alexametrics
Minggu, 20 September 2020
Minggu, 20 September 2020

12 Ditangkap, Buron Perampokan di Lobar Tersisa Dua Orang

GIRI MENANG-Perburuan terhadap pelaku perampokan di PT Singgasana Agung Sejati (SAS) belum berhenti. Dari sekitar 14 pelaku, kini tersisa dua orang yang masih buron. ”Terus kita kejar,” kata Kasatreskrim Polres Lombok Barat (Lobar) AKP Dhafid Shiddiq.

Pelaku terakhir yang ditangkap polisi berinisial NA, 43 tahun. Warga Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah (Loteng). NA ditangkap setelah empat tahun menjadi buronan polisi.

Perampokan NA bersama rekan-rekannya dilakukan September 2016 lalu. Saat itu, kelompok rampok ini menjebol tembok belakang gudang PT SAS, di Kecamatan Labuapi, Lobar. Setelah itu, mereka membongkar isi gudang. Mengambil uang Rp150 juta; emas batangan; perhiasan emas; tujuh BPKP; dan satu unit motor.

Ketika beraksi, pelaku sempat menyekap dan menganiaya penjaga keamanan. Dhafid mengatakan, ketika beraksi, para pelaku membekali diri dengan senjata tajam dan senjata api.

Aksi kejahatan kelompok ini bukan saja di PT SAS. Perampokannya dilakukan di dua TKP. Selain PT SAS, mereka beraksi juga di PT Terus Jaya. Di sana, pelaku menggondol brankas berisi uang sekitar Rp350 juta.

”Setelah perampokan itu, pelaku kabur. Melarikan diri ke (pulau) Sumbawa,” ujarnya.

Keberhasilan menangkap NA merupakan buah kesabaran dari anggota Satreskrim Polres Lobar. Setelah mendapat informasi NA pulang ke rumah, anggota bergerak ke Desa Bonjeruk. ”Kita tangkap tanpa perlawanan,” imbuh Dhafid.

Dari keterangan pelaku yang sudah ditangkap, NA disebut sebagai otak perampokan. Ia yang merencanakan aksi tersebut. Namun, keterangan tersebut dibantah NA. Di hadapan penyidik, Sabtu kemarin, NA mengaku tidak ikut masuk ke gudang dua perusahaan tersebut.

”Saya disuruh jaga di luar saja. Ngawasi situasi di luar,” ujar NA.

Kata NA, ia hanya diberikan uang sebesar Rp1 juta. Ia sendiri tidak mengetahui berapa hasil rampokan kawan-kawannya. Begitu juga dengan terlibatnya NA dalam aksi perampokan tersebut, diakuinya atas ajakan kawannya. Yang sama-sama berasal dari Loteng.

”Teman saya ada lima oran. Sisanya itu dari (Lombok) selatan,” katanya.

Setelah merampok, NA kabur ke Pulau Sumbawa. Ia bekerja serabutan. Sebagai kuli bangunan. Di sana NA bertahan hingga empat tahun. Sebelum pulang ke Loteng dan ditangkapi polisi.

”Kapok sudah saya. Sudah tidak mau lagi begini,” tutur NA menyesal. (dit/r3)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

“Menara Eiffel”di Desa Seruni Mumbul Lombok Timur Ramai Pengunjung

Pengelola wisata Denda Seruni, Desa Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya tak ingin puas dengan keberhasilannya menyedot wisatawan. Realisasi target PADes Rp 30 juta per bulan harus dapat bertambah.

Bale Mediasi Lotim Damaikan Delapan Perselisihan

SELONG-Permohonan mediasi terus berdatangan ke Bale Mediasi Lotim. “Sudah ada 36 permohonan yang masuk,” kata Koordinator Administrasi Bale Mediasi Lotim Lalu Dhodik Martha Sumarna pada Lombok Post, kemarin (18/9).

Korem 162/WB Gelar Bakti Sosial di KEK Mandalika

Sejumlah kegiatan bakti sosial di gelar Korem 162/WB dalam rangka menyambut HUT TNI ke-75 di Loteng. “Terima kasih TNI karena menggelar salah satu rangkaian HUT-nya, di daerah kami tercinta,” ujar Asisten II Setda Loteng H Nasrun, kemarin (18/9).

Dugaan Korupsi Pembangunan RS Pratama Dompu Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pembangunan Rumah Sakit (RS) Pratama Manggelewa, Dompu, tahun 2017 sebentar lagi rampung. ”Kira-kira dua minggu lagi kita naikkan ke penyidikan,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda NTB Kombes Pol I Gusti Putu Gede Ekawana Putra, kemarin (18/9).

Izin Tinggal Habis, WNA di NTB Siap-siap Kena Denda

Masa perpanjangan izin tinggal keadaan terpaksa berakhir Minggu (20/9) besok. Artinya, bagi warga negara asing (WNA) yang belum memperpanjang bakal dikenakan denda. ”Kalau tidak diperpanjang hingga batas waktu yang ditentukan maka dianggap overstay dan bakal dikenakan denda,” kata Kepala Imigrasi Kelas IA TPI Mataram Syahrifullah, kemarin (18/9).

Kasus Ikan Teri JPS Gemilang, Kejati Koordinasi dengan Inspektorat

Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB belum melangkah lebih jauh mengusut pengadaan ikan teri paket JPS Gemilang tahap II. ”Kita koordinasikan dulu dengan Inspektorat,” kata Asintel Kejati NTB Munif di ruangannya, kemarin (18/9).

Paling Sering Dibaca

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Hasil Uji Diragukan, Dua Merek Alat Rapid Test asal China Dipakai di NTB

MATARAM-Dua dari tiga merek alat rapid test yang diragukan akurasinya dipakai di NTB. Yakni VivaDiag dan Wondfo. ”Itu kami dapat bantuan dari pusat, silahkan...
Enable Notifications    Ok No thanks