Acara ini diselenggarakan oleh Komunitas Pecinta Ayam Ekor Lidi Lombok (KUPI ELID) dan menjadi
ajang rutin yang diadakan dua kali setiap tahun. Hingga kini, kegiatan tersebut telah berjalan selama dua tahun berturut-turut.
“Kontes ini menjadi wadah positif untuk menyalurkan hobi dan menjauhkan masyarakat dari praktik sabung ayam,” ujar Ketua KUPI ELID Radhen Atre.
Dia menjelaskan bahwa kegiatan ini juga bertujuan untuk mempererat silaturahmi antaranggota serta mengubah stigma negatif tentang hobi ayam.
“Kami berharap komunitas ini semakin besar dan bisa mencakup seluruh wilayah NTB,” ujar Atre.
Ayam ekor lidi dikenal sebagai ayam hias langka bernilai tinggi. Ciri khasnya adalah ekor panjang,
keras, dan lurus yang bisa mencapai 40 sentimeter. Harga seekor ayam dewasa mencapai Rp 3 juta hingga puluhan juta rupiah. Sedangkan anakan berusia 2–4 minggu dijual sekitar Rp 200–500 ribu.
Garetari, salah satu juri kontes menyampaikan sekitar 40 ekor lidi tampil dalam kontes kali ini. Biaya pendaftaran hanya Rp130 ribu, dan peserta sudah mendapatkan kaos komunitas, konsumsi gratis, serta sertifikat.
"Para juara, mulai dari Harapan IV hingga Juara I, juga berhak membawa pulang piala dan sertifikat penghargaan," paparnya.
Berbeda dengan sabung ayam, ajang ini menilai keindahan dan kesehatan ayam, bukan kekuatan.
Penilaian mencakup kepala, jengger, keselarasan warna bulu, bentuk tubuh, kaki, postur, serta
panjang dan kekakuan ekor.
Untuk menghasilkan ayam berkualitas kontes, peternak membutuhkan perawatan telaten, termasuk pakan khusus dan minyak ikan untuk kesehatan bulu.
KUPI ELID juga mengimbau calon peternak agar membeli ayam dari peternak resmi dalam
komunitas, demi menjaga kualitas dan menghindari penipuan. "Kami ingin masyarakat menikmati keindahan ayam, bukan kekuatannya," tutup para peserta dan anggota komunitas KUPI ELID.