alexametrics
Minggu, 12 Juli 2020
Minggu, 12 Juli 2020

Dua Tahun Berlalu, Korban Gempa di Lobar Ini Masih Tinggal di Hunian Sementara

GIRI MENANG-Sinarep, warga korban gempa yang mengguncang Lombok 2018 lalu merasa diabaikan. Dua tahun menunggu, warga Desa Pusuk Lestari ini merasa belum ada kejelasan kapan ia menerima bantuan perbaikan rumahnya yang kini ambruk total.

“Katanya sudah diusulkan. Tapi sampai sekarang belum jelas kapan dibangunkan atau dapat bantuan,” kata Sinarep didampingi anaknya Mahsun Efendi yang merupakan penyandang disabilitas.

Dampaknya, warga Dusun Kedondong Bawak ini sampai sekarang terpaksa masih tinggal di Hunian Sementara (Huntara) beratap seng bekas dan dinding bambu alias bedek. Dinding tersebut terlihat berlubang dan atapnya kerap bocor.

“Kalau hujan ya air masuk. Makanya kami sangat berharap kami dapat bantuan perbaikan rumah yang dijanjikan,” timpal Mahsun, anak Sinarep.

Kepala Dusun Kedondong Bawak Zulfan menyayangkan tidak ada kejelasan kapan bantuan akan diberikan kepada warganya. Meskipun ia mendapati jawaban dari Dinas Perkim Lobar jika Sinarep sudah masuk dalam SK susulan penerima bantuan korban gempa.

“Bayangkan ini sudah dua tahun. Warga butuh tempat istirahat yang layak dan aman untuk keluarga mereka. Saya berharap pemerintah segera menindaklanjuti korban gempa ini,” harapnya.

Ia pun telah berkoordinasi dengan pemerintah Desa Pusuk Lestari untuk membantu warga melalui program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Jika memang tidak ada kejelasan. Hanya saja itu belum bisa dilaksanakan.

“Kami minta ada kejelasan. Kami khawatir setelah lama menunggu ternyata tidak ada anggaran bantuan gempa karena penanganan korona ini. Makanya kalau memang tidak bisa, kami harap warha dibantu dari program RTLH kabupaten, kalau tidak bisa ya terpaksa dari desa,” jelas Kepala Desa Pusuk Lestari H Junaidi kepada Lombok Post.

Kepala Bidang Perumahan Dinas Perkim Lobar Lalu Ratnawi menjelaskan nama Sinarep sudah masuk dalam SK penerima bantuan susulan. Itu sudah diusulkan ke BNPB. “Tinggal kita menunggu transfer dari pusat. Insya Allah bisa (tahun ini). Anggarannya beda-beda (antara bantuan gempa dan korona),” jelas Ratnawi menjawab kekhawatiran kepala desa.

Saat ini, pihaknya masih menyiapkan syarat administrasi pengangkatan fasilitator sipil untuk mendampingi rehab rekon bantuam gempa tahap II. Terkait permintaan desa untuk membantu warga melalui program RTLH kabupaten atau desa, Ratnawi mengaku harus berkoordinasi terlebih dulu. Karena jika Sinarep dibantu melalui program RTLH, otomatis ia harus dicoret dari data penerima bantuan rumah korban gempa.

“Karena tidak boleh dobel. Kemudian apakah bisa selesai rumahnya nanti dengan bantuan RTLH sekitar Rp 17,5 juta. Ini kami harus koordinasi,” tandasnya. (ton/r3)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Dewan Mataram Sorot Kualitas Makanan untuk Pasien Korona

Pansus pengawasan covid DPRD Kota Mataram mengkritisi penanganan pasien di Wisma Nusantara (Wisnu). ”Pas kunjungan ke sana, kita tanyakan beberapa hal. Salah satunya soal makanan,” kata Ketua Pansus Abdurrachman,

Ke Praya Tak Pakai Masker, Siap-siap Dihukum Push Up

Menurunnya kesadaran warga menggunakan masker membuat jajaran Polres Lombok Tengah menggelar razia. “Kami sasar pasar-pasar dan pusat pertokoan di wilayah Praya,” kata Kasatnarkoba Polres Loteng Iptu Hizkia Siagian, Jumat (10/7).

JPS Gemilang III Segera Disalurkan, Mudah-mudahan Tepat Sasaran

antuan Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang tahap III segera disalurkan. Gubernur NTB H Zulkieflimansyah meminta penyaluran JPS yang terakhir ini dilakukan tanpa cela.

Pemerintah Janji Bantu UMKM NTB Terdampak Korona, Ini Syaratnya

encairan bantuan Rp 800 triliun bagi UMKM dan IKM masih menunggu petujuk pemerintah pusat. ”Kita tunggu petunjuk teknisnya dari kementerian koperasi UKM,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB Wirajaya Kusuma, Jumat (10/7

Kompak Lawan Korona, Kelurahan Cakra Timur Bertahan di Zona Hijau

Kelurahan Cakranegara Timur patut dicontoh. Saat keluarahan lain di Kota Mataram zona merah Covid-19, justru Cakra Timur berada pada zona hijau. Strategi para pemimpin di wilayah ini membuat virus Korona tak berani mendekat. Apa resepnya?

Berkurban di Masa Korona, Ini Fatwa MUI

Jumat (10/7) malam Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa terbaru bernomor 36/2020 tentang salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban. MUI di antaranya meminta kegiatan penyembelihan tidak tekonsentrasi pada saat Idul Adha saja.

Paling Sering Dibaca

Diserang Penjahat, Perwira Polisi di Sumbawa Meninggal Dunia

IPDA Uji Siswanto, Kepala Unit (Kanit) Reskrim Polsek Utan, Sumbawa gugur dalam bertugas. Ayah tiga anak ini diserang oleh seorang terlapor berinisial RH alias Bim kasus pengancaman. Korban diserang, setelah mendamaikan warga dengan terduga pelaku.

Duka di Lombok Utara, Suami Tewas Tergantung, Istri Tergeletak di Ranjang

Warga Dusun Sumur Jiri, Desa Santong Mulia, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, geger. Pasangan suami istri (pasutri) berinisial S, 25 tahun dan R, 20 tahun ditemukan tewas di dalam rumahnya, Minggu malam (5/7).

12 Karyawan Bank di Cilinaya Mataram Positif Korona

Di Kelurahan Cilinaya misalnya. Di sini tercatat ada 12 karyawan salah satu bank terpapar virus Korona. “Sebenarnya hanya satu. Namun setelah kita tracing, menjadi 12 orang yang positif,” kata Lurah Cilinaya I Gusti Agung Nugrahini, Kamis (9/7)

Pakai Narkoba, Satu Anggota Polisi Ditangkap di Mataram

Tim Subdit II Ditresnarkoba Polda NTB menangkap jaringan narkoba di salah satu hotel di mataram dua pekan lalu. Sebanyak empat orang berinsial E, LA, AD, dan SL. “E adalah polisi aktif, LA dan AD pecatan polisi, SL warga sipil,” kata Dirresnarkoba Polda NTB Kombes Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf, kemarin (10/7).

PKS Berpeluang Kocok Ulang Figur di Pilbup Lombok Tengah

Peta kekuatan politik Bakal Pasangan Calon (Bapaslon) di Lombok Tengah (Loteng) tampak berimbang. Ini terlihat dari hasil survei yang dilakukan PKS bekerja sama dengan Olat Maras Institute (OMI).
Enable Notifications.    Ok No thanks