LombokPost – Pemangkasan dana desa tidak menyurutkan komitmen Pemerintah Desa Senggigi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Kepala Desa Senggigi Mastur tetap menjalankan program beasiswa sarjana bagi warganya yang kurang mampu namun berprestasi.
"Program ini kami jalankan sejak 2024. Waktu itu ada enam mahasiswa yang kami biayai. Tahun 2025 ada lima orang, dan tahun 2026 ini juga lima orang," ujar Mastur.
Program beasiswa tersebut kini sudah berjalan selama tiga tahun berturut-turut.
Mastur menegaskan bahwa pendidikan menjadi salah satu prioritas utama dalam pembangunan desa, terutama untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Melalui program tersebut, pemerintah desa menanggung biaya kuliah atau SPP para penerima beasiswa.
Tidak hanya itu, beberapa kebutuhan pendukung pendidikan juga ikut dibantu agar mahasiswa bisa fokus menyelesaikan studinya.
Setiap tahun, pemerintah desa mengalokasikan anggaran khusus dari APBDes untuk program tersebut.
Pada awal pelaksanaan, anggaran yang disiapkan sebesar Rp 50 juta per tahun. Seiring berjalannya waktu, anggaran tersebut terus ditingkatkan.
"Tahun kedua kami tambah menjadi Rp. 100 juta. Tahap ketiga saya tambah lagi Rp 50 juta, jadi totalnya sekarang Rp 150 juta," jelasnya.
Sumber pembiayaan program tersebut berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). Mastur menyebutkan, Pendapatan Asli Desa (PADes) Senggigi saat ini mencapai sekitar Rp 275 juta per tahun.
Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan sebelum dirinya menjabat sebagai kepala desa yang hanya berkisar Rp 50 juta.
Selain PADes, desa juga memperoleh pendapatan dari dana bagi hasil kerja sama dengan gerai ritel modern.
Mastur menegaskan bahwa pengelolaan anggaran desa harus dilakukan secara jujur, amanah, dan bertanggung jawab agar program-program yang menyentuh langsung masyarakat bisa terus berjalan.
"Kalau kita jujur dan amanah mengelola anggaran, program seperti ini pasti bisa dilakukan," tegasnya.
Program beasiswa ini ditujukan bagi lulusan SMA di Desa Senggigi yang memiliki prestasi akademik namun berasal dari keluarga kurang mampu.
Salah satu syarat utama penerima beasiswa adalah memiliki nilai rata-rata minimal tujuh hingga delapan serta memiliki tekad kuat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
"Yang penting anak-anak ini berprestasi dan benar-benar punya niat kuliah. Kalau dari keluarga kurang mampu dan nilainya bagus, kami bantu," katanya.
Selain fokus pada pendidikan, pemerintah desa juga memperhatikan sektor kesehatan.
Mastur menyebutkan pihaknya mendaftarkan masyarakat dalam program BPJS Kesehatan serta menyediakan ambulans desa untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi warga.
Meski kebijakannya tidak lepas dari kritik, Mastur mengaku tidak gentar.
Menurutnya, selama program yang dijalankan memberikan manfaat bagi masyarakat, kritik menjadi hal yang wajar.
"Kalau sudah untuk kepentingan masyarakat seperti ini, saya tidak takut dikritik," pungkasnya.
Editor : Kimda Farida