alexametrics
Selasa, 29 September 2020
Selasa, 29 September 2020

HOTEL-HOTEL MENGATUR SIASAT

Manusia mungkin bisa hidup tanpa makanan. Namun, tak sekalipun dapat hidup tanpa harapan. Kata orang bijak ini sedang dibuktikan para pengelola hotel berbintang di Bumi Gora. Di tengah tingkat hunian yang anjlok di titik nadir, mereka masih betahan dan optimistis pariwisata NTB hanya soal waktu untuk bangkit lagi. Sembari menunggu masa keemasan datang kembali, hotel-hotel pun memeras otak. Menjual apa saja, semata agar tetap ada pemasukan. Termasuk merumahkan karyawan tanpa digaji.

————————————

CAHAYA penerang jalan meredup. Jalanan sepi. Hanya sesekali kendaraan lewat. Lalu sepi kembali. Begitulah kawasan wisata Senggigi malam Ahad, pekan lalu. Kawasan yang biasanya gemerlap, sekarang, seperti lampu penerangan jalan di sana, kondisinya meredup.

            Tak ada lagi keramaian sepanjang malam suntuk. Tak ada lagi gegap gempita dengan musik meletup-letup. Sudah lama, keramaian seperti itu tiada. Sudah setengah tarikh.

            Senggigi memang belum pulih. Semenjak gempa beruntun melanda NTB Agustus tahun lalu. Maka, jadilah, malam minggu yang biasanya menjadi puncak keramaian, kini tiada lagi. Tak lagi ramai orang memenuhi kafe-kafe. Tak lagi restoran-restoran dengan live music. Hanya beberapa hotel yang sayup-sayup terdengar lantunan music. Salah satunya Hotel Montana Premier Senggigi.

Dari luar, terlihat beberapa kendaraan terparkir di area hotel. Tak banyak mobil. Hanya tiga. Sementara di basement, banyak kendaraan motor yang parkir. Puluhan. Telisik punya telisik. Malam itu, Hotel Montana Premier menggelar acara khusus. Tidak untuk tamu hotel saja. Tetapi juga masyarakat umum.

Tamu hotel yang lagi sepi, menyebabkan manajemen hotel ini mencari cara agar hotel tetap berdenyut. Maka, jadilah masyarakat umum menjadi bidikan. Hotel pun menjual aneka kuliner lokal. Orang boleh tidak menginap. Tapi, bisa datang makan malam. Makan siang. Atau makan di waktu yang lain.

Dan khusus malam minggu, ada live music. Lokasinya di area kolam renang. Dan dari sana, para pengunjung bisa memesan makanan khas nusantara yang disiapkan dari dapur restoran hotel.

Jika selama ini makan di hotel identik dengan harga mahal. Montana mengikis anggapan itu. Sebab, mereka menjual makanan khas Nusantara tersebut dengan harga kaki lima. Dan itu pun semuanya dipatok rata. Cukup dengan banderol Rp 15 ribu saja.

“Sejak terjadinya gempa, setiap malam Minggu kami menyiapkan menu kuliner lokal untuk pelanggan umum,” kata General Manager Hotel Montana Premier Senggigi Binang Odi Alam pada Lombo Post.

Yang disediakan aneka macam. Seperti bakwan malang, empek-empek, dan gado-gado. “Ya, harganya Rp 15 ribu aja,” katanya.

Itulah cara Montana ingin tetap bertahan. Dengan begitu, hotel tetap berdenyut. Sebab, Odi tak menampik, sejak terjadinya gempa Agustus 2018 lalu, okupansi hotel memang terus merosot drastis. Bahkan sekarang berada di bawah angka 20 persen.

Akhir pekan lalu, jumlah kamar yang diisi wisatawan yang menginap di hotel ini tak lebih dari 25 kamar. Padahal, Montana punya 90 kamar berbagai kelas.

Karena itu, jadilah manajemen memutar otak. Sembari terus menggelar berbagai promosi, agar Senggigi ramai kembali macam dahulu.

“Makanya saya bikin event setiap Minggu. Yang bisa diakses anak-anak muda dan remaja. Masyarakat umum,” katanya.

Untuk mengakses event ini di Montana pun tak ribet. Tidak ada persyaratan khusus yang diberlakukan hotel pada pengunjung. Siapapun bisa masuk. Macam orang datang nongkrong di mal. Seperti itu mudahnya.

Lalu, dari mulut ke mulut, informasi tentang apa yang terjadi di Montana pun beredar ke masyarakat. Dan, jadilah malam minggu di sana meletup-letup lagi. Meski belum seperti dahulu.

Dan jadilah, selain tamu, para pengunjung umum ikut berbaur. Datang makan. Lalu kembali ke rumah setelahnya. Pantauan Lombok Post akhir pekan lalu, sejumlah pegunjung ada yang datang bersama pasangannya. Ada juga beberapa kelompok orang dewasa yang datang bersama teman-teman mereka. Memang jumlahnya belum banyak. Sekitar 20 orang.

Tapi suasana hotel tetap ramai. Tamu yang sedikit, menyebabkan banyak karyawan hotel yang juga ada di luar ikut nimbrung menikmati live music dari grup band lokal.

“Kita sih bersyukur. Bisa malam mingguan sambil nikmatin menu hotel dengan harga murah. Sering-sering aja seperti ini,” ujar Ilham, salah seorang pengunjung tersenyum.

Montana sendiri menyebut program tersebut sebagai promo spesial. Dari keterangan Sawitri, salah seorang pegawai di Hotel Montana, kunjungan masyarakat umum memang perlahan membaik setelah program ini digelar. Pengunjung yang sudah datang, nantinya akan kembali mengajak teman-temannya datang kembali.

“Datang menikmati hidangan nikmat dengan suasana romantis,” katanya berpromosi.

Di Senggigi, tak hanya Hotel Montana yang mengatur siasat seperti itu. Hotel bintang lima macam Sheraton pun melakukan hal serupa. Sepinya tamu, menyebabkan manajemen hotel mencari dara agar hotel bisa terus menggeliat. Maka, lahirlah program khusus untuk masyarakat umum.

“Kami punya program Splash. Program ini untuk mengembalikan kondisi pariwisata Senggigi,” ujar Mayang, Marketing Communication Hotel Sheraton Senggigi pada Lombok Post.

Program Splash itu adalah program yang menjual kolam renang. Macam kolam renang umum. Mereka yang bukan tamu hotel kini bisa menikmati kesempatan berenang di Sheraton. Hal yang sebelum-sebelumnya tak pernah terjadi. Sebab, selama ini, kolam renang memang hanya eksklusif untuk tamu hotel saja.

Melalui program Splash ini, masyarakat bisa berenang sepuasnya seharian penuh. Hanya dengan membayar tiket masuk ke kolam renang Rp 100 ribu. Pengunjung juga nantinya dapat jus segar dan handuk untuk mengeringkan diri usai berenang.

Sejak mulai dibuka Oktober 2018 lalu, Mayang menyebut, kunjungan ke Hotel Sheraton pun mulai ramai. Ya itu tadi. Bukan oleh mereka yang hendak menginap. Tapi oleh mereka yang hendak berenang. Khususnya di akhir pekan. Tak sendiri. Banyak yang datang bersama keluarga.

Punya kolam renang yang luas, memang menjadi salah satu daya tarik kolam renang Sheraton. Pun juga lokasinya yang dekat dengan pantai. Jadi sembari berenang, pengunjung pun dapat menikmati keindahan Pantai Senggigi.

Bukan Lagi Low Seasion

Harus diakui, tingkat hunian kamar yang rendah, perlahan-lahan telah memukul bisnis perhotelan. Ketua Harian Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB I Gusti Lanang Patra menyebut, rata-rata tingkat hunian hotel di NTB selama Januari hingga Februari 2019 ini berada pada posisi 10 persen. Sebuah angka yang sangat rendah.

Angka hunian hotel sebesar itu, sungguh tak lazim untuk NTB yang merupakan destinasi wisata utama tingkat nasional. Sebab, tahun-tahun sebelumnya tidak begini. Memang, saat ini dunia pariwisata sedang memasuki musim low seasion. Januari dan Februari memang bukan musim liburan. Tapi, dalam lima tahun terakhir, inilah kondisi terparah yang dialami hotel-hotel berbintang di NTB terkait tingkat hunian.

Tahun lalu, di periode yang sama, tingkat hunian masih berada pada posisi 40 persen. Memang terjadi penurunan tingkat okupansi setelah Desember saat memasuki Januari. Namun, masih pada posisi menggembirakan karena di atas 35 persen. (Selengkapnya lihat grafis).

Karena itu, apa yang terjadi di NTB dua bulan di awal tahun ini bukan lagi low seasion. Tapi lebih parah dari low seasion. Soal penyebabnya, orang mafhum. Selain bencana gempa, harga tiket penerbangan yang mahal dan pemberlakuan bagasi berbayar adalah musabab di balik semua itu.

Indonesia yang memasuki musim kampanye politik juga belum begitu berdampak. Mungkin ada kaitannya dengan di mana kampanye terbuka saat ini memang masih dilarang. Sehingga pergerakan fungsionaris partai dari pusat ke daerah belum terlalu masif.

Hotel mulai mengatur siasat yang lain. Yakni dengan mengatur karyawan bekerja 14 hari. Lalu sisanya libur 14 hari. Dan tentulah, penghasilan karyawan disesuaikan dengan hal tersebut. Tapi kata Lanang, penghasilan para pegawai tersebut masih layak.

Karyawan Dirumahkan

Bahkan, para pengelola dan pemilik hotel yang ada di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika mulai mengingatkan karyawan mereka, agar tidak mengeluh kalau gaji dibayar telat. Sebab, di sana, saat ini, kamar-kamar hotel yang kosong bukanlah hal yang rahasia lagi. Sebab, rata-rata hotel begitu. Sepi tamu. Sementara di sisi lain, biaya operasional hotel tetap berjalan. Seperti biaya listrik, air, pajak, makan dan minum hingga gaji karyawan.

General Manajer JM Hotel Kuta Samsul Bahri, salah satu hotel di Mandalika mengaku, tingkat hunian anjlok 70 persen. Yang datang ke hotel kini adalah tamu-tamu langganan.

Mereka dari wisatawan lokal. Sebagian nusantara dan sebagian wisatawan asing. “Untung saja kami belum gulung tikar,” katanya.

            Di Lombok Utara, kondisinya pun begitu. Kawasan wisata tiga gili yang selama ini menjadi primadona wisatawan mancanegara, terpukul habis-habisan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lombok Utara mencatat, tingkat kunjungan wisatawan Januari 2019 mengalami penurunan hampir 50 persen. Penurunan ini didominasi oleh wissatawan mancanegara.

Selama Januari, wisatawan yang ke Gili Trawangan mencapai 28.281 orang. Jumlah ini turun hampir 50 persen dibandingkan Januari 2018 lalu sebesar 48.372 orang. Jumlah wisatawan lokalnya sebesar 4.039 orang. Jumlah ini turun sebesar 2.466 orang dibandingkan Januari 2018 lalu. Sedangkan wisatawan mancanegara sebesar 24. 242 orang. Jumlah ini pun turun drastis sebesar 17.625 orang dari Januari 2018 sebesar 41.867 orang.

“Ini juga dampak dari mahalnya harga tiket,” ujar Kepala Disbudpar KLU Vidi Ekakusuma pada Lombok Post, Senin (25/2).

Diakuinya, program pemulihan pariwisata dampaknya mungkin akan mulai terlihat pada Maret-April 2019.

GM Hotel Wilsons di Gili Trawangan, Lalu Kusnawan menuturkan, saat gempa lalu pihaknya langsung menutup operasional hotel. Penerimaan tamu baru mulai dibuka hampir sebulan pascagempa. Yakni di tanggak 23 Agustus.

Biasanya kata Wilsons, pihaknya selalu mendapat booking tamu memasuki Januari. Namun menjelang 2019 lalu booking benar-benar tidak ada lagi. Okupansi Wilsons pun anjlok hanya  di angka 20 persen saja.

“Saya drop sampai 80 persen. Memang akibat gempa ini, banyak yang melakukan pembatalan orderan,” ungkapnya.

Akibat pembatalan orderan, pihaknya harus melakukan refund. Karena uangnya sudah diambil duluan sebelum wisatawannya datang ke tiga gili. Rata-rata refund tersebut untuk mereka yang membooking pada saat high season sebelum Agustus 2018 lalu.

Kusnawan mengungkapkan, sebelum gempa terjadi okupansi biasanya sebesar 70 persen. Memasuki Juli-Agustus bisa mencapai 80-90 persen.  Pada 4 Agustus 2018 (H-1 gempa) kamar di Wilsons full booking. Okupansinya mencapai 90 persen.  Ini diakrenakan tamu sudah booking dari jauh-jauh hari.

Sekarang kata dia, akibat rendahnya angka kunjungan dan okupansi, sejumlah hotel merumahkan karyawannya tanpa digaji. Hal itu berlaku hingga batas yang tidak ditentukan. Merumahkan karyawan ini diduga akibat kondisi pascagempa. Meski begitu, Wilsons sendiri masih mempertahankan karyawan yang ada.

“Jadi otomatis ini adalah tanggung jawab kita,” tegasnya.

Kondisi saat ini menurut Kusnawan memerlukan peran pemerintah daerah. Sebab jika kondisinya tidak membaik, mau tidak mau harus menutup usaha alias gulung tikar. Sehingga mereka tidak perlu bayar pajak, bayar karyawan dan listrik, dan lainnya.

“Dan memang kalau kemarin ada relaksasi pajak, saya pikir sangatlah setuju. Saya pikir perlu sekali,” jelasnya.

Ia menambahkan, untuk memulihkan wisata tiga gili, khususnya Gili Trawangan perlu dilakukan perbaikan segera. Tak hanya itu, saat ini para pengusaha perhotelan dan restoran membutuhkan promosi. Yakni promosi intens di tingkat nasional maupun internasional.

City Hotel Lebih Baik

Jika kondisi hotel di kawasan resort berdarah-darah, hotel di dalam kota kondisinya masih lebih baik. Mengingat, sejumlah acara masih berlangsung di hotel. Event-event MICE dari pemerintah daerah pun masih berlangsung. Pekan-pekan ini misalnya sedang berlangsung kegiatan nasional pertemuan Asosiasi DPRD Kabupaten/kota seluruh Indonesia. Ribuan delegasi dari berbagai daerah hadir. Dan menyebabkan tingkat hunian hotel di dalam kota membaik.

General Manager Hotel Santika Mataram Reza Bovier bahkan mengaku, saat hunian hotel pada Januari di bawah 10 persen, di hotelnya, tingkat hunian cukup baik. Bahkan bisa tembus hingga angka 55,24 persen pada Januari.

Itu sebabnya, dia mengaku optimistis, jika tingkat hunian kamar di tahun ini akan terus meningkat. Santika kata Reza memang memiliki sejumlah inovasi untuk menggaet tamu. Di antaranya dengan menggeber sejumlah promo. Mulai dari promo kamar, dan juga promo kuliner di setiap bulannya. Hingga paket meeting room.

Reza menilai, meningkatnya okupansi di periode low season tidak lepas dari tamu yang loyal. Tak kecuali program promo yang diberlakukan pihaknya. Promo kuliner di bulan ini misalnya. Santika menghadirkan promo kuliner gurami penyet, sumsum candil, mojito lemon grass, dan hot mint tea. Harganya pun murah meriah. Mulai dari Rp 37 ribu.

Karena itu, dengan angka okupansi hingga 50 persen, dia mengaku hal tersebut adalah pencapaian yang hebat. Bahkan, kata dia, kalau dibanding 2018, okupansi saat ini masih cukup kecil. Sebab, okupansi Januari 2018 berada di atas 60 hingga 70 persen.

Santika pun menjaga hubungan baik dengan para tamunya. Mereka memperlakukan customer bak keluarga. Sehingga para tamu hotel yang sebelumnya sudah datang, bisa kembali lagi dan lagi ke Santika.

Maka, saat ada hotel yang merumahkan karyawan, hal tersebut tak terjadi di Santika. Hotel bintang tiga ini memilih tetap mengerjakan para karyawannya. Di tambah lagi, tetap memberikan gaji dan bonus sembako pada karyawannya.

Senada dengan Santika, Golden Palace Hotel Lombok juga menikmati hal yang sama. Tingkat hunian masih baik. Golden Palace memang menghadirkan beragam inovasi untuk menarik para tamu hotel. Salah satunya, promo kamar, wedding, meeting room, birthday party, kuliner, dan yang terbaru ada promo nyepi package.

Asisten Marketing Communication Manager Golden Palace Hotel Lombok Ida Ayu Nyoman Sri Utami pada Lombok Post mengatakan, pihaknya memberikan promo menarik di setiap minggu ataupun bulannya. Seperti promo birthday package (anak-anak) yang dibanderol mulai dari Rp 125 ribu/nett. Serta birthday package (dewasa) yang dibanderol mulai dari Rp 150 ribu/net.

“Birthday package ini selalu ramai. Selain itu kami juga menghadirkan promo gathering atau paket arisan dengan nominal Rp 150 ribu/nett,” tutur dia.

