alexametrics
Selasa, 29 September 2020
Selasa, 29 September 2020

Tembakau Rajangan, Tembakau Kesayangan

Kala petani tembakau virginia buntung lantaran harga jual yang anjlok, para petani tembakau rajangan di Pulau Lombok justru kian eksis dan malah meneguk untung. Ada yang menanam tiga hektare, sudah meraup pendapatan Rp 270 juta. Ada perusahaan keluarga, omzetnya sudah tembus Rp 1 miliar setahun. Lho, memang apa rahasianya?

—————————————————————-

 HJ SUMIATI, duduk di antara pedagang di Pasar Mandalika siang itu.  Wanita parobaya itu mengisap dalam-dalam sebatang rokok lintingan di tangannya. Satu dua detik ditahannya. Kemudian asap disemburkan melalui hidung dan mulutnya. Begitu terus diulangnya. Tiap hisapan, begitu dinikmatinya.

Merokok bagi Sumiati bukan hal tabu. Merokok dan tembakau bagian dari hidupnya. Tapi, yang dia jual bukan rokok pabrik. Maksudnya rokok yang dibungkus bagus-bagus yang pabriknya di Pulau Jawa itu. Melainkan, Sumiati adalah pedagang tembakau rajangan. Dia saban hari ngetem di Pasar Mandalika.

Karena pengalamannya itu, pedagang asal Masbagik, Lombok Timur itu sangat hafal jenis-jenis tembakau. Dia pun fasih membedakan rasa dan bau tiap jenis tembakau. Mulai tembakau harum, manis, dan sedikit pahit.

Ada beberapa jenis-jenis tembakau rajangan yang dijualnya. Antara lain, tembakau Kasturi Manis. Kata dia, tembakau jenis ini paling banyak dicari. Rasanya manis dan enak. Setengah kilogram atau setumpi dijual dengan harga Rp 100 ribu sampai Rp 125 ribu. Kemudian ada tembakau Kasturi Jepun. Tembakau jenis ini agak lengket dan lembek. Harganya Rp 125 ribu per 0,5 kg.

Ada tembakau Skot Jamaq. Kata Sumiati, yang ini rasanya ringan. Aroma tembakaunya tidak terlalu keras. Namun, baunya harum. “Sedikit manis,” katanya. Ah, jangan bayangkan semanis gula ya. Harganya Rp 40 ribu per setengah kilogram.

Kemudian ada ‌Mako Pender Jorong. Batang tembakau ini pendek kecil dan daunnya keriting. Harga jualnya Rp 30 ribu per setengah kilogram. Juga ada tembakau Paroke, kemudian tembakau Bandung. Yang ini, warnanya hitam. Tembakau ini paling murah. Hanya Rp 20 ribu per setengah kilogram. Yang terakhir ini, entah bagaimana rasanya.

 Sudah Melegenda

Berjualan tembakau rajangan puluhan tahun, Sumiati mengaku, peminat tembakau rajangan tak pernah sepi. Meski berbagai merek rokok baru bermunculan dengan tampilan serba elegan. Tembakau rajangan tetap laris. Sumiati bahkan memiliki pembeli tetap.

”Banyak yang beli di sini kemudian dijual ecer lagi,” katanya.

Banyak tembakau rajangan asal Lombok yang kesohor. Tembakau-tembakau itu banyak dicari. Bahkan diburu. Salah satu yang melegenda adalah Tembakau Senang, Lombok Timur. Pekan lalu, Lombok Post ke sana.

Baru tiba, aroma khas tembakau rajangan dengan kualitas terbaik menyeruak ke dalam indra penciuman. Puluhan bal tembakau bertumpuk dalam etalase kayu yang disiapkan khusus sebagai ruang penyimpanan. Tembakau tersebut terdapat di sebuah gudang pengemasan tembakau Senang milik Haji Senan. Tempatnya di Desa Masbagik, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur.

Haji Senan merupakan satu dari banyak pengusaha lainnya yang menjalankan bisnis tembakau rajangan tersebut. Ia sendiri telah puluhan tahun menggeluti usaha tersebut.

“Sejak belum ada bea cukainya,” kata Haji Senan kepada Lombok Post.

Tempat kemasan tembakau milik Haji Senan tidak sebesar yang terbayang ketika melihat bentuk kemasan tembakaunya. Tapi juga tidak bisa dibilang kecil. Ia mengatakan, bisnis tersebut dijalankan seadanya. Dengan kemampuan menjual 20 tumpi per dua minggu.

Bentuk kemasan tembakaunya sendiri cukup rapi. Di bungkus tertulis nama produk Pusaka Lombok ‘Tembakau Senang Asli’ isi 500 gram. Nama perusahaannya UD Tresna Masbagik. “Tembakau ini saya masukkan ke beberapa toko di Lotim,” tuturnya.

Harga per tumpi isian 500 gram Rp 165 ribu. Ia menerangkan, beberapa

pedagang lain ada yang menjual sampai Rp 400 ribu. Menurutnya, bukan kualitasnya berbeda, tapi kemungkinan melihat pasar dan prinsip yang membuatnya menetapkan harga.

Proses pembelian dari petani sendiri dilakukan oleh seorang yang jago dalam menilai rasa. Untuk pembelian, ia melakukannya sendiri. Menurut Senan, yang paling sulit dari bisnis tersebut adalah mempertahankan kualitas rasa. Mengenai hal tersebut, ia menerangkan jika kualitas rasa tergantung pad acara petani menanamnya. Meskipun di atas tanah terbaik, jika penanamannya tidak maksimal, sudah barang tentu kualitas rasanya juga akan berkurang.

Sampai saat ini, pembeli tembakaunya tidak hanya dari Lombok saja. Akan tetapi sampai ke luar negeri seperti Malaysia. Mereka yang mendapatkan tembakau tersebut di supermarket terkadang akan meminta kembali. Itulah mengapa Senan menempel nomor kontaknya di kemasan tembakau senang yang ia jual.

Senan percaya, tembakau rajangan tidak akan surut. “Apalagi sekarang harga rokok kemasan semakin tinggi. Nanti orang pasti akan memilih membeli tembakau. Lebih irit dan lama habisnya,” jelasnya.

Untuk kualitas terbaik, para petani pembudidaya tembakau ini senang kalau hari tanpa hujan berlangsung lama. Itu kabar kabar baik bagi petani tembakau rajangan. Terutama di musim panen. Ribuan kelabang dengan tembakau rajangan di atasnya segera dijejerkan di tanah lapang. Biasanya, sebagian besar petani tembakau rajangan dari Kecamatan Suela dan Pringgabaya memilih sebuah tempat lapang yang terletak di Desa Pekosong,

Kecamatan Pringgabaya. Namun di musim kemarau seperti ini, menjemur tembakau bisa di mana saja. Asal matahari tetap ada.

Oh ya. Berbicara mengenai tembakau rajangan, Desa Ketangga, Kecamatan Suela dikenal sebagai rajanya. Tembakau Senang. Nama itu dikhususkan bagi tembakau super yang ditanam dengan cara terbaik di atas tanah dengan kualitas terbaik. Karenanya, keberadaan petani tembakau rajangan di Desa itu pun tak mudah bergeser ke tembakau oven.

“Di Desa ini, seratus persen petani menanam tembakau rajangan atau yang disebut tembakau Kasturi,” jelas salah seorang petani tembakau dari Desa Ketangga Mislahuddin.

Panen terakhir, dari tiga hektare lahan yang ditanami tembakau Kasturi, Mislahuddin mendapatkan 270 bal. Sebab yang dihasilkan tembakau super, harga perbal mencapai Rp 1 juta. Maka panen tahun ini, ia mengantongi Rp 270 juta.

Kata Mislahuddin, banyak hal yang menyebabkan petani tembakau di Desanya tidak mau beralih dan mencoba hijrah menanam tembakau oven. Meski tak menutup kemungkinan, keinginan tersebut bisa saja hadir karena satu dan lain hal. Namun tembakau rajangan sampai saat ini terbukti menguntungkan.

Menurut Mislahudin, tanah terbaik yang menghasilkan rasa tembakau terbaik adalah tanah malit atau tanah lilin. Namun hal itu hanyalah unsur pendukung. Sebab yang utama adalah cara penanaman. Masing-masing dari petani memiliki cara tersendiri untuk mempertahankan kualitas harga tembakaunya.

Mislahuddin yang juga menjadi Kades Ketangga itu menerangkan juga proses penjualan yang dilakukan para petani. Mulai dari petani yang mengemas sendiri tembakaunya, juga yang menjualnya kepada pembeli yang mengolah tembakau. Menurutnya, sejauh ini para petani tidak pernah dirugikan. Namun tidak menutup kemungkinan, melihat hasil petani oven yang tak kalah menggiurkan, keinginan untuk menanam tembakau oven juga selalu datang.

“Saat ini kami tidak tahu perbandingannya. Karena kita di sini tidak pernah mencoba menanam tembakau oven,” ujarnya.

Omzet Tinggi

Karena banyak peminat, maka aktivtias usaha-usaha tembakau rajangan pun tetap berdenyut. Di Lombok tengah misalnya. Ada tiga perusahaan yang kesohor. Yakni UD Mawar Putra, UD Wahyu dan UD Nova.

