alexametrics
Kamis, 13 Mei 2021
Kamis, 13 Mei 2021

Infeksi Saluran Kemih pada Kehamilan

Oleh:

dr Putu Harrista Indra Pramana

Dokter di RSAD Wira Bhakti

 

PENYAKIT infeksi merupakan masalah dunia yang terjadi di negara berkembang maupun negara maju. Infeksi saluran kemih (ISK) adalah masalah kesehatan terbanyak kedua yang ditemukan setelah infeksi saluran napas yang keadaannya tidak dapat diabaikan karena insidennya masih cukup tinggi. Pada ibu hamil, ISK merupakan penyakit yang paling sering terjadi setelah anemia.

Di Indonesia, data dari Kementerian Kesehatan tahun 2014 melaporkan insidensi ISK mencapai 90-100 kasus per 100 ribu populasi. Perempuan cenderung mengalami ISK lebih sering dari laki-laki karena bakteri dapat mencapai kantung kemih lebih mudah. Sebagian disebabkan karena uretra wanita pendek dan lebih luas dan dekat dengan anus.

Pada keadaan normal urine adalah steril. Umumnya ISK disebabkan oleh kuman gram negative dan Escherichia coli adalah penyebab paling umum sekitar 80-90 persen kasus. Faktor risiko terjadinya ISK pada wanita hamil dapat terjadi karena perubahan anatomis selama kehamilan yang memengaruhi jarak uretra dengan vagina dan rektum. Riwayat ISK sebelum kehamilan juga dapat menjadi faktor risiko timbulnya ISK selama kehamilan yang dapat berimplikasi pada proses kelahiran.

Jenis ISK dapat dibagi berdasarkan ada atau tidaknya gejala. ISK tanpa gejala dapat berkembang menjadi bergejala apabila tidak diobati dengan baik. Gejala yang bisa dirasakan berupa nyeri atau rasa terbakar saat berkemih, kencing berdarah, rasa tidak lampias atau anyang-anyangan, menggigil, demam hingga cedera ginjal akut, anemia, dan hipertensi pada kehamilan.

Penegakan diagnosis infeksi saluran kemih adalah dengan Gold Standard yaitu deteksi patogen pada pemeriksaan kultur urine.  Nilai ambang batas yang digunakan berbeda untuk ISK tanpa gejala maupun dengan gejala. Dalam diagnosis pada perempuan termasuk ibu hamil, digunakan sampel yang berasal dari urine pancar tengah. Semua ISK pada kehamilan, baik bergejala maupun tidak, harus diterapi. Skrining ISK tanpa gejala pada kehamilan dilakukan minimal satu kali pada setiap trimester. Pilihan terapi ISK pada kehamilan adalah dengan pemberian antibiotik yang disesuaikan dengan usia kehamilan, profil bakteri, sensitivitas antibiotik setempat, serta memperhatikan efek samping.

Ibu hamil akan mengalami ISK berulang sekitar 15 persen sehingga dibutuhkan pengobatan ulang dan upaya pencegahan. Pencegahan yang tepat baik secara perilaku maupun obat-obatan penting untuk mencegah berkembangnya penyakit dan komplikasi yang mungkin muncul. Beberapa cara untuk pencegahan adalah dengan selalu menjaga kebersihan saluran kemih, perbanyak minum air putih, tidak menahan kencing, menjaga asupan makanan, dan beberapa penelitian menunjukkan manfaat jus cranberry dalam menurunkan kejadian ISK.

Apabila ISK dibiarkan berlangsung dan tidak diobati dapat menyebabkan infeksi pada ginjal. Infeksi yang berkembang selama kehamilan dikaitkan dengan hasil yang kurang baik bagi ibu dan anak. Bahkan tanpa pengembangan infeksi ke ginjal, ISK selama kehamilan apabila di awal segera ditangani secara benar, maka ISK tidak akan membahayakan bayi.

Kesimpulannya, infeksi saluran kemih pada kehamilan perlu diperhatikan. Akibat komplikasi yang mungkin terjadi dapat menyebabkan kesakitan dan kematian ibu dan anak. Perlu adanya edukasi mengenai risiko infeksi dan perlunya kesadaran ibu hamil tentang kesehatan organ genitalia. Deteksi dini sangan bermanfaat untuk pencegahan dan penanggulangan komplikasi infeksi saluran kemih pada kehamilan. (*)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks