alexametrics
Sabtu, 28 Mei 2022
Sabtu, 28 Mei 2022

Homestay Bisa Jadi Pilihan Penonton MotoGP

GIRI MENANG-Bookingan hotel saat gelaran MotoGP sudah penuh. ”Sudah beberapa kali mencari penginapan hotel, rata-rata full booking 18-20 Maret mendatang,” kata seorang travel agent Widya Santi pada media, Jum’at (21/1)

Ia melihat geliat pariwisata kembali hidup di Lombok dengan adanya gelaran MotoGP. Namun harus mulai diantisipasi dengan kesiapan akomodasi pendukung. Terutama penginapan yang harus disiapkan. Apalagi jumlah penonton yang dibolehkan datang menyaksikan event internasional ini ditambah oleh Pemerintah Pusat.

”Kalau tamu saya, sudah saya arahkan untuk penginapan ke homestay dan mereka ingin melihat fasilitas yang diberikan,” terangnya.

Sementara Sekdis Dispar Lobar Khalid mengatakan, Pemkab Lobar tidak tinggal diam. Kekurangan kamar bagi pengunjung diperhelatan MotoGP mendatang, sudah diatensi jauh hari.

”Dinas Pariwisata Lobar mendorong dan memotivasi desa yang ada untuk menyiapkan home stay berbasis masyarakat,” tambahnya.

Dalam menangkap potensi MotoGP mendatang, pihaknya telah menerjunkan sejumlah anggota di lapangan. Tujuannya mendata kesiapan homestay masyarakat untuk tamu luar daerah yang datang.

Baca Juga :  Sertifikat Tanah LCC Digadai Rp 95 M

”Kami hanya mendata ketersediaan homestay berbasis masyarakat,” jelasnya.

Pendataan ini penting, untuk mengetahui berapa jumlah homestay dan berapa jumlah kamar yang tersedia. Namun tetap harus berdasarkan standar hospitality dari Kemenparekraf RI.

”Ini menjadi penting adanya karena kami tidak bisa melihat homestay tapi tanpa melihat kondisi yang ada di lapangan,” ujarnya.

Pihaknya bekerja sama dengan Pokdarwis supaya jelas semua jumlahnya agar terdata. Nanti Pokdarwis ini yang akan home by home ke masing masing homestay yang ada.

”Standarisasi kelayakan homestay ini ditentukan oleh Kemenparekraf dan juga dari pelaku industri pariwisata,” terangnya.

Sebanyak 14 Desa yang terdata yaitu Desa Gili Gede, Sekotong Barat, Lembar, Gili Gede, Buwun Sejati, Sesaot, Pakuan, Sedau, Giri Sasak, Kuripan Induk dan lainnya. Mengenai standar harga homestay tergantung pasar atau berdasarkan permintaan.

”Yang jelas standarisasi harga ini bukan Kabupaten, karena kami tidak bisa intervensi soal nilainya. Tapi tergantung standar pasar,” imbuhnya.

Baca Juga :  Tiga Proyek Penataan Senggigi Senilai Rp 6,1 Miliar Rontok

Adanya kenaikan harga penginapan baik hotel dan sejenisnya dipastikan bukan merupakan kebijakan Dinas Pariwisata Lobar. Itu semua ada di masing-masing penginapan yang mengelola.

”Terkait dengan harga kamar tersebut bukan kebijakan Dispar,” kata.

Ia menjelaskan Dispar  tidak bisa membuat standar harga kamar. Apalagi terkait dengan kondisi saat ini yang dipengaruhi juga dengan peningkatan permintaan kamar.

”Bukan Dispar yang membuat standar harga,” jelasnya.

Sementara Ketua Senggigi Hotels Association (SHA) I Ketut M Jaya Kusuma mengatakan naik turunnya harga itu sesuatu yang biasa terjadi. Sesuai dengan musimnya dan mengikuti permintaan pasar. Yang perlu diketahui masyarakat, setiap hotel memiliki struktur harga.

”Jadi harga yang kita patok itu biasanya right rate atau harga standar normal hotel. Harga yang selama ini diterima masyarakat harga promo, makanya terasa harga naik tinggi saat permintaan melonjak. Padahal itu harga standar,” jelasnya. (nur/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/