alexametrics
Jumat, 26 Februari 2021
Jumat, 26 Februari 2021

Kapan Waktu yang Tepat Periksa Gigi?

SELONG-Gigi adalah bagian tubuh yang juga perlu perawatan rutin. Idealnnya pemeriksaan gigi dilakukan enam bulan sekali. ”Jangan setelah parah baru ke dokter,” kata drg B Wahyu Nurmitasari pada Lombok Post, (17/1).

Dokter gigi yang buka praktik di Sakra, Lombok Timur itu menerangkan, perawatan gigi tak boleh terlambat. Jika sudah parah, umumnya gigi terpaksa harus dicabut.

”Kebanyakan yang datang sudah tidak bisa dipertahankan, ya karena terlambat itu,” ujarnya.

Periksa enam bulan sekali penting sebagai langkah pencegahan. Enam bulan adalah estimasi waktu yang tepat untuk mengetahui kondisi kesehatan gigi seseorang.

Diingatkan, ke dokter gigi bukan saja saat sedang sakit gigi, apalagi setelah parah. ”Karena tak periksa, sering masyarakat tidak tahu kondisi giginya. Apakah sudah berlubang, mengalami karang gigi, atau masalah lain,” jelasnya.

Untuk perawatan rutin, sarannya tetap rajin menggosok gigi. Minimal dua kali sehari, pagi dan malam sebelum tidur. Bisa juga ditambah intensitasnya, sehabis makan. ”Gosok gigi juga tak sembarang, ada aturannya,” kata dia.

Hal yang terkesan sederhana itu, jika tak dilakukan dengan benar tentu bisa berimplikasi negatif. ”Kalau gogok giginya tidak benar, akan ada sisa makanan tertinggal,” kata perempuan yang akrab disapa Ayu itu.

Sisa makanan inilah yang perlahan merusak gigi. Ini juga membuat aroma mulut menjadi tak sedap. ”Dalam jangka panjang, bisa buat sakit gigi, gigi berlubang, atau karang gigi,” katanya mengingatkan.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, dia rutin memberi edukasi. Ada yang melalui media sosial, ada pula edukasi dengan mendatangi langsung masyarakat desa sekitar tempatnya bertugas. Dia juga rutin ke sekolah-sekolah.

Masalah lain yang turut disoroti adalah maraknya tukang gigi. Dikarenakan kurangnya jumlah dokter gigi di Lotim, banyak masyatakat berkunjung ke tukang gigi. ”Masalahnya tukang gigi ini tak semua paham standar pemeriksaan, perawatan, dan pengobatan masalah gigi dan mulut yang benar,” katanya.

Karena itu, bersama dua rekannya yang juga bertugas di Sakra, mereka aktif mengedukasi masyarakat tentang bahaya k etukang gigi. ”Ada drg Risky Amrullah dan drg Baiq Halimatussadiah, kami bertiga terus mengedukasi warga,” imbuhnya.

”Kami ingin mengubah paradigma masyarakat, dari paradigma sakit, menjadi paradigma sehat,” tambah Risky.

Maksudnya, rawat gigi dan cegah gigi sakit di dokter gigi. Bukan sakit dulu baru ke dokter gigi. ”Tentunya dengan rutin control ke dokter gigi enam bulan sekali,” tutup Halimatussadiah. (yuk/r9/*)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications   OK No thanks