alexametrics
Kamis, 6 Agustus 2020
Kamis, 6 Agustus 2020

Sebagian Kades di Batulayar-Gunungsari Minta Pisah dari Lombok Barat

GIRI MENANG-Sejumlah kepala desa yang ada di Kecamatan Gunungsari dan Batulayar kecewa pada Pemda Lombok Barat (Lobar). Wacana pemisahan Kecamatan Batulayar dan Gunungsari dari Lobar kembali mencuat.

“Bisa dilihat sendiri bagaimana perhatian Pemda Lobar saat ini kepada Kecamatan Batulayar dan Gunungsari. Perhatian kepada kami sangat jauh dari harapan,” ujar Kepala Desa Lembah Sari H Sibawaehi, Sabtu (11/1).

Baik dari aspek pelayanan publik maupun pembangunan infrastruktur, ketimpangan dirasakan Lembah Sari. Misalnya untuk pelayanan dokumen administrasi kependudukan. Janji Pemda Lobar untuk mendekatkan pelayanan dengan membentuk UPT di wilayah Kecamatan Gunungsari dan Batulayar belum juga terealisasi.

Begitu juga dengan keberadaan UPT Dinas Pemadam Kebakaran. Sampai sekarang belum jelas realisasinya meski sudah dijanjikan sejak beberapa tahun lalu. “Kebakaran sedikit saja, sulit kami padamkan karena lokasi mobil pemadam sangat jauh dari wilayah kami,” ungkapnya.

Belum lagi persoalan lain seperti kebijakan Pemda Lobar yang tidak berpihak pada pemerintah desa. Di satu sisi, pemerintah desa diminta menerapkan aturan PP Nomor 11 tahun 2019. Kaitannya dengan penyetaraan gaji perangkat desa setara gaji PNS Golongan IIA.

“Tapi di sisi lain, alokasi ADD tidak ada kenaikan. Bagaimana kami mau menjalankan aturan setengah-setengah,” sesalnya.

Sehingga, alternatif bergabung dengan Kota Mataram untuk mendekatkan pelayanan bisa menjadi solusi. Alternatif lainnya bisa juga dengan membentuk kabupaten baru dengan tambahan wilayah Kecamatan Narmada dan Kecamatan Lingsar. “Wacana ini sudah lama muncul sejak zaman Bupati Iskandar. Saya pikir sekarang saat yang tepat melihat kondisi pemerintahan saat ini. Gabung dengan Kota Mataram atau bentuk kabupaten dua-duanya bagus,” ucapnya.

Kepala Desa Batulayar HM Taufik juga setuju Kecamatan Batulayar berpisah dari Lobar. “Kalau saya pribadi, nggak usah masuk Kota Mataram melainkan kita bentuk kabupaten baru yakni Kabupaten Narmada. Di sana menjadi kecamatan induk,” ungkap Taufik pada Lombok Post, Sabtu (11/1).

Terlepas dari kepentingan politik apapun, Taufiq mengatakan tujuan pembentukan kabupaten baru disamping mendekatkan pelayanan kepada warga, juga untuk membuka lapngan pekerjaan baru. Terlebih dengan melihat kondisi geografis Lobar saat ini, pemerintahan dianggap kurang berjalan maksimal. Karena Lobar bagian utara dan selatan dipisahkan Kota Mataram. Ini yang berdampak terhadap ketertinggalan Lobar dari daerah lain seperti dua daerah baru yakni Kota Mataram dan Lombok Utara.

Taufik mengeluhkan pula banyak persoalan seperti penanganan sampah, pelayanan adminduk serta kurangnya perhatian Pemda pada desa di Batulayar.

“Program ke masyarakat seperti bansos kelompok, pembinaan, pemberdayaan ekonomi masyarakat dan infrastruktur masih sangat kurang. Kami sadar Lobar memiliki wilayah yang luas,” ujarnya.

Sehingga pemisahan wilayah utara dengan Kecamatan Batulayar, Gunungsari, Lingsar dan Narmada menjadi kabupaten baru, menurutnya bisa menjadi solusinya.

Tak hanya kepala desa di wilayah Kecamatan Batulayar, kepala desa di wilayah Kecamatan Gunungsari pun memiliki pemikiran yang sama. Kepala Desa Jeringo Sahril mengungkapkan ketika Lobar tidak mampu mengelola daerah pariwisata di Gunungsari-Batulayar dengan baik, maka sudah sepatutnya kecamatan ini memisahkan diri.

