alexametrics
Senin, 27 Juni 2022
Senin, 27 Juni 2022

Terdakwa Pemerkosa Anak di Lingsar Terancam Hukuman Kebiri

MATARAM-Kasus pemerkosaan anak dengan pelaku bapak berinisial M dan anak lelakinya berinisial A mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Mataram. Sidang perdana Rabu (1/9) dilaksanakan tertutup dan digelar secara virtual dengan agenda pembacaan surat dakwaan.

Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Taufiq Ismail menyebutkan yang pertama kali melakukan tindakan pemerkosaan terhadap korban adalah terdakwa A. Sang kakak menyetubuhi adik perempuannya pada 2019. ”Dilakukan di rumahnya di Lingsar, Lombok Barat,” kata Taufiq dalam sidang itu.

Saat itu, korban sedang duduk sambil membaca buku di dalam kamar. A langsung masuk lalu membekap mulut adiknya dan melakukan tindakan tidak terpuji. ”Korban tidak bisa melawan,” ujarnya.

Atas kejadian tersebut, korban disekolahkan oleh bapaknya berinisial M (juga jadi terdakwa) ke pondok pesantren di Sumatera Barat (Sumbar). Setelah kelas dua SMP, korban diminta pulang.

Sekitar September 2020, korban kembali ke rumahnya. Saat berada di rumah korban mengalami trauma. Takut peristiwa yang menimpanya terjadi lagi.

Baca Juga :  Jual Rumah Panggung Milik Orang Tuanya, Warga Pandansalas Mayura Disel

Apa yang ditakutkan korban terjadi lagi. Sang kakak, A memintanya untuk mengambil pakaian kotor di kamarnya. ”Saat masuk ke kamar. Ternyata baju kotornya tidak ada,” jelasnya.

Tak lama kemudian, A mendorong korban ke kasurnya. Mencekik leher adiknya dan melakukan tindakan tidak senonoh. “Terdakwa A ini sudah dua kali melakukan persetubuhan terhadap korban,” terangnya.

Tidak sampai di situ, sang ayah, terdakwa M juga melakukan tindakan serupa. ”Ayahnya melakukan itu di ruko miliknya,” kata Taufiq.

M memarahi anaknya lalu melempar menggunakan anak timbangan. Mengenai bagian belakang tubuh korban. ”Korban menangis karena kesakitan,” ujarnya.

Saat korban duduk sambil menangis, M mendorong badan korban ke lantai. Lalu melakukan tindakan persetubuhan. ”Korban sempat melawan tetapi terdakwa tetap melakukan tindakannya,” terang Taufiq.

Tindakan tidak terpuji itu dilakukan empat kali dengan waktu dan tempat berbeda. Terakhir dilakukan pada 22 April 2021 di ruko. “Terdakwa mengancam anaknya untuk tidak memberi tahu ibunya,” jelasnya.

Baca Juga :  Lapas Mataram Gagalkan Penyelundupan Bakso Berisi Sabu

Atas perbuatannya, M bersama anak lelakinya A didakwa menggunakan pasal 76 D juncto pasal 81 ayat (1) dan ayat (3) Peraturan Pengganti Undang-undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2016 juncto Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

”Penerapan pasal yang kita gunakan ini sesuai dengan tindakannya. Terkait dengan adanya hukuman kebiri masih dipertimbangkan. Nanti kita ajukan saat penuntutan apakah memungkinkan akan dikebiri atau tidak,” jelas JPU Taufiq Ismail.

Penasihat hukum kedua terdakwa Deni Nur Indra mengatakan pihaknya tidak mengajukan eksepsi dalam perkara tersebut. Pihaknya meminta langsung ke pembuktian. ”Tadi langsung kita hadirkan saksi dari korban. Itu untuk mempercepat proses pembuktian,” kata Deni.

Hasil pemeriksaan di persidangan, korban telah mengakui sesuai dengan dakwaan JPU. Begitu juga dengan pengakuan terdakwa sudah membenarkan. ”Terdakwa sudah mengakui saat dikonfrontir dengan korban di persidangan,” ujarnya. (arl/r1)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/