alexametrics
Kamis, 1 Oktober 2020
Kamis, 1 Oktober 2020

Mendengar Keluh Kesah Sopir Taksi di Tengah Sepinya Wisatawan

Delapan bulan berlalu gempa memporak-porandakan kawasan Pariwisata Senggigi. Namun dampaknya masih terasa hingga saat ini. Itu diungkapkan oleh sopir taksi yang biasa mangkal di Senggigi.

 

HAMDANI WATHONI, Giri Menang

Matahari senja sudah berada di ufuk barat. Suara burung berkicau masih ramai. Terdengar sampai ke telinga begitu jelas. Akibat kawasan pariwisata Senggigi yang begitu hening. Tidak ada bunyi kendaraan yang biasa melintas seliweran. Hanya beberapa. Tak banyak.

Awan mendung menyelimuti kawasan Senggigi. Semendung nasib pariwisata andalan Kabupaten Lombok Barat tersebut. Seorang pria duduk di sebuah kursi pinggir jalan. Ia ditemani secangkir kopi. Menghangatkan tubuh agar tidak kedinginan. Karena udara luar saat itu berhembus begitu kencang.

Namanya Mahrip, dia duduk di kursi samping taksinya. Beberapa jam Mahrip menunggu penumpang datang. Ditemani kopinya yang mulai dingin. Tapi, tak ada juga penumpang yang datang.

Mahrip hanya menyelunjurkan kaki sambil menengok kanan-kiri. Berharap ada penumpang dari kalangan wisatawan yang datang meminta jasanya. “Sepi mas. Penurunan penumpang sangat drastis,” ucapnya ketika disapa wartawan Lombok Post.

Kondisi ini menurutnya sudah terjadi pascagempa mengguncang Pulau Lombok Agustus 2018 lalu. Penghasilan yang ia dapat jauh merosot. Jika dipersentasekan, Mahrip mengaku kisaran penurunan penumpang 70-80 persen.

Sebelum gempa terjadi, dalam sehari Mahrip bisa mendapatkan Rp 300-400 ribu. Dari jumlah tersebut, ia bisa mengantongi komisi 40 persen. Itu nyaris setiap hari didapatkan. Kini, pasca terjadinya gempa, penghasilan yang didapatkan justru hampir sama dengan komisi saat sebelum gempa.

“Ya kadang dapat Rp 100 ribu, kadang lebih. Kadang juga kurang,” tutur pria 53 tahun tersebut.

Dengan penghasilan tersebut, komisi yang didapatkan hanya Rp 40 ribu. Otomatis ia mengatakan ini masuk kategori Kurang Setoran (KS). Dampaknya komisi itu pun nantinya digunakan untuk membeli biaya bensin untuk ke sana kemari mencari penumpang.

“Makanya kondisi sekarang ini, bukannya uang yang kita bawa pulang. Kadang bawa utang,” ungkapnya.

Karena, komisi yang didapatkan kadang lebih kecil dari biaya untuk membeli bensin kendaraan taksi yang dioperasikan. “Misal kita beli bensin Rp 50 ribu. Kemudian komisi yang didapatkan Rp 10 ribu. Kan minus. Makanya kita kadang bawa utang,” papar pria empat anak ini.

Namun Mahrip sadar, ini adalah risiko yang harus dihadapi oleh para sopir taksi. Ia mengaku tetap bersyukur. Nasibnya masih lebih baik di banding sejumlah karyawan hotel atau penginapan yang dirumahkan sementara pasca terjadinya gempa.

Kunjungan wisatawan yang merosot di Senggigi membuat perputaran ekonomi masih sangat lesu. Mahrip kini hanya bisa berdoa dan berharap pariwisata Senggigi segera pulih. Agar ia bersama puluhan sopir taksi lainnya bisa mengais rezeki dari jasa tranportasi yang telah 16 tahun ia geluti di kawasan pariwisata ini.

“Dulu setiap hari banyak wisatawan asing maupun domestik yang saya antar ke sana-kemari,” kenang warga asal Ampenan Kota Mataram itu.

Mahrip mulai merindukan kondisi Senggigi yang ramai dengan aktivitas wisatawan seperti sebelum terjadinya gempa. “Makanya kami cuma berharap bangunan yang rusak akibat gempa segera diperbaiki. Karena kalau dilihat sama wisatawan yang datang, kondisinya terlihat masih menakutkan,” ucapnya menunjuk sejumlah genteng bangunan yang berserakan di Senggigi.

Mahrip juga berharap event promosi pariwisata di Senggigi bisa digelar lebih banyak lagi. Agar bisa mendatangkan wisatawan dari berbagai daerah dan Negara. (*/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Sah! Gaji dan Tunjangan PPPK Sama dengan PNS

Penantian panjang honorer K2 yang lulus seleksi tes Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) 2019 lalu akhirnya usai sudah. Payung hukum terkait gaji dan tunjangan PPPK telah diterbitkan.

Antisipasi Penyebaran Covid Klaster Kampus!

KONDISI masyarakat pada era tatanan kehidupan baru (new normal) saat ini seolah-olah menggambarkan situasi masyarakat telah beradaptasi dengan tenangnya, kembalinya kehidupan normal saat ini kesadaran kita sebagai masyarakat dalam menghadapi pandemi covid-19 sedikit demi sedikit sudah mulai abai dalam menerapkan pola hidup sehat dalam upaya pencegahan dan memutus rantai penularan virus corona.

Penurunan Kasus Korona di NTB Ternyata Semu

Perubahan warna zona Covid-19 di NTB tidak menentu. Kabupaten Dompu yang sebelumnya digadang-gadang sebagai daerah percontohan kini malah masuk zona merah kasus penularan Covid-19.

Pemerintah Harus Turunkan Harga Tes Swab

TARIF uji usap atau tes swab dinilai masih terlalu mahal. Ketua DPR RI Puan Maharani pun meminta pemerintah mengendalikan tarif tes sebagai salah satu langkah pengendalian dan penanganan penyebaran Covid-19. Jumlah masyarakat yang melakukan tes mandiri akan meningkat ketika harganya lebih terjangkau.

Desa Sekotong Tengah Punya Taman Obat Keluarga

ADA budidaya tanaman obat di Desa Sekotong Tengah, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Tanaman obat ini dibudidayakan oleh masyarakat setempat melalui Kelompok Taman Obat Keluarga Suren.

Desa Pesanggrahan Lotim, Tangguh Berkat Kawasan Rumah Pangan Lestari

Desa Pesanggrahan terpilih menjadi Kampung Sehat terbaik di Kecamatan Montong Gading. Desa ini punya Tim Gerak Cepat Pemantau Covid-19 yang sigap. Ekonomi masyarakat juga tetap terjaga meski pandemi melanda.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Zona Hijau Korona di NTB Kian Berat

”Indikatornya lebih tajam lagi. Kemarin, yang dihitung hanya pasien positif (Covid-19) saja. Sekarang probable juga dihitung,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, usai rapat evaluasi penanganan Covid-19, di kantor gubernur NTB, kemarin (28/9).

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks