alexametrics
Selasa, 11 Agustus 2020
Selasa, 11 Agustus 2020

Sembilan Polisi Penganiaya Zainal Cuma Dituntut Setahun Penjara, Keluarga Korban Keberatan

MATARAM-Sembilan polisi yang menjadi terdakwa atas terbunuhnya Zainal Abidin sudah sampai pada agenda penuntutan, Senin (30/3) lalu. Mereka dituntut sama oleh jaksa penuntut umum (JPU), yakni satu tahun penjara.

Penasihat hukum keluarga Zainal Abidin, Yan Mangandar menganggap tuntutan tersebut terlalu ringan. Menurutnya, JPU tidak mempertimbangkan fakta secara utuh. ”Tidak memenuhi rasa keadilan terhadap keluarga korban,” kritik Yan.

Berdasarkan fakta persidangan, sembilan anggota polisi itu memiliki peran yang berbeda. Sangat tidak logis apabila mereka dituntut dengan tuntutan yang sama. ”Menurut saya, persidangan ini hanya sekedar formalitas saja,” ujarnya.

Jaksa mungkin lupa dalam kasus tersebut ada korban yang meninggal. Dari pengalamannya bersidang, biasanya tuntutan selama setahun itu hanya untuk kasus penganiayaan biasa. ”Korbannya tidak meninggal atau cacat seumur hidup,” jelasnya.

Tetapi, jaksa malah menuntut menggunakan pasal penganiayaan biasa atau pasal 351 ayat (1) KUHP. Biasanya, penganiayaan yang menyebabkan orang meninggal itu tuntutannya mencapai lima tahun penjara. ”Sebenarnya, tuntutan jaksa harus memperberat hukuman para terdakwa,” ucapnya.

Dia tidak bisa mengawal persidangan pada proses penuntutan. Karena, persidangannya menggunakan sistem video konfrensi. ”Hakim berada di kantor Pengadilan Selong, Jaksa berada di Kejari Selong, dan terdakwa beserta penasihat hukumnya berada di Rutan Polda NTB,” jelasnya.

Melihat proses peradilan yang dianggap tidak memenuhi rasa keadilan bagi keluarga korban, Yan beserta tim di BKBH Unram akan bersurat ke Pengadilan Negeri Selong. Mereka meminta hakim untuk tidak berpatokan pada tuntutan jaksa.

 ”Kami berharap, hakim bisa memperhatikan fakta persidangan dan rasa keadilan di masyarakat,” ujarnya.

Seharusnya, mereka yang menjadi anggota polisi harus dihukum berat. Mereka harusnya menjadi pelindung dan pengayom masyarakat. ”Seharusnya ini tidak harus terjadi. Tetapi, faktanya terjadi. Ini menjadi preseden buruk,” ungkapnya.

”Ini menjadi pelajaran bagi masyarakat dan aparat kepolisian lainnya. Bahwa semua orang yang melanggar hukum itu patut dihukum,” kata dia.

Pihak keluarga Zainal tidak menerima dengan tuntutan yang dilayangkan JPU. Karena, tidak berdasarkan pada nilai keadilan. ”Pihak keluarga menangis dan menyayangkan tuntutan itu,” ungkapnya.  

Terpisah, Kasi Pidum Kejari Selong Erick membenarkan kalau tuntutan terhadap sembilan anggota polisi yang menjadi terdakwa dalam perkara itu dituntut satu tahun. ”Kita menuntut sudah sesuai dengan fakta persidangan,” ujarnya.

JPU sudah mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan dari para terdakwa. ”Menurut kami itu sudah sesuai,” ungkapnya.

Erick tak ingin berbicara lebih jauh mengenai perkara. Karena, tugasnya hanya membantu Kejati NTB untuk menyidangkan perkara tersebut. ”Nanti konfirmasi ke Kejati NTB saja,” kelitnya.

Sebagai pengingat, Zainal  Abidin datang bersama sepupunya ke Kantor Satlantas Polres Lombok Timur (Lotim). Dia meminta motor yang ditilang dikembalikan.

