alexametrics
Jumat, 10 Juli 2020
Jumat, 10 Juli 2020

Butuh Bantuan! Fikri Bocah Asal Jembatan Gantung Lembar Alami Pendarahan Otak

GIRI MENANG-Nasib malang dialami Muhammad Fikri, bayi usia 2,5 bulan asal Desa Jembatan Gantung, Kecamatan Lembar. Anak kedua pasangan Supriadi dan Zaidatul ini diduga mengalami pendarahan di otak.

Lantaran tak ada biaya, kini ia dirawat di rumah ibunya di Dusun Batu Samban Desa Lembar Selatan. “Hasil scan kata dokter ada pendarahan di otak. Darah di otaknya katanya membeku sehingga menyebabkan terjepit, makanya dia muntah-muntah terus dan sesak nafas,” tutur Zaidatul kepada wartawan, Kamis (25/6).

Gejala sakit yang dialami Fikri mulai dialami ketika usianya satu bulan tujuh hari. Balita yang lahir dengan bantuan dukun beranak ini menunjukkan kelainan di bagian kepala. Bagian kepala belakangnya lembek dan ada guratan. Itu yang diduga menyebabkan Fikri kerap menangis sepanjang hari hingga malam.

Zaidatul menuturkan, proses kelahiran anaknya dibantu oleh dukun beranak lantaran fasilitas kesehatan dari tempat tinggalnya di Dusun Gerebekan, Desa Jembatan Gantung sulit dijangkau. Rumahnya berada di atas perbukitan dengan jalan bebatuan.

Bahkan menggunakan kendaraan sepeda motor sekalipun cukup sulit menempuh lokasi tempat tinggal Zaidatul dan suaminya. Sehingga harus jalan kaki sekitar tiga kilo meter. “Kemarin sudah dibawa ke RS Gerung dan dirawat tiga hari di sana. Satu hari di IGD dan dua hari di ICU,” bebernya.

Sayangnya, Fikri terpaksa dipulangkan meski belum sembuh karena tidak ada biaya untuk berobat lebih lama di rumah sakit. Fikri sudah mendapatkan bantuan sosial untuk berobat dari pemerintah kabupaten Rp 5 juta.

Tapi, selama dirawat di rumah sakit, biaya yang dihabiskan sekitar Rp 8 juta. “Makanya ini saja masih pinjam Rp 3 juta untuk berobat di rumah sakit,” beber Maulida, nenek Fikri.

Sepulang dari rumah sakit, Fikri sempat koma tiga hari. Balita malang tersebut tak sadarkan diri. Namun, keluarganya bersyukur kini ia sudah bisa membuka mata.

“Cuma kalau malam dia nggak bisa tidur. Sering nangis mungkin karena efek sakit yang dirasakan di kepalanya,” tutur Maulida.

Orang tua Fikri kini sudah mendaftarkannya di BPJS Kesehatan. Namun kartu tersebut baru bisa aktif dua pekan lagi. Pihak keluarga juga mengaku ada pihak yang datang menawarkan membantu untuk pengobatan Fikri dengan melakukan operasi. Namun pihak keluarga menolak.

“Jangan dioperasi karena kasihan bayi kami terlalu kecil usia 2,5 bulan. Kami tidak tega melihat dia dioperasi. Kami berharap dia bisa diobati tanpa operasi,” ungkap Zaidatul.

Diketahui, alasan Zaidatul kesulitan memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan karena tidak memiliki dokumen kependudukan. Lantaran, perempuan ini menikah saat usia 15 tahun ketika ia masih duduk di bangku SMP. Ditambah suaminya yang bekerja serabutan menjadi buruh lepas membuatnya tak punya banyak biaya membayar iuran.  Penghasilannya tidak menentu. Kadang kalau tidak ada yang dimakan, Zaidatul bersama suaminya pulang ke Batu Samban minta beras dan bahan pangan.

Kepala Dusun Batu Samban Zainal Arifin membeberkan jika Zaidatul memang melangsungkan pernikahan saat usianya masih di bawah umur. “Menikah di bawah tangan saat usia 15 tahun,” bebernya.