Mereka membuat tembakau rajang dan mengemasnya dalam kemasan 40 gram. Menggunakan bungkus plastik ukuran yang sama, warna merah dan sedikit warna logam perak. Untuk UD Mawar Putra memiliki merek Cahaya Matahari atau disingkat CM. Usaha ini berdiri tahun 2005 lalu. Kemudian, UD Wahyu bermerek Pancaran Matahari atau PM, berdiri tahun 2015. Sedangkan, UD Nova bermerek Menggapai Matahari atau MM, baru berusia delapan bulan.

                Ketiga perusahaan ini, mampu memproduksi tembakau rajang sebanyak 6.300 bungkus per hari. Dalam dua pekan, tiga peursahaan yang merupakan perusahaan satu keluarga ini mampu mengemas 9 ton tembakau.

Saat ini, total ada 90 orang yang bekerja tiap hari di sana. Per bungkus di jual Rp 5 ribu, dengan nilai cukai tembakau per tahun sebesar Rp 547 juta. Sedangkan omzet tiga perusahaan ini sudah mencapai Rp 1 miliar per tahun.

                Lokasi usaha ini ada di Dusun Peseng, Desa Wajegeseng, Kecamatan Kopang. Senin (21/10) lalu, Lombok Post ke sana. Cuma, perusahaan ini saat ini sedang seret bahan baku. Sudah dua pekan pekerja diliburkan. Sebab, harga tembakau rajangan justru sedang tinggi-tingginya. Disinyalir, ada pengusaha dari luar daerah yang bersedia membeli di atas harga standar.

Pimpinan usaha dagang ini, Wahyu Wahyudi pada Lombok Post mengatakan, normalnya, harga tembakau rajangan satu ton Rp 40 juta. Namun, saat ini berubah menjadi Rp 45 juta per ton. Bahkan Rp 50 juta per ton.

Saat ini, perusahaan sementara hanya mengirim stok yang tersedia di gudang. Antara lain, tembakau ini dikirim ke Surabaya. “Aroma yang kami tawarkan, harum gurih seperti aroma coklat,” kata Wahyu.

Di sisi lain, pihaknya pihaknya mengeluhkan harga cukai tembakau yang dinilai terlalu mahal. Tidak sebanding dengan penghasilan perusahaannya.

                Hal yang membuatnya serba simalakama. Mau menaikkan harga, pelanggan sepertinya enggan menerima. Toh, meski begitu, Wahyu mengaku tak pernah tidak optimis. Bahkan, mereka siap melebarkan unit usaha. Mereka akan akan mengembangkan produk rokok kretek.

Bahkan, mereka sudah punya bayangan. Bahwa, harga yang akan ditawarkan jauh lebih murah dari produk rokok kretek pada umumnya. Sementara urusan kualitas, dia memastikannya sama. Bahkan lebih baik. “Khusus tembakau rajang, permintaan terbesar dan terbanyak dari Surabaya,” katanya.

 Tak Pernah Tersandera

Karena permintaan yang terus ada, maka produksi tembakau rajangan di NTB pun terus tumbuh. Memang tidak sepesat tembakau virginia yang dioven. Dan kelebihan para petani tembakau rajangan, mereka tak pernah tersandera perusahaan. Sebab, para petani tembakau rajangan memang bukan petani binaan perusahaan. Itu sebabnya mereka tidak pernah bergantung pada perusahaan tembakau. Mereka memproduksi dan menjual secara mandiri.

Meski demikian, produksi tembakau rajangan di NTB tidak sebanyak tembakau virginia. Hal itu tergambar dalam data produksi tembakau tiga tahun terakhir. Tembakau virginia masih menjadi favorit bagi petani. Dari 45.792,99 ton produksi tembakau tahun lalu, hanya 10 ribu ton tembakau rajangan.

”Karena pasarnya terbatas, biasanya lokal saja,” kata Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB Ahmad Rifai.

Kendati begitu, belakangan, tembakau rajangan Lombok banyak diminati pasar tembakau di luar daerah. Permintaan dari Pulau Jawa selalu ada. Taufikurrahman, salah satu pedagang tembakau rajangan mengatakan, dia kerap mengirim ke luar karena kualitas tembakau Lombok cukup bagus.

Berbeda dengan tembakau virginia. Para petani tembakau rajangan bisanya lebih merdeka. Mereka tidak terlalu bergantung pada perusahaan, jika perusahaan membeli dengan harga bagus mereka jual. Kalau harga terlalu murah, mereka tidak akan menjualnya.

”Kalau cocok timbangan kita jual ke pabrik juga,” katanya.

Dia mengaku lebih suka menjual rajangan biasa dibandingkan bentuk kemasan. Sebab, rajangan kemasan harus membayar cukai dan terdaftar resmi. Beda dengan tembakau rajangan biasa, tidak ada cukai.