Selain itu, Golden Palace juga menghadirkan promo yang tidak kalah menariknya di setiap tahun. Ada elegance wedding package dengan harga Rp 198 ribu/nett/pax, luxury wedding package dengan harga Rp 234 ribu/nett/pax.

Dan yang tak kalah menariknya, ada royal wedding package yang dibanderol Rp 288 ribu/nett/pax.

“Di antara semua promo hotel, wedding package ini yang paling ramai hingga saat ini,” jawabnya.

Ketua Asosiasi Hotel Mataram Ernanda Agung D menilai, untuk membangkitkan tingkat kunjungan wisatawan. City Hotel telah melakukan beragam inovasi untuk menarik para tamu menginap. Salah satunya, dengan beragam event-event hiburan.

“Masing-masing hotel tentunya punya strategi khusus dalam menggaet para tamu. Khusus untuk anggota AHM, mereka tengah fokus untuk promosi MICE,” kata Ernanda pada Lombok Post.

Menurut dia, agenda MICE memiliki potensi yang besar untuk mengembalikan tingkat kunjungan dan okupansi hotel. Agenda MICE bisa jadi potensi besar untuk meningkatkan okupansi hotel.

“Kami optimis jika banyaknya MICE di Mataram, maka okupansi hotel-hotel disini akan meningkat,” tutur General Manager Golden Palace Hotel Lombok tersebut.

Pajak Hotel Anjlok Rp 1,3 miliar

Dan bukti betapa tingkat hunian hotel yang rendah ini bisa dilihat dari anjloknya pajak hotel dan restoran. Di Kota Mataram, Kepala Badan Keuangan Kota Mataram HM Syakirin mengungkapkan, meski ada penurunan angka kunjungan, pihaknya tak memberlakukan kelonggaran pajak pada hotel dan restoran.

“Jadi tetap kita hitung semua. Termasuk kalau kasih diskon. Berarti 10 persen dari diskon itu yang kita hitung,” katanya. Dari pantauan lapangan, diakui bahwa ada penurunan jumlah tamu di hotel saat ini.

Dia mengungkapkan, target pajak restoran Kota Mataram tahun ini sebesar Rp 26 miliar. Artinya setiap 10 persen pajak hotel yang ditarik tiap bulan pemkot menagetkan memperoleh Rp 2,1 miliar. Namun akibat penurunan jumlah kunjungan, kisaran pendapatannya bukan 10 persen, tetapi justru di bawah 7 persen dari target keseluruhan.

“Itu sekitar Rp 1,3-1,5 miliar,” jelasnya.

Turunnya pendapatan pajak restoran ini mulai terlihat pada bulan Januari 2019 lalu. Sementara pada Desember 2018 Syakirin menyebut angkanya relatif baik.

Tapi lanjut Syakirin, tim tak begitu saja percaya. Menyamakan setiap bulan akan terjadi penurunan okupansi hotel. Karenannya sampai saat ini pihaknya masih terus memantau. Kunjungan wistatawan ke hotel-hotel berbintang di Kota Mataram.

“Ada sekitar 15 hotel berbintang yang kita jadikan patokan,” terangnya.

Tim bekerja dari pagi sampai sore. Juga melihat strategi hotel itu dalam meningkatkan okupansi. Semisal dengan memberikan diskon penginapan.

“Jadi jam sekian apa yang mereka lakukan itu semua masuk dalam catatan kami,” ulasnya.

Syakirin mengatakan jika hotel membuka layanan restoran untuk umum. Itu tidak terhitung sebagai kunjungan hotel. Tetapi lebih dilihat sebagai strategi untuk tetap bertahan di saat low seasion.

“Tapi kalau ada tamu hotel kemudian mengunjungi restoran itu terhitung fasilitas dan tetap dikenakan pajak restoran,” ulasnya.

Salah satu pelaku hotel yang mengeluh dengan kunjungan wistawan dalam dua bulan terkahir yakni Adi Yasa. Owner Nutana Hotel Mataram ini menyebut kunjungan hotelnya benar-benar ambruk dalam dua bulan terakhir.

“Selama Februari ini malah hanya sekitar 7 orang yang masuk ke hotel saya,” keluh Adi.

Pada Januari, kondisinya tak lebih baik. Hal ini lantas membuat para pengelola hotel termasuk dirinya melakukan rasionalisasi. “Dari pengurangan pegawai hingga tarik modal,” terangnya.

