alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Krisis Air Semakin Parah di Sekotong Timur

GIRI MENANG-Sejumlah warga Desa Sekotong Timur, Kecamatan Lembar, Lombok Barat mulai kesulitan mengakses air bersih. Itu lantaran debit air sumur sejumlah warga mengering. Ini membuat warga harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan air bersih.

“Mau ambil air buat mandi ini,” ungkap Ilham salah seorang pelajar asal Dusun Bun Beleng ditemui Lombok Post, kemarin (12/7).

Ilham hendak menunaikan ibadah salat Jumat. Sayang air di lokasi sumur tempatnya mengambil air nampak sudah mengering. Sehingga ia pun harus bersabar menunggu beberapa menit agar air sumur bisa diangkat menggunakan ember.

“Makanya kadang ungtuk mandi sulit. Anak-anak di dusun kami mau sekolah kadang kita nggak mandi,” tutur pelajar di salah satu Madrasah Aliyah Lembar tersebut.

Jika harus menunggu air, siswa yang berasal dari dusun ini kadang terlambat ke sekolah. Sehingga mau tidak mau mereka pun harus berangkat ke sekolah tanpa membasuh tubuhnya. “Sudah bertahun-tahun kondisinya seperti ini,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Kamam Ilahi, salah seorang warga Dusun Bun Beleng lainnya merasaka kesulitan yang sama. Ditemui di salah satu sumur lain yang kondisinya juga hampir mengering, ia terlihat duduk di bawah terik panas matahari. Menunggu giliran mengambil air dari sumur yang masih memiliki debit air.

“Dari subuh kami sudah ke sini nunggu biar dapat giliran ambil air,” akunya.

Meski bangun subuh, perempuan 65 tahun ini tetap harus menunggu berjam-jam baru dapat giliran. Karena bukan hanya dia saja yang mengambil air di sumur. Kondisi saat ini, hanya tersisa satu sumur yang masih bisa digunakan untuk kebutuhan air minum. Tak heran ada puluhan warga lain yang juga bersamaan mengambil air sumur dengannya saat subuh. “Kadang pukul 09.00 Wita baru dapat. Makanya balik lagi siang pas agak sepi,” akunya.

Kondisi air yang sulit ini bukan persoalan baru dihadapi warga. Sudah puluhan tahun mereka merasakan betapa sulitnya mengakses air bersih. Warga sudah mencoba beberapa kali menggali sumur untuk mencari air. Namun tidak sembarangan lokasi bisa mengeluarkan air.

Kepala Desa Sekotong Timur H Achmad membenarkan jika krisis air bersih sudah akut di dusun yang dihuni sekitar 235 Kepala Keluarga (KK) ini. Sekitar 600 jiwa di dusun ini tinggal di dataran tinggi jauh dari keberaaan sumber air.

“Makanya pekan lalu saya juga sudah ajak pak bupati datang meninjau warga. Beliau didampingi pejabat Dinas PUPR akan membangunkan sumur air resapan,” akunya.

Awalnya, Bupati Fauzan Khalid berencana membangunkan warga sumur bor. Sayang, setelah dilakukan kajian geolistik oleh pihak Pemerintah Provinsi, tidak ada sumber air yang mendukung . Sehingga hanya sumur air resapan yang memungkinkan dibangun di lokasi dusun ini. “Kami usulkan ada dua nanti dengan diameter 1,5 meter,” ungkap Kades. (ton/r8)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Hari Pertama Razia Masker di NTB, Pemda Kumpulkan Denda Rp 9,1 Juta

Sebanyak 170 orang tidak menggunakan masker terjaring razia di hari pertama penerapan sanksi denda bagi pelanggar protokol kesehatan di seluruh NTB, kemarin (14/9). Dari para pelanggar di semua titik operasi ini, Badan Pendapatan Daerah NTB pun mengumpulkan uang sebesar Rp 9,1 juta.

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks