alexametrics
Selasa, 9 Agustus 2022
Selasa, 9 Agustus 2022

Program Waste to Energy di Kota Mataram Tertunda Gara-gara Korona

MATARAM-Rencana mewujudkan sampah jadi energi di Kota Mataram tertunda. Penyebabnya karena virus Korona. ”(Wali Kota ) batal ke Taiwan. Rencananya mau ke sana untuk kerja sama,” kata Asisten II Setda Kota Mataram H Mahmuddin Tura, kemarin.

Tujuan Pemkot Mataram, Taiwan, menjadi salah satu negara yang terkena Korona. Wali Kota Mataram beserta jajarannya tak inign ambil risiko. Karena itu, kepergian mereka dibatalkan. “Kita memang maunya cepat, apalagi ini soal sampah. Tapi kalau soal begini, mau bagaimana lagi,” tutur mantan Kadis PUPR ini.

Rencananya, kerja sama dengan Taiwan berkaitan dengan pengolahan sampah menggunakan teknologi. Mengubah sampah menjadi energi atau waste to energy. Kebutuhan tersebut, dinilai urgent untuk persoalan sampah di Kota Mataram.

Kata Mahmuddin, jika ingin menyelesaikan sampah dengan cepat, caranya bisa dengan insinerasi. Bisa saja dengan pemilahan, tapi membutuhkan waktu sangat lama. Sementara pertumbuhan sampah tak bisa dibendung.

”Sekarang saja produksi sampah lebih dari 300 ton per hari. Lima tahun ke depan, bisa ribuan ton,” ujarnya.

Untuk mengolah sampah dengan maksimal, dibutuhkan lahan seluas dua hektare. Karena itu, tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) yang ada di Kecamatan Sandubaya, rencananya akan direlokasi.

Baca Juga :  Wali Kota Mataram Resmikan Rumah Singgah LAZ DASI NTB

Mahmuddin mengatakan, tidak mungkin membangun insenerator di lahan TPST yang sekarang. “Terlalu kecil. Makanya akan kita relokasi. Sudah ada persetujuan. Tinggal nanti seperti apa kerja sama dengan Taiwan,” kata Mahmuddin.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) M Nazaruddin Fikri mengatakan, ada beberapa opsi yang diajukan DLH. Terkait keberadaan TPST.

Jika menggunakan dana APBD, TPST yang sekarang rencananya diberi atap. Agar petugas kebersihan bisa bekerja siang malam. Juga untuk mengurangi pembusukan sampah dengan cepat.

”Kedua, kita ajukan pihak ketiga yang membeli. Nanti uangnya bisa digunakan untuk membeli tanah lain. Untuk TPST juga,” kata Nazaruddin.

Mengenai relokasi TPST, sudah ada persetujuan lisan dari Wali Kota, Wakil Wali Kota, dan Sekda. Hanya saja, tidak semudah itu. Pemkot masih harus memenuhi sejumlah kriteria. Seperti lahan.

”Kalau sudha ada, cocok tidak dengan RTRW. Jangan sampai melanggar. Pasti kita setuju. Tapi sementara menunggu relokasi, aktivitas TPST tetap berjalan seperti biasa,” ujarnya.

Baca Juga :  Massa NW Duduki Kemenkumham NTB

Sekarang ini, DLH berusaha agar di TPST tidak terjadi penumpukan sampah. Sarana pengangkut seperti truk dan petugas kebersihan, dikerahkan DLH. ”Kalau lagi menumpuk, kita kerahkan lebih dari 10. Jamnya juga kita tambahkan. Termasuk nanti menambah jumlah alat berat di sana,” sebut Nazaruddin.

Sambil menunggu keputusan dari pimpinan. Terkait inovasi pengolahan sampah yang lebih efisien, pola penanganan sampah tidak berubah. Dengan cara kumpulkan, angkut, lalu buang.

Katanya, TPST dimanfaatkan dua kecamatan, Cakranegara dan Sandubaya, untuk membuang sampah. Armada yang sekarang tentu masih kurang. Karena itu, di triwulan ketiga, DLH rencananya menambah satu alat berat.

”Penduduk dua kecamatan ini kan banyak. Di sana juga ada pasar induk, banyak kegiatan ekonominya, ditambah lagi wilayah perbatasan,” jelas Nazaruddin.

Sementara itu, petugas kebersihan di TPST Ivan mengatakan, kendaraan yang boleh masuk di TPST hanya roda tiga. Mobil maupun truk dilarang membuang sampah di sini. ”Aturannya memang sudah begitu. Sampah dari roda tiga itu juga asalnya dari sampah yang tercecer, yang tidak terangkut truk,” katanya. (dit/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/