Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Petani Banyu Urip Dibantu Optimalisasi Lahan Pertanian ​

Hamdani Wathoni • Kamis, 8 Januari 2026 | 10:11 WIB
CEK LAHAN PERTANIAN: Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal didampingi Wakil Bupati Lombok Barat Nurul Adha saat meninjau lahan pertanian di Desa Banyu Urip, Rabu (7/1).
CEK LAHAN PERTANIAN: Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal didampingi Wakil Bupati Lombok Barat Nurul Adha saat meninjau lahan pertanian di Desa Banyu Urip, Rabu (7/1).

LombokPost – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali mengukuhkan posisinya sebagai lumbung pangan nasional. Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal menyebut NTB melampaui target produksi padi nasional dan mencatatkan surplus yang signifikan pada tahun 2025.

Ini membantu pemerintah pusat mewujudkan target swasembada pangan yang dideklarasikan Presiden Ri Prabowo Subianto secara zoom meeting dengan semua kepala daerah di Indonesia, Rabu (7/1).

"Data produksi padi kita terus menanjak tajam. Jika pada tahun 2024 produksi kita berada di angka 1,4 juta ton, tahun 2025 ini kita hampir menyentuh angka 1,7 juta ton, atau tepatnya sekitar 1,69 juta ton," ungkap Lalu Muhamad Iqbal saat mengecek optimalisasi lahan pertanian di Desa Banyu Urip.

Gubernur NTB menyatakan kebanggaannya atas pencapaian ini, yang menurutnya sejalan dengan target Presiden RI untuk mewujudkan swasembada pangan nasional. Per 31 Desember 2025, presiden secara resmi menyatakan telah mencapai swasembada di tingkat nasional. ​​Lonjakan produksi ini menghasilkan surplus yang luar biasa bagi NTB, yakni mencapai 150 ribu ton.

Kabupaten Sumbawa tercatat sebagai penyumbang surplus terbesar di tingkat kabupaten, disusul oleh Kabupaten Lombok Tengah di posisi kedua disusul kabupaten kota lainnya. ​Pencapaian ini, menurut Iqbal, tidak lepas dari keberhasilan program unggulan pemerintah, yakni Optimalisasi Lahan (Oplah) dan revitalisasi irigasi sekunder.

Pada tahun 2025, program Oplah telah mencakup luasan 10.500 hektare lebih, dan direncanakan melonjak menjadi 14.000 hektare pada tahun 2026 mendatang. ​Namun, bagi Gubernur yang akrab disapa Miq Iqbal ini, angka produksi bukanlah satu-satunya parameter kesuksesan. Ia menegaskan bahwa indikator paling krusial adalah kesejahteraan petani yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP).

​"Ujung dari semua ini adalah petani yang sejahtera. Alhamdulillah, NTP kita meningkat signifikan, dari 123 di tahun 2024 menjadi 131 di akhir tahun 2025 ini," jelasnya. ​Kenaikan NTP ini diharapkan mampu memicu gairah baru di sektor pertanian, terutama bagi generasi muda. Dengan profit di atas 30 persen, sektor pertanian kini dipandang sebagai bidang yang sangat menjanjikan. ​"Ini akan menjadi daya tarik bagi petani milenial untuk masuk ke sektor pertanian. Ternyata bertani itu sangat menjanjikan dan menguntungkan," pungkasnya optimis.

Wakil Bupati Lombok Barat juga menyambut suka cita program pemerintah pusat hingga provinsi yang berpihak kepada petani. "Data kemiskinan di Lombok Barat penyumbangnya adalah petani. Padahal kita tidak bisa makan nasi kalau tidak ada petani," jelasnya.

Di satu sisi, indikator pertumbuhan ekonomi ditunjang oleh sektor pertanian. Bahkan yang tertinggi. Sehingga dengan adanya program Oplah, petani Desa Banyu Urip diharapkan Wabup Nurul Adha ke depan semakin makmur. "Kini sawah yang semula tidak bisa dapat air kini bisa dapat air," ungkap Wabup.

Sehingga petani yang semula menanam mengandalkan air hujan kini bisa menanam megandalkan air embung yang disedot dari Sungai Dodokan menggunakan mesin khusus yang dibantu pemerintah pusat. Dengan demikian, petani yang awalnya hanya bisa menanam sekali dalam semusim bisa menanam dua kali.

Begitu juga yang semula bisa menanam dua kali kini bisa menanam tiga kali berkat program optimalisasi lahan. Sementara Presiden Prabowo Subianto dalam sambutannya via zoom mengungkapkan keprihatinannya melihat puluhan tahun di negara yang kaya, rakyatnya masih miskin.

Khususnya nelayan dan petani. Prabowo mengaku hati dan akalnya tidak menerima hal tersebut. Yang lebih tidak masuk akal menurutnya, negara yang diberikan karunia Tuhan tanah yang subur, Indonesia justru impor pangan. Padahal petani memproduksi hasil pertanian yang melimpah untuk negara.

"Para petani adalah orang yang paling loyal, paling merah putih mencintai negara ini. Namun puluhan tahun petani kurang dibela, kurang dipedulikan," bebernya. Ini yang kemudian membuat pemerintah pusat menghadirkan program yang berpihak ke petani.

Mulai dari revitalisasi irigasi hingga optimalisasi lahan. Termasuk menjamin penyediaan pupuk subsidi dan pembangunan jalan pertanian. "Hasilnya, target swasembada pangan yang ditargetkan empat tahun bisa diwujudkan hanya dalam satu tahun," syukurnya.

Editor : Jelo Sangaji
#Lombok Barat #Padi #NTB #swasembada #Pangan