alexametrics
Minggu, 20 September 2020
Minggu, 20 September 2020

Divonis Dua Tahun Penjara, Tangis Iskandar Pecah

MATARAM-Mantan Kasatpol PP Bima Iskandar histeris usai vonis dua tahun penjara dalam sidang di Pengadilan Tipikor Mataram, kemarin (26/2). Terdakwa menangis dan berteriak menyebut nama Allah SWT usai hakim memberikan kesempatan untuk menanggapi putusan tersebut.

”Yaaa…Allah! Tidak pernah saya berbuat itu,” teriak Iskandar sambil mengangkat kedua tangannya ke wajah untuk menahan tangisnya.

Iskandar berusaha menyembunyikan emosinya di hadapan majelis hakim dan jaksa penuntut umum (JPU). Saat itu, Iskandar diberikan waktu untuk berdiskusi dengan penasihat hukumnya, Abdul Salam, apakah akan mengajukan banding atau menerima putusan hakim.

Melihat kondisi kliennya, Abdul Salam mengambil alih jawaban dari pertanyaan majelis hakim. ”Kami pikir-pikir dulu yang mulia hakim,” kata Salam.

Setelah sidang, Salam mengatakan, putusan terhadap kliennya tidak mencerminkan keadilan. Majelis hakim tidak sedikitpun mempertimbangkan poin pembelaan yang sempat dilayangkan ketika agenda pleidoi.

”Bagaimana ini, pembelaan dari terdakwa sama sekali tidak dimasukkan dalam pertimbangan putusan,” ujar dia.

Salam kemudian menyoroti fakta persidangan, yang menyebut kliennya menikmati dana taktis sebesar Rp 20 juta, selama lima bulan menjabat Kasatpol PP Bima, dari Januari hingga Mei 2014.

”Dia (Iskandar) tidak pernah menikmati uang sepeserpun,” sebut Salam.

Menurut dia, fakta pemberian uang Rp 20 juta muncul dari keterangan Kadrin dan Samsul Bahri. Kedua orang tersebut juga menjadi terdakwa di perkara yang sama. Tidak ada alat bukti lain, berupa dokumen, yang bisa menjadi petunjuk atas tuduhan tersebut.

”Di BAP juga tidak ada. (Bukti) pencairan juga tidak ada. Keterangan itu hanya keluar dari dua orang yang jadi terdakwa di perkara ini,” beber dia.

Meski mengkritisi putusan yang tidak berkeadilan, Salam mengaku tetap menghormati vonis dari hakim. ”Kita tetap hargai. Soal banding atau tidak, nanti saya koordinasikan lagi,” tandasnya.

Dalam persidangan kemarin, majelis menyatakan Iskandar terbukti bersalah melakukan perbuatan korupsi secara bersama-sama dan berlanjut. Sesuai dengan tuntutan dalam dakwaan subsidair JPU.

”Menyatakan terdakwa secara sah dan meyakinkan bersalah dengan hukuman pidana penjara dua tahun. Serta, denda Rp 50 juta subsider satu bulan kurungan,” kata Ketua Majelis Hakim Suradi membaca amar putusan.

Hakim juga menghukum terdakwa untuk membayar uang pengganti sebanyak Rp 120 juta. Selama proses hukum yang dijalaninya, Iskandar telah menitip uang Rp 20 juta sebagai uang pengganti kerugian negara.

Suradi mengatakan, uang Rp 20 juta akan disetorkan ke negara. Sisanya, Rp 100 juta, apabila tidak dibayar terdakwa satu bulan setelah putusan inkrah, maka harta bendanya akan disita dan dilelang untuk menutupi uang pengganti.

”Apabila tidak dibayar, ditambah pidana penjara selama satu tahun,” sebut Suradi.

Di pertimbangan putusan, yang dibacakan Hakim Anggota Fathurrauzi dan Abadi secara bergantian, Iskandar disebut tidak bisa dimintai pertanggungjawaban atas sejumlah kegiatan fiktif dan mark up anggaran Satpol PP tahun 2014.