Apalagi kontribusi bagi penyumbang PAD terbesar selama ini menurutnya tidak pernah diberlakukan khusus. “Maka tidak menutup kemungkinan kami mau bergabung dengan Kota Mataram. Agar pelayanan publik bisa lebih dekat sehingga pindah ke kota Mataram itu sangat relevan,” ujar pria yang juga Ketua Asosiasi Perangkat Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Lobar tersebut.

Kekecewaan para kades di wilayah Batulayar dan Gunungsari menurut Sahril semakin memuncak melihat banyaknya proyek Pemda Lobar yang tak beres. Misalnya saja proyek Dermaga Senggigi yang tak tuntas dan justru menyisakan persoalan.

Meski beberapa Kades ingin melihat Gunungsari dan Batulayar pindah dari Lobar, ada juga yang justru tidak setuju. Misalnya Kepala Desa Meninting Iskandar Zulkarnaen. “Kalau melihat dari sejarah, secara pribadi saya tidak setuju. Apalagi kalau wacana bergabung lebih karena tendensi politik, saya tidak setuju,” ungkapnya.

Pernyataan Kades Meninting ini juga didukung Kepala Desa Senteluk Fuad Abdurrahman. “Kalau saya lebih bagaimana saling membantu pemerintah menjalankan programnya saat ini,” ujar dia.

Ia mengaku mendukung Pemda Lobar agar fokus melaksanakan program-programnya serta memulihkan dan menstabilkan pariwisata Batulayar maupun Gunungsari. Sekalipun ada kekurangan dalam program pemerintah, Fuad menilai kelemahan itu yang harus sama-sama dibenahi. Karena tanpa keterlibatan semua pihak termasuk kepala desa, tidak mungkin pembangunan bisa berjalan. “Jadi kami harapkan pemerintah sekarang bekerja dan tunjukkan hasil. Nanti masyarakat sendiri yang akan menilai,” tandasnya. (ton/r8)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Partai Berkarya Terbelah, SK Dukungan di NTB Terancam Sia-sia

Goncangan politik hebat terjadi di tengah perburuan Surat Keputusan (SK) partai oleh para Bakal Calon Kepala Daerah (Bacakada). Goncangan itu muncul dari Partai Berkarya. Partai Berkarya versi Muhdi Pr ternyata yang direstui Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

Gak Pakai Masker, PNS Bakal Didenda Rp 200 Ribu

Aturan wajib menggunakan masker diberlakukan di Kota Bima. Pemerintah Kota (Pemkot) Bima menegaskan sanksi bagi pelanggar akan mengikuti aturan yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi (Pemrov) NTB.

Tiga Dokter dan Delapan Perawat RSUD Dompu Diisolasi

Sebanyak 11 orang Tenaga Kesehatan (Nakes) RSUD Dompu yang sempat kontak dengan HM, pasien positif Covid-19 meninggal dunia menjalani isolasi. Masing-masing tiga dokter dan delapan perawat.

Lamaran Ditolak, Dosen di Bima Tikam Pacar Hingga Tewas

Naas menimpa  Intan Mulyati, 25 tahun warga Kelurahan Kumbe, Kecamatan Rasanae Timur, Kota Bima. Dia merenggang nyawa ditangan pacarnya sendiri Arif Satriadi, 31 tahun, yang merupakan seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bima, Rabu (5/8).

Kasus Pengadaan ABBM Poltekes Mataram Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pengadaan alat bantu belajar mengajar (ABBM) Poltekkes Mataram tahun 2016 segera rampung. “Progres cukup bagus. Sebentar lagi naik penyidikan,” kata Kasubdit III Ditreskrimsus Polda NTB Kompol Haris Dinzah, Rabu (5/8).

Peredaran Gelap Tramadol di Gomong Mataram, Lima Orang Ditangkap

Tim Satnarkoba Polresta Mataram menggerebek rumah pengedar obat-obatan daftar G di Gomong, Mataram, Rabu (5/8). Sebanyak lima orang ditangkap. ”Dua pembeli, satu perempuan sebagai  penyedia, dan dua penjual,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson usai penggerebekan.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Viral Pengunjung “Disko” Pendakian Savana Propok Rinjani Ditutup

Pengelola bukit Savana Propok, Pokdarwis Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba menindaklanjuti video joget para pendaki yang viral di media sosial. “Untuk mengevaluasi hal tersebut, kami akan menutup bukit mulai 8 Agustus,”  kata Ketua Pokdarwis Bebidas Chandra Susanto pada Lombok Post, kemarin (4/8).
Enable Notifications.    Ok No thanks