alexametrics
Selasa, 22 September 2020
Selasa, 22 September 2020

Dana BOS SLB Diduga Dikorupsi

MATARAM-Dugaan mark up penerima dana BOS pada sejumlah sekolah luar biasa (SLB) di NTB mulai ditangani kepolisian. Laporan dugaan korupsi ini diserahkan ke penyidik Subdit III Ditreskrimsus Polda NTB, setelah sempat ditangani Inspektorat NTB.

Inspektur Inspektorat NTB Ibnu Salim mengatakan, ketika ditangani Inspektorat, jajarannya telah menjalin komunikasi dengan pihak terkait. Termasuk memberi keleluasaan kepada mereka untuk memberi penjelasan.

”Artinya, itu tidak ada tindak lanjut (dari mereka). Kita bawa ke APH sesuai dengan PKS (perjanjian kerja sama),” kata Ibnu.

Terkait laporan dugaan korupsi dana bos SLB, Ibnu tidak mendetailkan isinya. Yang pasti, kata dia, ada dugaan penyimpangan dalam pengelolaan dana BOS di sejumlah SLB di NTB. ”Pelaksanaan ada potensi penyimpangan,” ujarnya.

Terpisah, Dirreskrimsus Polda NTB Kombes Pol Syamsudin Baharuddin membenarkan adanya pelimpahan dari Inspektorat. Menindaklanjuti itu, jajarannya telah membentuk tim untuk melakukan penyelidikan.

”Sudah kita terima dan ditindaklanjuti,” kata dia, kemarin.

Laporan ini sebelumnya diterima posko Satgas Saber Pungli di Inspektorat NTB. Saat itu, ada 12 laporan dugaan korupsi, salah satunya mengenai dugaan penyimpangan pengelolaan dana BOS untuk sejumlah SLB.

SLB mendapat bantuan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB tahun 2017. Bantuan yang diberikan untuk dana pendidikan berupa dana BOS, bagi siswa berkebutuhan khusus di sejumlah SLB. Nilainya mencapai Rp 2 juta per siswa.

Terdapat indikasi fiktif dan mark up dalam prosesnya. Dalam laporan yang terima, jumlah siswa ditambah pengelola SLB, sehingga tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

Mark up untuk mendapatkan dana BOS, tentu kontradiktif dengan kemudahan yang diberikan pemerintah. Dalam beleid dikeluarkan Mendikbud, khusus SLB, meski jumlah siswa hanya terhitung jari, anggaran dana BOS yang dikeluarkan setara dengan 60 siswa.

Informasi yang koran ini dapatkan, dugaan mark up terjadi di salah satu SLB di Bima. Di sana, pengelola SLB menaikkan jumlah siswa hingga di angka ratusan. Padahal, jumlah siswa sebenarnya hanya di bawah 10 orang.(dit/r2)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Sejak Pandemi, Omzet Pedagang Pasar Tradisional Turun 40 persen

”Penurunan omzet juga diikuti penurunan kapasitas pedagang di pasar sebesar 40 persen,” katanya saat ditemui di ruang kerja, Senin (21/9/2020).

Manfaatkan Simulasi KBM Tatap Muka untuk Pembiasaan Pola Hidup Sehat

”Kita lihat mana yang belum pakai masker sekaligus kita kampanye 3M itu, bersama guru-guru yang lain,” jelas Winarna.

Menag Positif Korona, UIN Mataram Langsung Instruksikan Pegawai WFH

”Pegawai UIN Mataram semaksimal mungkin, agar bekerja dari rumah menyelesaikan tugas masing-masing,” tegas dia.

Tagih Piutang Rp 3 Miliar PT GNE Libatkan Kejaksaan

Sekitar Rp 3 miliar uang PT Gerbang NTB Emas (GNE) tercatat sebagai piutang. Sejumlah perusahaan masih berhutang pada perusahaan daerah milik Pemprov NTB ini. “Makanya kita akan menggunakan JPN (jaksa pengacara negara) untuk menagih,” kata Direktur PT GNE Samsul Hadi, Jumat (18/9).

VIDEO : Buron ke Kalimantan, Pulang, Saen Diringkus di Lingsar

Pelarian anggota komplotan pencurian dengan pemberatan berinisial SR alias Saen, berakhir. Pria 31 tahun, asal Dusun Bagek Nunggal, Desa Peteluan Indah, Lingsar, Lombok Barat, itu dibekuk setelah setahun buron. ”Pelaku pulang karena rindu keluarga,” kata Kapolsek Lingsar AKP Dewi Komalasari, Sabtu (19/9).

WCD, Warga Lobar Bebaskan Pantai Cemara dari Sampah

Ribuan orang di Lombok Barat (Lobar) memperingati World Cleanup Day (WCD), akhir pekan kemarin. Kegiatan ini dipusatkan di Pantai Cemara. ”Semuanya terlibat. OPD, kecamatan, desa, bahkan masyarakat juga ramai ikut,” kata Bupati Lobar H Fauzan Khalid, Sabtu (19/9).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Dua Terduga Pengedar Ekstasi Tertangkap di Karang Kediri

Dua terduga pengedar ekstasi berinsial PAW alias Patrick, 28 tahun, dan AZP alias Agli, 25 tahun, dibekuk tim Satnarkoba Polresta Mataram, Kamis (17/9) malam. ”Kita tangkap mereka di Lingkungan Karang Kediri, Cakranegara,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson, kemarin (18/9).

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks