untuk mengecek lokasi. “Nanti akan menindaklanjutinya untuk bersama-sama mekakukan pembersihan untuk mencegah terjadinya dampak gangguan kesehatan bagi warga maupun wisatawan,” jelasnya.

Pantauan Lombok Post, kondisi Pantai Senggigi kemarin memang sangat memprihatinkan. Banguan eks Hotel Santosa terlihat menyeramkan. Sementara bibir Pantai Senggigi yang ada di depannya dipadati perahu nelayan dan bahan bangunan milik rekanan proyek Dermaga Senggigi yang tak tuntas.

Belum lagi ruang tunggu dermaga yang rusak akibat ponton pihak rekanan hingga kemarin belum juga diperbaiki. (ton/r3)

 

 

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.
Enable Notifications    Ok No thanks