Bandingkan dengan nasib petani tembakau oven. Hasan Basri misalnya. Salah seorang petani tembakau dari Dusun Montong Lisung, Desa Semoyang, Kecamatan Praya Tumur ini mengaku cukup susah. Karena menurutnya, banyak pengeluaran dalam menanam tembakau. Seperti membeli bibit, pupuk, dan upah para buruh. Di satu sisi, nilai jual tembakau tidak selalu tinggi. Bahkan kata dia, ada tembakau dihargakan Rp 2 ribu per bal.

“Ini biasanya tembakau yang tumbuh di pucuknya,” tutur pria Dusun Montong Lisung ini.

Hasan yang menanam tembakau di lahan  dua hektare tidak selalu untung. Karena nilai jual tembakau rendah. Belum lagi pengiriman tembakau untuk dijual belum jelas. Untuk harga tembakau tutur dia, tergantung dari warna. Misalnya,  tembakau dengan warna kuning biasanya dihargakan Rp 4 juta per bal, merah Rp 2,5 juta, hitam Rp 1 juta. Bahkan ada juga yang warna tembakau yang agak kehijauan ini dihargakan Rp 7 ribu per bal.

“Kalau beratnya per bal saya kurang tahu,” tuturnya.

Beda dengan petani yang sudah ada kerja sama dengan perusahaan. Sudah jelas pasarnya. “Kadang kita juga nitip jualan di petani yang sudah ada kerja sama dengan perusahaan,” ujarnya.

Para petani yang memiliki kerja sama dengan perusahaan tak perlu khawatir soal penjualan hasil panen mereka. Melalui perusahaan, hasil panen para petani yang bermitra sudah pasti dibeli pemasok berkat adanya kontrak antara petani dan pemasok.

Meski begitu, para petani tembakau bisa terkena penyakin green tobacco sickness. Penyakit yang selalu jadi ancaman para petani tembakau karena zat kimia yang berbahaya. Kadar air yang terkandung dalam daun tembakau bisa terserap oleh kulit. Membuat siapapun yang memegangnya langsung merasa pusing, mual, dan sakit kepala.

“Penyakit ini bisa membuat para petani memiliki tekanan darah yang tidak stabil dan detak jantung tak teratur,” tuturnya.

Oleh sebab itu, beberapa petani menggunakan pakaian berlengan panjang dan sarung tangan untuk menghindari penyakit ini.

Hasan mengeluh dengan harga tembakau yang selalu murah. Tembakau open miliknya kadang tidak pernah tinggi harganya. Namun begitu ia tetap  menanam karena tembakau ini tidak terlalu membutuhkan air. “Mau tidak mau kita nanam. Masak mau nanam padi di musim kemarau,” katanya.

Untuk tembakau sendiri, Hasan menjual seperti kebanyakan petani pada umumnya. Ia menjual daun tembakau yang sudah diopen. Bukan tembakau rajangan. (ili/tih/jay/dss/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Turunkan Angka Pernikahan Anak, Lobar Apresiasi Program Yes I Do

"Sudah pas Peran NGO melalui Program Yes I Do sangat bagus menekan tingkat pernikahan anak," kata Kepala DP2KBP3A Lobar Ramdan Hariyanto.

Tetap Tumbuh, Sektor Tambang Topang Ekonomi NTB di Masa Pandemi

Sektor pertambangan memang tak lepas dari fondasi ekonomi provinsi NTB. Di triwulan II 2020, sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh sebesar 47,78 persen mampu menahan laju penurunan ekonomi NTB. Pada triwulan II, ekonomi NTB kontraksi 1,4 persen, namun tanpa sektor pertambangan dan penggalian, kontraksi akan lebih dalam lagi hingga mencapai 7,97 persen.  

Taspen Lindungi JKK JKM Non ASN

PT Taspen kini memberikan jaminan dan perlindungan penuh terhadap pegawai non Aparatur Sipil Negara (ASN)

Nomor 4, Era BARU, Industri 4.0, Menang!

Aqi berkomitmen membuat lompatan besar membawa Kota Mataram lebih maju, nyaman, dan beradab. Ia yakin dengan dukungan semua pihak yang menginginkan ibu kota provinsi NTB bersinar terang. “Sebagai putra Mataram, saya ingin memberikan karya terbaik saya buat tanah kelahiran saya,” katanya dengan suara bertenaga.

UT Mataram Beri Beasiswa KIP-K dan CSR se-NTB

“Penerima beasiswa KIP-K mendapatkan bebas biaya kuliah, buku dan uang saku Rp 700 ribu per bulan yang dibayar di akhir semester,” terang Raden.

Dorong Industri Kreatif : HARUM Rancang Mataram Creative District

ebagai sebuah kota yang terus berkembang, Kota Mataram harus menangkap peluang ini sebagai salah satu penguat daya saing global di masa mendatang.  Bagaimana rencana pengembangan Industri Kreatif di Mataram di masa mendatang berikut petikan wawancara kami dengan H Mohan Roliskana calon wali kota Mataram.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.
Enable Notifications    Ok No thanks