alexametrics
Kamis, 6 Agustus 2020
Kamis, 6 Agustus 2020

Warga Gili Trawangan Harap-harap Cemas

Di tengah ketidakpastian sikap pemprov, warga Gili Trawangan harap-harap cemas. Mereka ingin hak pengelolaan lahan 65 hektare (ha) itu segera diberikan kepada warga.

————–

“Hidup kami dulu seperti ulat, makan daun-daunan, makan apa saja. Di sini banyak nyamuk malaria, ular, dan tikus, tak seorang pun peduli Gili Trawangan,” tutur H Rukding, yang ditemui Lombok Post, di rumahnya, beberapa waktu lalu.

Rukding merupakan generasi awal yang merintis Gili Trawangan sampai pulau itu menjadi primadona turis asing. ”Ketika gemerincing dolar mulai terdengar di Gili Trawangan, mereka ramai-ramai ingin mengusir kami,” keluh Rukding, tersenyum kecut.

Dia salah satu warga Trawangan yang menunggu ketegasan sikap pemprov. Meski sudah lama menguasai lahan, warga belum tenang. ”Bicara GTI ini menyakitkan,” katanya.

Rukding masih bertanya-tanya, kenapa perusahaan itu menelantarkan tanah bertahun-tahun. ”Setelah pulau ini kami bersihkan baru mereka ribut,” katanya.

Sebelum 1970, Gili Trawangan merupakan hutan lebat tanpa penghuni. Baru pada tahun 1971, Rukding, yang tinggal di Gili Air membuka lahan bersama sepupunya Daeng Abas di Gili Trawangan. Ia membangun gubuk kecil sebagai tempat istirahat di sebelah timur agar mudah kembali ke Gili Air atau Gili Meno.

Rukding mengaku, tidak mudah membuka lahan yang ditumbuhi pohon besar dan kaktus berduri. Sore hari, langit Gili Trawangan tampak mendung. ”Bukan karena akan turun hujan, tapi nyamuk sangat banyak,” tuturnya. ”Nyamuk itu membawa malaria,” tambahnya.

Selain nyamuk pembawa malaria, pulau itu juga penuh dengan ular berbahaya. Di sana dia menanam singkong dan ubi jalar. ”Itu pun susah karena harus menghadapi serangan tikus dan rusa,” tuturnya.

Tahun 1973, Rukding membangun gubuk yang lebih permanen dan memutuskan menetap tinggal di Gili Trawangan. Alasannya, tanaman harus dijaga, karena jika ditinggal akan habis dimakan rusa dan tikus. Sekitar tahun 1976, beberapa orang dari Gili Air mulai membuka lahan dan bertanam di Gili Trawangan. ”Beberapa kali kami mengalami penggusuran,” katanya.

Setelah bertahun-tahun membangun Gili Trawangan, belakangan PT GTI masuk. Sejak 1995 mereka diberikan izin mengelola lahan itu. Tapi justru ditelantarkan. Karena itu warga masuk menggarapnya. ”Sekarang mau bagaimana tanah itu sudah penuh bangunan,” katanya.

Bila sekarang pemerintah merasa rugi tidak mendapatkan royalti besar dari PT GTI. Dia mengusulkan pemerintah menyerahkan hak pengelolaan lahan ke warga.  ”Warga sanggup menyetor Rp 4 miliar,” kata Rukding.

Dengan kondisi saat ini, aktivitas usaha warga tidak punya kejelasan. Bahkan Kepala Bakesbangpoldagri NTB H Muhammad Rum menyebut usaha tersebut ilegal. ”Itu ilegal dan yang lebih ribet lagi di belakang warga itu ada bos-bosnya,” kataya.

Menurutnya, banyak pengusaha yang membackup warga. Mereka merupakan orang luar NTB, mulai dari bule hingga pengusaha di Jakarta. ”Ini yang membuat persoalan lebih ribet lagi,” kata Rum.

Hingga saat ini pemprov belum berani memutuskan, apakah memutus kontrak dengan PT GTI atau tidak. ”Nanti kita akan memberikan keputusan komperhensif dan terbaik,” kata Sekda NTB H Lalu Gita Ariadi.

Tim terpadu akan konsolidasikan lagi. Sebab beberapa anggota tim sudah berganti. Misalnya kapolda NTB yang sudah diganti dengan pejabat yang baru. Termasuk dia sendiri baru diangkat menjadi sekda. ”Banyak hal perlu kami konsolidasikan,” ujarnya.

Meski demikian, dia memastikan, apapun hasil kajian tim akan menjadi yang terbaik.”Gubernurlah yang akan memutuskan,” jelasnya. (ili/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Masuk Destinasi Wisata Terpopuler Asia 2020, Lombok Siap Mendunia

”Kalau masuk di ranking dunia artinya kita adalah destinasi yang memang layak untuk dikunjungi,” kata Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) NTB Awanadi Aswinabawa, Rabu (5/8/2020).

Buntut Penutupan Savana Propok, TNGR Perketat Pemeriksaan Pengunjung

”Dengan penutupan ini semua akan lihat, kalau berbuat begitu pasti akan ditutup,” kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Dedy Asriady, Rabu (5/8/2020).

Kasus Sewa Lahan Desa Sesela, Penyidik Perdalam Keterangan Saksi

Berkas penyidikan kasus dugaan korupsi penyewaan lahan untuk pembangunan tower tahun 2018 masih dilengkapi. Sejumlah saksi diperiksa maraton untuk melengkapi berkas penyidikan. ”Yang sudah kita periksa baru Ketua RT dan ada juga dari BPD (Badan Permusyawaratan Desa),” kata Kajari Mataram Yusuf, Rabu (5/8).

Efek Pandemi, Omzet Penjual Perlengkapan Sekolah di Mataram Merosot

”Tak hanya buku paket dan buku tulis saja. Hampir seluruh jenis peralatan sekolah alami penurunan penjualan. Bahkan menjalar ke barang-barang peralatan kantor,” katanya.  

Totalitas dalam Melindungi Hak Pilih

SALAH satu asas penting dalam pelaksanaan pemilu/pemilihan adalah asas jujur. Kata jujur ini tidak hanya muncul sebagai asas penyelenggaraan pemilu/pemilihan, namun juga hadir sebagai prinsip dalam penyelenggaraannya. Setiap kata yang disebut berulang-ulang apalagi untuk dua fondasi yang penting (asas-prinsip) maka kata itu menunjukkan derajatnya yang tinggi.

Sanksi Tak Pakai Masker, Bayar Denda atau Bersihkan Toilet Pasar

Peraturan daerah (Perda) tentang Penanggulangan Penyakit Menular berlaku efektif bulan ini. Denda bagi aparatur sipil negara (ASN) yang melanggar lebih berat dibandingkan warga biasa.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Ungkap Dugaan Pembunuhan LNS, Polres Mataram Periksa 13 Saksi

Penemuan jasad LNS, 23 tahun dalam posisi tergantung di dalam sebuah rumah di di perumahan BTN Royal, Jempong Baru, Sekarbela, Mataram menyisakan tanda tanya. Penyidik Polresta Mataram  memeriksa sejumlah saksi secara maraton.
Enable Notifications.    Ok No thanks