alexametrics
Kamis, 6 Agustus 2020
Kamis, 6 Agustus 2020

Mau Liburan Sehat di Masa Pandemi, ke Gili Nanggu Saja!

GIRI MENANG-Banyak yang menganggap masa transisi new normal sebagai kondisi normal. Akibatnya, masyarakat mengabaikan protokoler Covid-19. Tak ingin hal itu terjadi, pemerintah desa, kecamatan, hingga pelaku wisata di Sekotong menerapkan protokoler yang ketat bagi wisatawan.

Di setiap pintu dermaga menuju gili yang ada di Sekotong Barat, petugas berjaga ketat. Salah satunya di Dermaga Tawun. Mulai dari petugas Dinas Perhubungan, Bhabinsa, Bhabinkamtibmas hingga masyarakat pelaku wisata ikut terlibat.

Semua pengunjung yang akan menyeberang dengan tujuan beberapa gili yang ada di Desa Sekotong Barat harus mengikuti protokoler kesehatan. “Kami sudah sepakat untuk menerapkan aturan ini. Tidak berani kami langgar,” jelas Hendra, salah seorang Boat Man atau pemilik perahu yang akan menyeberangkan wisatawan ke sejumlah gili di desa tersebut.

Oleh para pelaku wisata dan petugas Dinas Perhubungan Lobar yang berjaga di dermaga, wisatawan yang datang dicek kelengkapan maskernya. Jika tidak memakai masker, mereka tak akan dilayani.

Pengunjung terlebih dulu diminta wisatawan membeli masker dari warung atau retail modern terdekat. Setelah menggunakan masker, baru mereka dilayani membeli tiket penyeberangan.

Biaya tiket penyeberangan ke Gili Nanggu Rp 250 ribu orang. Untuk touring ke tiga gili yakni Nanggu, Kedis, dan Sudak ada tambahan biaya Rp 10 ribu. Sehingga total harga tiket Rp 260 ribu per perahu. Karena lokasinya cukup dekat.

Dalam satu perahu minimal ada enam penumpang. Maksimal 10 orang. Namun karena kondisi pandemi Korona, pemerintah desa dan kecamatan setempat membatasi penumpang yang ada di dalam perahu.

“Kita batasi dari yang semula sepuluh maksimal sekarang tujuh atau delapan. Agar memberi jarak di dalam perahu agar tidak berdekatan,” jelas Camat Sekotong Lalu Pardita Utama kepada Lombok Post.

Di dalam perahu, sudah disiapkan tanda silang agar wisatawan yang akan menyeberang tak sembarangan duduk. Mereka harus duduk berjarak. Sebagai bentuk antisipasi penularan wabah. “Ini salah satu upaya kami menerapkan psycal distancing yang merupakan protokoler Covid-19,” jelas Camat.

Di samping itu, di setiap tempat pusat keramaian juga diberlakukan hal yang sama. Baik di pasar maupun tempat ibadah. “Kami sudah sosialisasi untuk itu,” cetusnya.

Pemerintah kecamatan dan desa juga mengumpulkan semua pelaku wisata. Di setiap pantai dan gili yang banyak dikunjungi wisatawan, wajib menyiapkan sarana cuci tangan.

Camat meyakini, protokoler Covid-19 yang ketat, tak akan membuat wisatawan enggan datang. Justru mereka senang karena tempat yang akan mereka kunjungi dijaga tetap steril dan aman dari Korona. Jangan heran jika kemudian melihat wisata Gili Nanggu atau gili lain yang ada di Sekotong ramai setiap hari. Terutama akhir pekan.

Pantauan Lombok Post, di Gili Nanggu, pengelola wisata memang sudah menyiapkan sarana prasarana protokoler Covid-19. Misalnya sabun cuci tangan dengan air mengalir. Mereka juga menyiapkan disinfektan.

“Wisatawan yang datang wajib kami minta mencuci tangan ketika tiba di Gili Nanggu. Kemudian mereka juga disemprot disinfektan untuk mensterilkan gili ini,” jelas Wayan Rifa Budiarta selaku pengelola wisata di Gili Nanggu kepada Lombok Post.

