alexametrics
Jumat, 18 September 2020
Jumat, 18 September 2020

Gawat, Sebulan Tujuh Pembunuhan Sadis Terjadi di NTB

Akhir-akhir ini, kasus pembunuhan sadis marak terjadi. Pemicunya  hanya persoalan sepele. Semisal ketersinggungan dan cemburu.  Para pelaku seperti tak lagi menghargai nyawa orang lain.

===

Polda NTB mencatat, sejak tanggal 28 Januari lalu ada sebanyak tujuh kasus pembunuhan terjadi. Para pelaku yang tersulut emosi tak mampu menahan amarahnya. Hingga tega menghabisi nyawa korban.

Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto mengatakan, kasus pembunuhan terjadi akhir Januari. Pertama kali terjadi di Desa Mbuju, Kilo, Dompu, 28 Januari lalu.

Habibi yang berusia 31 tahun ditusuk pelaku berinisial MS. Penyebabnya hanya kesalahpahaman hingga terjadi cekcok dan Habibi pun dibacok.

Habibi yang memanjat pohon kelapa sudah meminta izin kepada orang tua MS. Tetapi, MS yang menganggap Habibi memanjat pohon kelapanya tanpa izin langsung menegurnya. ”Mereka pun cek-cok di lokasi,” kata Artanto.

MS yang tidak terima dengan perkataan Habibi, pulang mengambil parang. Lalu, dia kembali datang ke lokasi tempat MS memanjat kelapa. MS menusuk dan mengayunan parang ke tubuh korban. ”Korban sempat dilarikan ke Puskesmas. Tetapi, nyawanya tak tertolong,” jelasnya.

“Sekarang pelaku (MS,Red) masih diproses penyidik,” kata dia.

Di hari yang sama juga terjadi kasus pembunuhan. Kejadiannya di Dusun Mangge, Desa Hidirasa, Lambu, Bima.

Yang menjadi korban seorang tukang kebun bernama Anwar. Kejadiannya, sekitar pukul 20.00 Wita.

Saat itu, Anwar yang hendak pergi ke kebunnya dihadang sekelompok warga. Mereka bersenjatakan parang dan tombak.

Lalu Anwar pun dianiaya hingga tewas.  ”Dari sekelompok warga itu, baru pria berinsial SM yang ditetapkan menjadi tersangka,” terangnya.

Dari keterangannya, SM emosi karena dia menduga Anwar adalah dukun santet. Dia menduga, Anwar telah menyantet anak dan cucunya hingga meninggal dunia. ”Penyebabnya hanya kesalahpahaman saja,” ungkapnya.  

Tak berselang lama, pembunuhan kembali terjadi di Desa Lambu, Senin (10/2) lalu. Pelakunya berinisial FS, 30 tahun. Dia membacok mertuanya sendiri M Kasim.”Korban langsung meninggal dunia di tempat,” kata Artanto.

Menurut polisi FS dendam kepada mertuanya lantaran membiarkan istrinya kabur ke luar daerah. ”Dia tidak terima dengan sikap mertuanya yang tidak menahan anaknya (istri pelaku) pergi,” ungkapnya.

Akibatnya, FS langsung mengamuk ke rumah mertuanya. Lalu, membunuh hingga leher mertuanya putus. ”FS sempat buron. Tetapi, sudah ditangkap petugas dan sekarang masih dalam proses penyidikan,” kata dia.

Bergeser ke Kabupaten Sumbawa. Pembunuhan sadis terjadi di salah satu rumah kontrakan di Kelurahan Brang Biji, Jumat (31/1).Siti Aminah, 44 tahun menjadi korban. Suaminya, berinisial MS menjadi pelakunya. ”Dia membunuh karena cemburu dengan istrinya,” kata Artanto.

MS tega memutilasi istrinya. Lalu, menyimpan beberapa bagian tubuh istrinya ke dalam kulkas. ”Begitu cara pelaku menghilangkan jejak,” jelasnya.

MS sempat tidak mengakui dirinya tidak berada di tempat saat kejadian. Syukur ada saksi tetangganya yang berani membuka mulut atas peristiwa tersebut. ”Dari keterangan itu, penyidik menguatkan bukti. Sehingga, peristiwa itu terbongkar,” ungkapnya.

Dua pekan lalu (24/2), kembali terjadi pembunuhan di Desa Bangkat Monteh, Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat. Seorang guru, Muh ditemukan tewas mengenaskan di dekat Bendungan Bangkat Monteh.

Tubuhnya bersimbah darah. Dengan tombak masih menancap di tubuh korban. “Pelakunya berinisial RS. Pelakunya ini juga masih berhubungan keluarga dengan korban,” jelasnya.

RS nekat membunuh Muh lantaran tersinggung dengan perkataan korban. Kejadiannya terjadi saat korban hendak berangkat ke Desa Bangkat Monteh, Brang Rea untuk mengajar.

Ditengah perjalanan, RS bepapasan dengan pelaku. Lalu, cekcok mulut. RS tak mampu menahan emosi lalu menyerang korban.

Terakhir, tiga kasus pembunuhan terjadi di Lombok Barat (Lobar). Pertama, ditemukan mayat seorang perempuan di Dusun Loco, Senggigi. Sampai saat ini, identitas korban belum juga ditemukan.

Kasus kedua terjadi di Dusun Karang Langko, Desa Babussalam, Gerung, Lobar. Korbannya bernama Abdurrahman, 35 tahun. Dia dibunuh dua pelaku berinisial M dan F. ”Pelaku dan korban masih memiliki hubungan keluarga,” jelasnya.

Korban menderita beberapa sayatan dibagian kepala dan tubuhnya. Abdurrahman dibunuh karena adanya dendam pribadi.