Zainal Abidin memukul anggota polisi yang berjaga. Sehingga, terjadi baku hantam dan anggota lain ikut memukul. Zainal sempat dibawa ke rumah sakit tetapi nyawanya tak tertolong. Dalam kasus tersebut ada sembilan anggota polisi yang ditetapkan sebagai tersangka. (arl/r2)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Kapal Tenggelam di Tarakan, Satu Polisi Asal Lombok Tengah Meninggal

Kabar duka datang dari Ditpolairud Polda NTB. Satu anggotanya yang sedang bawah kendali operasi (BKO) di Ditpolairud Polda Kalimantan Utara (Kaltara) meninggal dunia.

Penjualan Mobil Toyota di NTB Masih Stagnan, Avanza Paling Diminati

”Dibanding saat kondisi normal, penjualan mobil baru pulih di angka 40-50 persennya saja. Kondisi ini bisa dibilang masih jauh dari situasi penjualan saat normal dulu,” kata Kepala Cabang Krida Toyota NTB Samsuri Prawiro Hakki, kepada Lombok Post, Senin (10/8/2020).

Data Kemiskinan NTB Belepotan, Verifikasi dan Validasi Sangat Lambat

Verifikasi dan validasi data kemiskinan atau data terpadu kesejahteraan sosial (DTSK) di NTB rupanya masih lambat. Hingga kemarin, baru lima daerah yang melaporkan hasil verifikasi dan validasi DTSK tersebut. Dari lima daerah itu, progres tiga daerah belum sampai 50 persen.

Kurikulum Darurat, Materi Belajar Siswa Dipangkas Hingga 70 Persen

LAMA DINANTI, Kurikulum darurat secara resmi telah diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Pada kurikulum ini, banyak materi yang dipangkas bahkan lebih dari separo.

Lale Sileng, Figur Pemimpin Perempuan Kaya Pengalaman Birokrasi

Kenyang pengalaman di dunia birokrasi, Hj Lale Prayatni punya modal mumpuni untuk memimpin daerah. Urusan mengelola birokrasi, anggaran, hingga perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, sudah lekat dengan kesehariannya. ”Sudah khatam saya soal itu,” kata Prayatni.

Harga Emas Naik, Aktivitas Pegadaian di Mataram Ikut Melonjak

Kondisi ini membuat jumlah penggadai yang mendatangi PT Pegadaian (Persero) terus bertambah. ”Dalam sehari, cabang atau unit besar yang ada di Mataram, biasa melayani lebih dari 50 orang nasabah. Kalau unit kecil sekitar 30-40 saja,” kata Suciati Triastuti, Asisten Manager Pegadaian Kota Mataram kepada Lombok Post, Senin (10/8/2020).

Paling Sering Dibaca

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Cucu Bupati Pertama Loteng Siap Mengabdi untuk Lombok Tengah

Menjadi satu-satu sosok perempuan, Hj Lale Prayatni percaya diri maju menjadi calon bupati Lombok Tengah. Birokrat perempuan ini ingin membawa perubahan bagi Lombok Tengah ke arah lebih baik. ”Saya terpanggil untuk mengabdi di kampung halaman saya,” kata Hj Lale Prayatni, Minggu (9/8).

Digerebek Polisi, Doyok dan Tutik Gagal Nyabu di Karang Bagu

Terduga pengedar sabu berinisial H alias Doyok ditangkap tim khusus (Timsus) Ditresnarkoba Polda NTB. Dia diringkus bersama seorang perempuan berinisial HT alias Tutik, Jumat sore (7/8) lalu.

Lale Sileng Pilih Yusuf Saleh Sebagai Wakil di Pilbup Loteng

Lale Prayatni memutuskan untuk menggandeng HM Yusuf Saleh. “Ya,” kata Lale singkat saat dihubungi, Minggu (9/8).
Enable Notifications.    Ok No thanks