alexametrics
Kamis, 11 Agustus 2022
Kamis, 11 Agustus 2022

Rekrut Anak di Bawah Umur, “Mami PS Senggigi” Diborgol Polisi

GIRI MENANG-Polres Lombok Barat (Lobar) berhasil mengungkap kasus dugaan tindak pidana penjualan orang di wilayah Senggigi. Tiga orang terduga pelaku penjualan orang diringkus karena memperjualbelikan anak di bawah umur menjadi partner song.

“Dari tiga orang yang dipekerjakan, ada dua yang masih di bawah umur,” jelas Kasatreskrim Polres Lobar AKP Dhaffid Siddiq, kemarin (2/3).

Terduga pelaku penjualan anak diduga adalah S (inisial, Red). Perempuan ini diketahui merupakan warga asal Jawa Timur. Ia diketahui bekerja menjadi “Mami” para partner song (PS) di tempat karaoke di Senggigi.

Saat melakukan aksinya, ia dibantu dua asistennya yang juga bekerja di salah satu kafe di Senggigi. Dua asistennya tersebut merupakan pasangan suami istri warga Cianjur Jawa Barat. Merekalah yang menawarkan pekerjaan kepada tiga warga Cianjur dengan dua diantaranya masih di bawah umur.

Baca Juga :  Sengkarut Data Korona NTB, Jumlah Pasien Meninggal Dihilangkan?

“Pelaku menawarkan kepada para korban untuk bekerja di restoran. Tetapi setibanya di Lombok, mereka dipekerjakan sebagai partner song,” beber Dhaffid, sapaannya.

Korban disekap di salah satu tempat penampungan. Saat itulah, kedua korban berusaha melarikan diri sehingga bertemu dengan salah satu satpam yang bekerja di wilayah Senggigi.

“Satpam tersebut yang mengantar mereka ke Polsek Senggigi. Sehingga kami melakukan pengembangan,” jelasnya.

Hasil pengembangan pihak kepolisian, tidak hanya upaya perdagang orang yang dilakukan tiga tersangka. Para pelaku juga nekat memalsukan dokumen kependudukan dengan mengubah usia korban pada KTP-nya.

Pengungkapan kasus dugaan penjualan orang ini pun mendapat atensi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB. Ketua LPA NTB Joko Jumadi membeberkan, ini bukan kali pertama anak di bawah umur dipekerjakan di tempat hiburan Senggigi.

“Dulunya ada kasus PS (Partner Song) yang menggunakan narkoba. Setelah diidentifikasi ternyata dia masih anak-anak. Dokumen KTP-nya dipalsukan,” bebernya.

Baca Juga :  Syarat Masuk Penjara di NTB: Harus Tes Swab PCR

Dari dokumen KTP, usia korban tertera 21 tahun. Namun ketika diminta akta kelahiran atau ijazahnya, usianya ternyata 15 tahun.

Pihak terkait kesulitan membedakan secara fisik usia para partner song. Khususnya yang berusia 15-18 dengan mereka yang berusia 21 tahun. “Sehingga harapan kami pihak Polres Lobar bisa menghukum seberat-beratnya pelaku perdagangan anak yang memperkerjakan anak di bawah umur,” harap Joko, sapaannya.

Dengan kejadian ini, Polres Lobar memberi ancaman terhadap para pemilik tempat hiburan. Agar tidak mempekerjakan anak di bawah umur. “Kami akan tindak tegas,” ancam Kasatreskrim.

Kini para pelaku terancam hukuman kurungan penjara terkait TPPO anak di bawah umur paling singkat tiga tahun dan paling lama 15 tahun. “Sementara korban sudah kami amankan,” tandas Dhaffid. (ton/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/