Sehingga, dikhawatirkan, apa yang dialami anaknya juga menjadi salah satu dampak ketidaksiapan fisik dan psikologisnya saat melahirkan. Disamping adanya faktor-faktor lain. Ia berharap, ke depan tidak ada lagi warganya yang menikah di bawah umur 19 tahun. Agar risiko kesehatan bisa dicegah. “Perlu juga kesadaran orang tua agar tidak membiarkan anak mereka menikah di bawah umur,” harapnya. (ton/r3)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Efek Positif Korona, Literasi Digital Meningkat

Selama penerapan belajar dari rumah (BDR) yang disebabkan Pandemi Covid-19, kegiatan literasi anak-anak berkurang. ”Karena aktivitas kunjungan ke perpustakaan sekarang ini, sangat dibatasi ya,” kata Kepala Kantor Bahasa NTB Ummu Kulsum, pada Lombok Post, Kamis (9/7/2020).

Dorong Kampung Sehat, Polda NTB Gelar Panen Raya di Kembang Kuning

Polda NTB menggelar panen raya di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, kemarin (9/7). Panen raya ini bagian dari program Kampung Sehat yang dinisiasi Polda NTB yang salah satu tujuannya mewujudkan ketahanan pangan NTB di tengah pandemi Covid-19.

Polres KSB Launching Transportasi Sehat

Polres Sumbawa Barat punya terobosan lain dalam mensukseskan Lomba Kampung Sehat

Kampus Belum Boleh Buka, Mahasiswa Belajar dari Rumah

Kemenag tidak tergesa-gesa mengizinkan perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) membuka kuliah tatap muka. Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag Arskal Salim mengatakan kuliah tatap muka baru diizinkan saat semester genap tahun akademik 2020-2021 nanti.

Pecah Rekor, Sehari Penularan Korona Capai 2.567 Kasus

KASUS positif infeksi Covid-19 lagi-lagi mencetak rekor terbaru dengan pernambahan 2.567 orang pada periode 8 hingga 9 Juli 2020. Jumlah ini lebih dari 2 kali lipat rata-rata pertumbuhan kasus seribu orang per hari dalam dua minggu terakhir.

Akurasi Alat Rapid Test Buatan NTB Mampu Saingi Produk Impor

Indonesia akhirnya resmi melaunching alat rapid test inovasi dalam negeri. Diberi nama RI-GHA Covid-19, alat ini diklaim memiliki akurasi nyaris sempurna.

Paling Sering Dibaca

Jika Masih Tak Patuh, Seluruh Pasar di Mataram Bakal Ditutup Paksa

akil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah mengancam akan menutup pasar yang mengabaikan protokol kesehatan. Ancaman tersebut disampaikan Wagub saat menggelar inspeksi mendadak di Pasar Mandalika, kemarin (8/7). Dia mendapati langsung banyak pedagang dan pembeli tidak mengenakan masker.

Zona Merah Korona, Wagub NTB : Mana Pol PP Mataram, Kenapa Sembunyi?

Pemkot Mataram dinilai lemah dalam merespon dan menangani Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun begitu geregetan. Meski zona merah dengan kasus positif dan kematian tiap hari, penerapan protokol kesehatan di ibu kota justru sangat longgar. Tak lagi ada pengawasan macam sedang tidak terjadi apa-apa.

Istri Model Suami Youtuber, Bantah Cari Sensasi “Mahar Sandal Jepit”

Pernikahan dengan mahar sandal jepit Iwan Firman Wahyudi dan Helmi Susanti bukan bermaksud mencari  sensasi di media sosial. Menurut mereka ikatan mereka tulus beralas kasih sayang.

Pilbup Loteng, Lale Prayatni Mulai Goyang Posisi Pathul Bahri

Lobi politik tersaji di DPP Partai Gerindra. Dari informasi yang dihimpun Lombok Post, diam-diam SK Gerindra dibidik Prayatni melalui ‘lorong’ Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo.

Turun dari Rinjani, Warga Lombok Tengah Tewas Jatuh ke Jurang

Pendakian di Gunung Rinjani kembali memakan korban jiwa. Sahli, 36 tahun, warga Desa Tampak Siring, Lombok Tengah meninggal setelah terjatuh ke jurang di kawasan Gunung Rinjani, Senin (6/7).
Enable Notifications.    Ok No thanks