Terakhir, pembunuhan terjadi di Desa Aik Nyet, Narmada, Lobar. Tersangka berinisial RA nekat membunuh Adi lantaran istrinya bakal diperkosa. ”Kalau dari pengakuan pelaku, istri pelaku ini pernah mau diperkosa sama korban pembunuhan,” kata Artanto.

Nah, puncak emosi pelaku muncul pada Selasa (18/2). Saat itu, RA bakal mencari durian ke kebun. ”Setiap mencari duren, RA selalu membawa parang,” ucapnya.

Di tengah perjalanan, dia bertemu  korban yang tengah membawa senapan angin. ”Di situ, terjadi cekcok mulut,” jelasnya.

Tanpa pikir panjang, RA langsung melayangkan parang ke wajah korban. Lalu, korban terjatuh dan tewas.

Artanto mengatakan, kasus pembunuhan ini terjadi karena hal sepele. Seharusnya, hal itu, bisa dibicarakan dengan kepala dingin. ”Jangan sampai terjadi main hakim sendiri yang berujung pada pembunuhan,” imbaunya.

Hukuman Bagi Pembunuh Belum Maksimal

Dosen Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram) Prof Amirudin prihatin dengan fenomena pembunuhan yang marak terjadi saat ini. Apalagi penyebabnya hanya persoalan sepele.

Dari sisi kriminologi, ada beberapa faktor yang menyebabkan orang membunuh. Yakni, karena permasalahan emosi yang tidak mampu ditahan, dangkalnya ketakwaan, dan kurangnya hukuman bagi para pembunuh.

Prof Amir mengatakan, tersulutnya emosi menjadi dasar seseorang membunuh. Pelaku sudah tidak memikirkan, hak seseorang untuk hidup. ”Ketika emosi, pelaku tidak bisa lagi berpikir sehat. Dia hanya menginginkan, seseorang yang tempatnya dia marah mati,” ungkapnya.

Para pembunuh memiliki kedangkalan pemahaman terhadap keyakinan agama. Pada dasarnya setiap agama padahal melarang untuk membunuh. ”Saat membunuh, dia sudah tidak memikirkan larangan agama,” jelasnya.

Terakhir, hukuman bagi para pelaku pembunuhan tidak maksimal. Menurutnya, hakim belum berani menggunakan hukuman maksimal bagi para pembunuh. ”Saya lihat, kebanyakan hukumannya dibawah hukuman maksimal,” ujarnya.

Pada pasal 338 KUHP itu hukuman maksimalnya 15 tahun penjara. Tetapi, terkadang para pelaku divonis sepertiga dari hukuman maksimalnya. “Itu yang menyebabkan pelaku pembunuhan itu bisa dengan sadis beraksi,” ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan Babinsa dan Babinkamtibmas harus lebih aktif mensosialisasikan, perbuatan ancaman dengan pidana. Bukan hanya fokus pada jenis kejahatan tertentu saja. ”Hukuman bagi para pembunuh juga harus disosialisasikan. Langkah itu untuk menekan terjadinya tindakan pembunuhan di tiap daerah,” kata dia. (suharli/r2)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Pilwali Mataram, Polres Petakan 12 Potensi Kerawanan

Polresta Mataram memetakan 12 titik potensi kerawanan di Kota Mataram. “Sebenarnya ini kejadian (yang kami himpun) dulu dan pernah terjadi,” kata Wakasat Intelkam Polres Mataram, Ipda Gunarto, kemarin (17/8).

Pilkada Serentak NTB, Potensi Saling Jegal Masih Terbuka

Bawaslu NTB mengantisipasi potensi sengketa usai penetapan Pasangan Calon (Paslon) 23 September mendatang. Baik sengketa antara penyelenggara pemilu dengan peserta dan peserta dengan peserta.

Bukan Baihaqi, Isvie Akan Menangkan HARUM di Pilwali Mataram

Golkar dipastikan solid memenangkan setiap pasangan yang diusung. “Sebagai kader Golkar kita harus loyal (pada perintah pertai),” kata Sekretaris DPD Partai Golkar Provinsi NTB Hj Baiq Isvie Rupaeda.

Gubernur Ingatkan Jaga Kerukunan di Musim Pilkada!

”Partai boleh beda, calon boleh beda, tapi senyum kita harus senantiasa semanis mungkin dengan tetangga-tetangga kita," kata Gubernur NTB H Zulkieflimansyah saat menyapa umat Hindu di Pura Dalem Swasta Pranawa, Abian Tubuh, Kamis (17/9/2020).

Koreksi DTKS, Pemprov NTB Coret 215.627 Rumah Tangga

”Data ini dari hasil verifikasi dan validasi yang dilakukan kabupaten/kota,” kata Kepala Dinas Sosial (Dinsos) NTB H Ahsanul Khalik, Kamis (16/9/2020).

53 SPBU di NTB Sudah Go Digital

”Upaya ini untuk menjawab tantangan di era digital. Pertamina memantau distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) end to end process, yang akan memberikan layanan kepada pelanggan lebih aman, mudah dan cepat,” kata Unit Manager Communication Relations & CSR Pertamina MOR V Rustam Aji, Kamis (17/9/2020).

Paling Sering Dibaca

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Hari Pertama Razia Masker di NTB, Pemda Kumpulkan Denda Rp 9,1 Juta

Sebanyak 170 orang tidak menggunakan masker terjaring razia di hari pertama penerapan sanksi denda bagi pelanggar protokol kesehatan di seluruh NTB, kemarin (14/9). Dari para pelanggar di semua titik operasi ini, Badan Pendapatan Daerah NTB pun mengumpulkan uang sebesar Rp 9,1 juta.

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks