alexametrics
Selasa, 29 September 2020
Selasa, 29 September 2020

Waspadai Cuaca Ektrem saat Peralihan Musim

MATARAM-Memasuki akhir musim kemarau, warga diminta mewaspadai potensi cuaca ektrem. Bencana banjir, longsor dan angin kencang berpotensi terjadi pada peralihan musim.

Meski BMKG mengeluarkan peringatan dini kekeringan, namun merema juga mengingatkan dampak peralihan musim. Bulan November merupakan akhir musim kemarau wilayah NTB. Karenanya, warga diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem pada masa transisi musim kemarau menuju musim hujan.

”Potensi hujan lebat dan angin puting beliung perlu diantasipasi,” kata Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)  Stasiun Klimatologi Lombok Barat Restu Patria Megantara menjelaskan, kemarin (11/11).

Restu menjelaskan, saat ini wilayah NTB masih mengalami kemarau. Curah hujan pada dasarian I November  2019 umumnya dalam kategori rendah di bawah 50 milimeter (mm) per dasarian. Curah Hujan kategori menengah terjadi di Pulau Lombok bagian utara, dan curah hujan kategori tinggi terjadi di sebagian kecil wilayah Bima.

Curah hujan dasarian tertinggi tercatat di Donggo sebesar 156 mm. Sifat hujan pada dasarian I November masih di bawah normal, kecuali Pulau Lombok bagian utara dan sebagian Bima.

Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut bervariasi dari kategori sangat pendek (1-5 hari) hingga kekeringan ekstrem di atas 60 hari. HTH kategori Kekeringan ekstrem di atas 60 hari umumnya masih terdapat di Pulau Lombok bagian timur serta sebagian Bima dan Dompu. ”HTH terpanjang tercatat di Sape Kabupaten Bima sepanjang 194 hari,” katanya.

El-Nino-Southem Oscillation (ENSO) saat ini berada pada kondisi netral. Sementara suhu muka laut di sekitar perairan NTB menunjukan kondisi lebih dingin dibandingkan kondisi normal. Analisis angin menunjukkan angin timuran masih mendominasi di wilayah Indonesia. Pergerakan Madden Jullian Oscillation (MJO) saat ini tidak aktif di wilayah Indonesia. ”Kondisi tersebut mengurangi peluang terjadinya hujan di wilayah NTB,” paparnya.

 Meskipun demikian, faktor lain seperti topografi masih dapat mendukung terjadinya hujan dengan intensitas rendah hingga menengah dalam skala kecil. Restu menambahkan, peluang terjadinya hujan pada dasarian II November masih rendah, dengan peluang terjadi hujan di bawah 20 mm per dasarian sebesar 50-90 persen. Terjadi di sebagian besar wilayah NTB. Terdapat peluang hujan di atas 50 mm per dasarian sebesar 10-30 persen di Pulau Lombok bagian barat, Sumbawa bagian utara dan sebagian wilayah Bima.

            Dengan kondisi cuaca itu, BMKG mengeluarkan peringatan dini kekeringan di NTB. Terutama di daerah dengan HTH di atas 60 hari, yakni di Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Dompu, dan Bima. ”Dengan mundurnya musim hujan warga perlu menyesuaikan perencanaan kegiatan disesuaikan dengan kondisi iklim,” imbuhnya.

            Pantauan Lombok Post di wilayah selatan Lombok, kekeringan masih terjadi. Sawah-sawah warga kering dan belum ditanami padi. Banyak sawah yang dibiarkan menganggur, kecuali mereka yang menanam komoditas lain.

            Di sisi lain, perkiraan cuaca terbaru dari BMKG Stasiun Menteorologi Kelas II Bandara Internasional Lombok kemarin telah mengeluarkan peringatan dini hujan lebat disertai kilat, petir, serta angin kecang.

            Peringatan potensi hujan lebat itu terjadi di wilayah Gangga, Pemenang, Tanjung, Seteluk, Alas, Taliwang, Batu Lanteh, dan dapat meluas ke wilayah Bayan, Batu Layar dan sekitarnya.

            Kepala Pelaksana BPBD NTB H Ahsanul Khalik mengatakan, penanganan kekeringan masih dilakukan, termasuk droping air ke wilayah-wilayah terdampak kekeringan. Pihaknya bekerja sama dengan BPBD kabupaten/kota daerah terdampak, termasuk TNI dan Polri yang turut membantu menyalurkan air bersih. ”Masih terus kami lakukan,” katanya.

            Mengantisipasi datangnya musim hujan, masing-masing kabupaten kota sudah diimbau untuk siaga. Seperti Kota Mataram sudah apel siaga kebencanaan mengantisipasi datangnya musim hujan.

            BPBD NTB sudah mengeluarkan imbauan kepada semua daerah untuk mengantisipasi potensi hidrometeorologi pascakemarau panjang. Bencana alam hidrometeorologi itu berupa angin kencang, hujan lebat dan gelombang tinggi.

            Kesiagaan bisa ditunjukkan dengan membersihkan parit, drainase dan sungai. Serta memotong ranting pohon yang membahayakan warga. Juga dengan membersihkan lingkungan agar terhindar dari beragam penyakit. (ili/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Memenangkan Pilkada dengan Survei

ADALAH sahabat saya satu almamater, Denny JA, yang pertama kali memopulerkan survei untuk pemilihan umum melalui lembaganya yang bernama Lingkaran Survey Indonesia.  Baik untuk pemilihan Presiden, pemilihan kepala daerah, ataupun pemilihan anggota DPR, DPD, dan DPRD.

Kisah Wenri Wanhar, Lima Tahun Kaji Sejarah Borobudur

Borobudur bukan sekadar mahakarya untuk wisata atau ber-selfie ria. Tapi, secara tersembunyi merekam ajaran dan teknologi masa lampau. Wenri menemukan ajaran dan teknologi itu tersebar di pelosok Indonesia.

Lomba Kampung Sehat NTB Bangkitkan Semangat dan Kekompakan

WAKAPOLDA NTB Brigjen Pol Asby Mahyuza mengunjungi dua Kampung Sehat di Sumbawa. Yakni Kampung Sehat Lingkungan Maras, Kelurahan Samapuin, di Sumbawa Besar, dan Kamung Sehat Desa Moyo, Kecamatan Moyo Hilir, di Pulau Moyo.

Pelibatan Tiga Pilar, Kunci Teggakkan Protokol Kesehatan

PENEGAKAN protokol kesehatan terus dimaksimalkan Polres Lombok Barat. Salah satunya dengan mengoptimalkan peran tiga pilar.

Proyek Pembangunan Dermaga Senggigi Tak Jelas

Dermaga Senggigi berpotensi mangkrak lebih lama. Meski Dinas Perhubungan (Dishub) Lombok Barat (Lobar) tetap mengupayakan kelanjutan pembangunannya. ”Mau tidak mau harus kita lanjutkan. Itu kewajiban kita,” kata Kadishub Lobar HM Najib.

Distribusi Bantuan Beras Lelet, Dewan Minta Pemprov NTB Ambil Alih

”Pemda harus secepatnya koordinasi ke pusat, kalau ada kemungkinan ambil alih, take over secepatnya, kasihan masyarakat,” tegas Anggota Komisi V DPRD NTB Akhdiansyah, Minggu (27/9/2020).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.
Enable Notifications    Ok No thanks