Kemudian untuk wisatawan yang menginap, mereka harus dilengkapi dengan surat keterangan hasil rapid test atau keterangan sehat dari fasilitas kesehatan. Baik Puskesmas maupun rumah sakit.

Pengelola penginapan dikatakannya tak ingin mengambil risiko membiarkan wisatawan menginap tanpa memastikan mereka bebas Covid-19. “Kami menjaga Anda, Anda juga jaga kami,” ujarnya meminta wisatawan yang ingin datang ke Gili Nanggu mentaati protokoler Covid-19.

Pelaku wisata khususmya penyedia jasa penginapan tak ingin mengabaikan protokoler Covid-19 hanya karena ingin mendapat keuntungan. Bagaiamanapun, mereka bertekad kesehatan dan keselamatan wisatawan atau masyarakat adalah yang utama.

Sementara Zahroni salah seorang pimpinan salah satu rombongan wisatawan yang datang ke Gili Nanggu mengaku siap mengikuti protokoler Covid-19. Guru Ponpes Baitul Quran, Desa Bengkel, Kecamatan Labuapi ini datang dengan 20 santri.

“Kami senang dengan protokoler Covid-19 ini karena tujuannya kita sama-sama menjaga kesehatan. Kami semua membawa masker dan bahkan membawa hand sanitizer sendiri,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi karena di Gili Nanggu dan beberapa dermaga pintu masuk menuju gili yang ada di Sekotong sudah menyiapkan sarana protokoler Covid-19. “Ini menyadarkan masyarakat agar tetap melaksanakan protokoler kesehatan,” tandasnya. (ton/r3)

 

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Kasus Pengadaan ABBM Poltekes Mataram Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pengadaan alat bantu belajar mengajar (ABBM) Poltekkes Mataram tahun 2016 segera rampung. “Progres cukup bagus. Sebentar lagi naik penyidikan,” kata Kasubdit III Ditreskrimsus Polda NTB Kompol Haris Dinzah, Rabu (5/8).

Peredaran Gelap Tramadol di Gomong Mataram, Lima Orang Ditangkap

Tim Satnarkoba Polresta Mataram menggerebek rumah pengedar obat-obatan daftar G di Gomong, Mataram, Rabu (5/8). Sebanyak lima orang ditangkap. ”Dua pembeli, satu perempuan sebagai  penyedia, dan dua penjual,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson usai penggerebekan.

Masuk Destinasi Wisata Terpopuler Asia 2020, Lombok Siap Mendunia

”Kalau masuk di ranking dunia artinya kita adalah destinasi yang memang layak untuk dikunjungi,” kata Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) NTB Awanadi Aswinabawa, Rabu (5/8/2020).

Buntut Penutupan Savana Propok, TNGR Perketat Pemeriksaan Pengunjung

”Dengan penutupan ini semua akan lihat, kalau berbuat begitu pasti akan ditutup,” kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Dedy Asriady, Rabu (5/8/2020).

Kasus Sewa Lahan Desa Sesela, Penyidik Perdalam Keterangan Saksi

Berkas penyidikan kasus dugaan korupsi penyewaan lahan untuk pembangunan tower tahun 2018 masih dilengkapi. Sejumlah saksi diperiksa maraton untuk melengkapi berkas penyidikan. ”Yang sudah kita periksa baru Ketua RT dan ada juga dari BPD (Badan Permusyawaratan Desa),” kata Kajari Mataram Yusuf, Rabu (5/8).

Efek Pandemi, Omzet Penjual Perlengkapan Sekolah di Mataram Merosot

”Tak hanya buku paket dan buku tulis saja. Hampir seluruh jenis peralatan sekolah alami penurunan penjualan. Bahkan menjalar ke barang-barang peralatan kantor,” katanya.  

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Ungkap Dugaan Pembunuhan LNS, Polres Mataram Periksa 13 Saksi

Penemuan jasad LNS, 23 tahun dalam posisi tergantung di dalam sebuah rumah di di perumahan BTN Royal, Jempong Baru, Sekarbela, Mataram menyisakan tanda tanya. Penyidik Polresta Mataram  memeriksa sejumlah saksi secara maraton.
Enable Notifications.    Ok No thanks