”Secara faktual, anggaran cair di masa Edi Darmawan (terpidana dan Kasatpol PP setelah Iskandar),” kata Fathurrauzi.

Karena tidak terbukti dalam kegiatan fiktif dan mark up, hakim mempertimbangkan permintaan uang dari Iskandar sebanyak Rp 20 juta, selama dia menjabat. Juga mengenai operasional pembelian BBM sebesar Rp 20 juta, yang tidak sesuai kebutuhan.

Fathurrauzi menerangkan, berdasarkan catatan bendahara yang dijabat Samsul Bahri, Iskandar meminta uang dengan dalih dana taktis. ”Terdakwa menyalahgunakan kewenangannya untuk tujuan yang salah,” ujar dia.

Ihwal penggantian kerugian negara sebesar Rp 120 juta, berasal dari dana taktis dan pembelian BBM. Total, Iskandar disebut menerima Rp 100 juta dari dana taktis dan Rp 20 juta untuk pengadaan BBM di luar kebutuhan.

Mengenai ini, Iskandar sekali lagi membantahnya. ”Haram saya kalau benar menerima itu. Berani saya mati sekarang sebelum sampai di Lapas Mataram kalau memang saya terima uang itu,” kata Iskandar sesaat sebelum masuk mobil tahanan.(dit/r2)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Film MOHAN, Ini Dia Official Teasernya

Rumah Produksi Warna tengah merampungkan pembuatan film MOHAN. Film bergenre drama remaja tersebut tengah memasuki fase shooting. Namun demikian sebagai bocoran Warna telah meluncurkan cuplikan Official Teaser nya.

14 Ribu UMKM Lombok Utara Diusulkan Terima Banpres

Jumlah UMKM KLU yang diusulkan menerima bantuan presiden (Banpres) Rp 2,4 juta bertambah. Dari sebelumnya hanya 4. 890, kini tercatat ada 14 ribu UMKM. ”Itu berdasarkan laporan kabid saya, sudah 14 ribu UMKM yang tercatat dan diusulkan ke pusat,” ujar Plh Kepala Diskoperindag KLU HM Najib, kemarin (18/9).

Cegah Penyimpangan, Bupati Lobar Amankan 640 Dokumen Aset Daerah

Dinas Arsip dan Perpustakaan Lombok Barat (Lobar) terus mencari dokumen-dokumen aset milik pemkab. ”Kalau arsip (dokumen) hilang, aset daerah juga melayang,” kata Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Lobar H Muhammad Yamil.

Penuh Sampah, Warga Dasan Geres Turun Bersihkan Sungai

Pola hidup bersih digalakkan warga di Lingkungan Dasan Geres Tengah. Salah satunya melalui program sungai bersih. ”Kita ciptakan lingkungan bersih dan asri,” kata Lurah Dasan Geres Hulaifi, kemarin.

Perintah Menteri, RT Wajib Bentuk Satgas Penaganan Covid-19

Upaya menekan penyebaran virus COVID-19 masih harus gencar. Salah satu kebijakan baru yang digagas adalah mewajibkan membentuk satgas penanganan COVID-19 hingga level kelurahan, dusun atau RT/RW. Satgas tersebut nantinya bertugas mengawal pelaksanaan kebijakan satgas pusat di lapangan.

Senggigi Telah Kembali (Bagian-2)

SELAMA berminggu-minggu “kegiatan tidak berarti ini” dilaksanakan tanpa ada maksud apa-apa kecuali biar sampah tidak menumpuk. Namun keberartian “kegiatan tidak berarti ini” justru menjadi simpul efektif dari kebersamaan dan rasa senasib sepenangungan seluruh komponen yang ikut bergotong royong.

Paling Sering Dibaca

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.
Enable Notifications    Ok No thanks