Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cegah Pernikahan Dini, Pastikan Susu Khusus Diminum Balita Stunting ​

Hamdani Wathoni • Sabtu, 28 Februari 2026 | 13:10 WIB

CEGAH STUNTING: Gubernur NTB didampingi Wakil Bupati Lombok Barat Nurul Adha menyerahkan susu khusus bagi balita stunting di Puskesmas Gerung, Kamis (26/2).
CEGAH STUNTING: Gubernur NTB didampingi Wakil Bupati Lombok Barat Nurul Adha menyerahkan susu khusus bagi balita stunting di Puskesmas Gerung, Kamis (26/2).

LombokPost – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Lobar) bersama Pemprov NTB terus memperkuat komitmennya dalam memerangi angka stunting melalui pendekatan kolaboratif dan intervensi yang terintegrasi.

Gubernur NTB ​Lalu Muhammad Iqbal bersama Wakil Bupati Lombok Barat Nurul Adha menyatakan kesepakatan bersama-sama menekan angka stunting dengan memeperbaiki sejumlah aspek penyebab terjadinya stunting.

"Kita bertemu langsung dengan keluarga dan anak-anak penyintas untuk menyampaikan sosialisasi. Di sini peran para ketua PKK dan tim ahli sangat vital untuk menjelaskan teknis penanganan di lapangan," ujar Gubernur saat sosialisasi dan pemberian susu bagi balita stunting di Puskesmas Gerung, Kamis (26/2).

Gubernur menekankan bahwa penanganan stunting tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus melibatkan seluruh elemen masyarakat dan instansi pemerintah.

Iqbal juga menekankan, kehadiran para ahli dan penggerak di lapangan adalah kunci keberhasilan program ini.

​Salah satu tantangan terbesar yang diidentifikasi adalah tingginya angka pernikahan usia anak, yang menyumbang sekitar 30 persen dari total kasus stunting di wilayah tersebut.

Ketua TP PKK NTB Shinta Agathi mengungkapkan, pihaknya telah bekerja sama dengan 15 organisasi wanita se-Provinsi NTB untuk mengintervensi masalah sosial ini.

​"Masalah pernikahan usia anak bukan hanya soal adat atau agama, tapi juga masalah pengetahuan dan ekonomi. Kami terus turun ke lapangan untuk memutus rantai ini karena efek sosialnya sangat luas, termasuk meningkatnya angka stunting," jelas Shinta. ​

Senada dengan hal tersebut, Wakil Bupati Lombok Barat, Nurul Adha, menjelaskan bahwa tahun 2026 akan menjadi momentum besar bagi konvergensi intervensi spesifik dan sensitif.

Program ini mencakup pemenuhan gizi seperti pemberian susu PKMK (Pangan Olahan untuk Kondisi Medis Khusus), perbaikan sanitasi, hingga pengentasan kemiskinan.

"Penting juga skrining ibu hamil di Posyandu untuk mendeteksi potensi stunting sejak dini, bahkan sebelum bayi lahir," papar Ummi Nurul, sapaannya. ​​

Kadis Kesehatan Lombok Barat Erni Suryana optimis mrlihat data penurunan angka stunting.

Berdasarkan data E-PPGBM terbaru, angka stunting di Lombok Barat kini berada di posisi 9,27 persen mengalami penurunan dari angka sebelumnya yang mencapai 9,70 persen. ​

"Target yang diberikan Pak Bupati untuk standar SSGI (Survei Status Gizi Indonesia) adalah 18 persen. Meski tantangannya berbeda antara data survei dan data lapangan (by name by address), kami terus berupaya maksimal," ungkap Erni.

​Ketua TP PKK Lombok Barat, Ayu Indra Rukmana, menegaskan bahwa 5.000 kader PKK di seluruh penjuru kabupaten telah dikerahkan untuk memberikan edukasi pola asuh, pola makan, dan kebersihan.

PKK juga menginisiasi gerakan menanam sayuran di pekarangan rumah dan sekolah untuk memastikan ketersediaan pangan bergizi secara mandiri. ​

"Kami membagi tugas melalui empat Pokja. Ada yang fokus pada pencegahan pernikahan dini, ada yang mengurus menu pemberian makanan tambahan (PMT), hingga edukasi pola asuh di Posyandu. Kami ingin bantuan seperti susu PKMK dari Pemda tidak sia-sia karena didukung oleh lingkungan keluarga yang sehat," pungkas Ayu. 

Editor : Kimda Farida
#Gubernur #Lombok Barat #Lalu Muhammad Iqbal #Nurul Adha #NTB #Stunting