Adi mengatakan ia tak punya pilihan lain. Terutama untuk menutupi biaya operasional hotel. Bahkan ia memperkirakan low season akan terus terjadi dalam beberapa bulan ke depan. “Hingga bulan April,” duganya.

Ia sendiri belum mengetahui alasan pasti. Apa penyebab kunjungan wisatawan ke kota ambruk. Ia membandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang lebih ramai. Kunjungan pun mencukupi untuk menutupi biaya operasional selama low seasion.

“Bukan karena gempa. Saya juga tidak melihat ini ada kaitannya dengan ongkos pesawat yang mahal,” cetusnya.

Tapi dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun lalu. Atau tahun-tahun sebelumnya. Maka tahun inilah yang paling buruk.

“Padahal saya sudah diskon harga hingga 60 persen. Cukup buat tutupi operasional saja. Tetap saja sepi,” akunya.

Adi lantas membandingkan kunjungan wisata di Banyuwangi, Jawa Timur. Pada saat low seasion seperti saat ini ia menilai kunjungan di sana justru tetap ramai. Hal ini menurutnya karena harga tiket miring di sana.

“Coba bayangkan harga tiket Banyuwangi-Kuala Lumpur itu Rp 250 ribu. Masuk akal nggak?” bandingnya.

Adi menduga, Pemerintah Daerah di sana berani mengambil keputusan besar. Mendorong wisatawan tetap ramai di awal tahun. Dengan cara mensubsidi ongkos wisatawan datang ke daerahnya.

“Kalau tidak disubsidi pemerintah, mana mungkin harga bisa semurah itu,” cetusnya.

Ia berangan-angan. Andai saja pemerintah provinsi hingga pemerintah kota bisa melakukan hal yang sama. Seperti yang diupayakan pemerintah Banyuwangi. Adi yakin, para pelaku perhotelan tidak akan sesakit saat ini melewati masa low seasion.

“Tapi sepertinya pemerintah kita lebih senang pada kegiatan-kegiatan seremoni,” sindirnya.

Kegiatan itu menurutnya jelas-jelas tidak ada faedahnya bagi para pelaku jasa wisata. Karena yang menikmati sajian lebih banyak masyarakat lokal. Sementara target wisatawan tidak pernah tercapai. (ton/tea/dss/zad/r8)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Turunkan Angka Pernikahan Anak, Lobar Apresiasi Program Yes I Do

"Sudah pas Peran NGO melalui Program Yes I Do sangat bagus menekan tingkat pernikahan anak," kata Kepala DP2KBP3A Lobar Ramdan Hariyanto.

Tetap Tumbuh, Sektor Tambang Topang Ekonomi NTB di Masa Pandemi

Sektor pertambangan memang tak lepas dari fondasi ekonomi provinsi NTB. Di triwulan II 2020, sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh sebesar 47,78 persen mampu menahan laju penurunan ekonomi NTB. Pada triwulan II, ekonomi NTB kontraksi 1,4 persen, namun tanpa sektor pertambangan dan penggalian, kontraksi akan lebih dalam lagi hingga mencapai 7,97 persen.  

Taspen Lindungi JKK JKM Non ASN

PT Taspen kini memberikan jaminan dan perlindungan penuh terhadap pegawai non Aparatur Sipil Negara (ASN)

Nomor 4, Era BARU, Industri 4.0, Menang!

Aqi berkomitmen membuat lompatan besar membawa Kota Mataram lebih maju, nyaman, dan beradab. Ia yakin dengan dukungan semua pihak yang menginginkan ibu kota provinsi NTB bersinar terang. “Sebagai putra Mataram, saya ingin memberikan karya terbaik saya buat tanah kelahiran saya,” katanya dengan suara bertenaga.

UT Mataram Beri Beasiswa KIP-K dan CSR se-NTB

“Penerima beasiswa KIP-K mendapatkan bebas biaya kuliah, buku dan uang saku Rp 700 ribu per bulan yang dibayar di akhir semester,” terang Raden.

Dorong Industri Kreatif : HARUM Rancang Mataram Creative District

Sebagai sebuah kota yang terus berkembang, Kota Mataram harus menangkap peluang ini sebagai salah satu penguat daya saing global di masa mendatang.  Bagaimana rencana pengembangan Industri Kreatif di Mataram di masa mendatang berikut petikan wawancara kami dengan H Mohan Roliskana calon wali kota Mataram.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.
Enable Notifications    Ok No thanks